Teguh Bagus of Veterinary Medicine site v.2

Excellence with Morality

__Sertifikasi dan Prestasi__

    Standart ISO 9001:2008 Kepada Universitas Airlangga oleh British Certification International

_Berbagi tak pernah Rugi_

    Teguh Bagus of Veterinary Medicine site v.2

    ____Hakikat Manusia____

    .: Barang siapa mengenal dirinya, maka ia akan mengenal TuhanNya. Seperti bahasan kita yaitu Awwal- uddin Ma'rifatullah adalah... :. more

    ∞ Akun Facebook & Twitter Kami ∞

..:: Selamat Buat para Pemenang lomba web & blog Mahasiswa Universitas Airlangga Tahun 2015; 1.Mei Budi Utami [FST'12] | 2.Mita Erna Wati [FK'12] | 3.Teguh Bagus Pribadi [FKH'12] | 4.M. Roihan Hanafi [FISIP'12] | 5.Ari Zulaicha [FISIP'12] | 6. Muziburrahman [FPK'14] | => Terimakasih atas kunjungan Anda, jangan lupa kalau mau copy/paste harap cantumkan sumbernya, by : Teguh Bagus Pribadi, http://teguhbaguspribadi-fkh12.web.unair.ac.id, dan Blog ini DIPERBAHARUI sebulan 4x karena kesibukan Perkuliahan ::..

Materi Kuliah - Chikungunya Fever

diposting oleh teguhbaguspribadi-fkh12 pada 04 October 2015
di Materi Kuliah Semester 6 - 0 komentar

CHIKUNGUNYA FEVER

Garry Cores de Vries

=====================================

 

Etiology : RNA genom virus (CHIK) genus Alphavirus (Arbovirus group A), famili Togaviridae. Memiliki hubungan antigenik dengan Mayaro Fever, O’nyong-nyong , Ros River dan Semliki virus (Sindbis).

 

Geographic distribution : Virus ini tersebar di daerah Sahara – Afrika, Asia Tenggara, India dan Filipina (Tesh, 1992).

 

Kejadian pada Manusia : Infeksi endemik di daerah pedesaan. Kejadian epidemi dapat terjadi di alam dan dapat juga terjadi di perkotaan bila banyak penduduknya adalah peka terhadap penyakit ini. Di Afrika Selatan terjadi epidemi setiap tahunnya pada tahun 1975, 1976 dan 1977 (Brighton et al, 1983) Di Ibadan, Negeria wabah penyakit ini pertama kali terjadi tahun 1969 pada anak-anak. Lima tahun kemudian wabah kedua terjadi dengan angka morbiditas tertinggi terjadi pada anak-anak di bawah umur 5 tahun dan yang lebih tua umurnya memiliki kekebalan perolehan. Penyakit ini sering dibingungkan dengan penyakit Dengue karena symptoma klinisnya mirip. Penyakit ini banyak terjadi pada musim hujan ketika populasi vektor Nyamuk mencapai jumlah perkembangan tertinggi.

 

Kejadian pada Hewan : Antibodi terhadap virus CHIK ditemukan pada bangsa kera hijau (Cercopithecus aethiops) dan baboon (Papio ursinus)  di Afrika Selatan. Hasil studi serologis di Kruger National Park, Afrika Selatan, antibodi terhadap virus CHIK ditemukan 50 % pada kera Vervet (Kaschula et al, 1978) . Pada daerah lain di Afrika, reaktor ini ditemukan pada Colobus abyssinicus, chimpanzee, baboon Papio dogueri.

 

Penyakit pada Manusia : Penyakit ini pernah disangka sebagai Dengue, karena virus CHIK baru diisolasi tahun 1955.

Masa inkubasi 4 sampai 7 hari. Gejala penyakit adalah timbul demam tiba-tiba, menggigil, sakit kepala, anorexia, sakit pinggang, konjungtivitis dan kadang-kadang adenopathy. Penderita (60 – 80 %) memperlihatkan adanya lepuh kulit morbilliform dan purpura pada kaki dan tangan. Pengelupasan kulit dapat terjadi setiap 3 – 7 hari. Tanda klinis yang menonjol pada orang dewasa adalah arthropathy sehingga timbul nama Chikungunya (jalan-jalan hingga memar = bhs Swahili). Arthropathy ditandai dengan rasa sakit, pembengkaan, dan kekakuan pada metacarpophalangeal, pergelangan tangan dan kaki, sendi siku, bahu, lutut dan sambungan metatarsal (Kennedy et al, 1980).

Arthropathy timbul 3 – 6 hari setelah symptoma klinis pertama tampak, dan dapat menderita hingga berbulan-bulan sampai tahunan. Namun tidak ada yang mati karena CHIK virus.

 

Penyakit pada Hewan : Symptoma klinis untuk infeksi ini belum dikonfirmasi.

 

Sumber infeksi dan Cara Penularan : Adanya siklus virus diantara hewan liar yang mirip Yellow fever yaitu antara Kera di hutan dan nyamuk Aedes africanus dan A. furcifer-taylori. Kera Cercopithecus aethiops dan Papio ursinus yang mengandung titer viremia tinggi dapat menularkan virus ini kepada Kera Hijau melalui nyamuk secara percobaan laboratorium (McIntosh, 1970). Epizootik dapat terjadi diantara kera yang tidak memiliki kekebalan yang cukup terhadap virus tersebut dan akan terhenti penularannya pada kelompok kera yang memiliki kekebalan yang tinggi terhadap virus CHIK. Manusia yang hidup didekat daerah hutan tersebut dapat juga tertular infeksi ini.

Secara ekosistem kejadian epizootik pada kera di hutan akan memusnahkan semua kera di sana, termasuk virusnya sehingga nyamukpun tidak mengandung virus. Kera liar tidak bertindak sebagai reservoir virus dan bila terjadi wabah lagi hal ini disebabkan karena penularan dari daerah lain. Kejadian epidemi di pedesaan karena adanya siklus Nyamuk – Manusia – Nyamuk. Penderita dengan titer viraemia tinggi akan menularkan pada orang yang peka melalui nyamuk.

 

Diagnosis : Virus dapat diisolasi dari darah penderita demam yaitu virus yang telah diinokulasi secara intra cerebral pada tikus atau dibiakan pada sel VERO.

Diagnosa serologis didasarkan pada pembuktian terhadap serum darah penderita pada saat infeksi akut dan fase penyembuhan dengan menggunakan uji haemagglutination inhibition, neutralization dan complement fixation test.

Bila di daerah endemis infeksi virus CHIK terdapat juga / bersamaan dengan O’nyong-nyong fever maka identifikasi virus mengalami kesulitan, baik isolasi maupun diagnosa serologis karena kedua virus ini secara antigenik sama. Perbedaannya hanya tergantung pada tingginya titer antibody terhadap antigen yang homolog (Filipe and Pito, 1973).

 

Control : Pencegahan epidemi penyakit ini pada daerah pedesaan ditujukan pada pemberantasan terhadap Aedes aegypti. Percobaan vaksinasi berhasil pada tikus dengan menggunakan vaksin yang diinaktifkan dengan formalin namun belum diperbolehkan untuk digunakan pada manusia (White et al, 1972).

 

Sumber: Materi Kuliah Zoonosis Veteriner Fakultas kedokteran Hewan - Universitas Airlangga 2015

 

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :