Teguh Bagus of Veterinary Medicine site v.2

Excellence with Morality

__Sertifikasi dan Prestasi__

    Standart ISO 9001:2008 Kepada Universitas Airlangga oleh British Certification International

_Berbagi tak pernah Rugi_

    Teguh Bagus of Veterinary Medicine site v.2

    ____Hakikat Manusia____

    .: Barang siapa mengenal dirinya, maka ia akan mengenal TuhanNya. Seperti bahasan kita yaitu Awwal- uddin Ma'rifatullah adalah... :. more

    ∞ Akun Facebook & Twitter Kami ∞

..:: Selamat Buat para Pemenang lomba web & blog Mahasiswa Universitas Airlangga Tahun 2015; 1.Mei Budi Utami [FST'12] | 2.Mita Erna Wati [FK'12] | 3.Teguh Bagus Pribadi [FKH'12] | 4.M. Roihan Hanafi [FISIP'12] | 5.Ari Zulaicha [FISIP'12] | 6. Muziburrahman [FPK'14] | => Terimakasih atas kunjungan Anda, jangan lupa kalau mau copy/paste harap cantumkan sumbernya, by : Teguh Bagus Pribadi, http://teguhbaguspribadi-fkh12.web.unair.ac.id, dan Blog ini DIPERBAHARUI sebulan 4x karena kesibukan Perkuliahan ::..

Diktat (Hand Out) Radiologi - Interpretasi Radiografi Thorax dan Abdomen

diposting oleh teguhbaguspribadi-fkh12 pada 04 October 2015
di Materi Kuliah Semester 6 - 0 komentar

Interpretasi Radiografi Thorax dan Abdomen

 Oleh :

 Prof.  Dr. Bambang Sektiari L., DEA., Drh.

Departemen Klinik Veteriner

Fakultas Kedokteran Hewan Unair

===========================================

 

I. Interpretasi Radiografi Regio Thorax    

 

     Interpretasi radiografi pada regio thorax merupakan suatu tahapan diagnostik yang akan sangat membantu jika dilakukan dengan mengembangkan suatu metode interpretasi yang sistematis, walaupun cavum thorax merupakan regio yang cukup komplek namun regio ini memberikan hasil radiografi yang cukup ideal dikarenakan adanya variasi kontras yang cukup kuat antara pulmo yang berisi  udara dengan  jantung dan pembuluh darah besar, jaringan lunak serta sistem ossifikasi yang menyusun struktur anatomi thorax.

     Beberapa hal yang harus diperhatikan dan dipertimbangkan dalam melakukan suatu evaluasi dan interpretasi dari regio thorax antara lain :


A. Teknik dan kualitas film

  1. Cara membaca radiografi : Radiograf sebaiknya diposisikan di atas illuminator dengan posisi sesuai dengan posisi pada saat proses pengambilan foto, agar tidak membingungkan dan tidak mempersulit proses analisis tridimensional yang dilakukan selama interpretasi radiografi yang bersifat bidimensional.
  2. Kualitas radiografi : kualitas ini ditentukan oleh interval kontras yang terbentuk, ada tidaknya artefak, kesalahan-kesalahan teknis  dan kerusakan yang mungkin terjadi pada film.

 

B. Evaluasi pasien

            Evaluasi terhadap pasien meliputi beberapa hal antara lain :

a. Kondisi umum : spesies hewan, ukuran, kondisi fisik, ketebalan dan kebersihan      bulu, kulit dan jaringan sub cutan.

b. positioning pasien :  Pada posisi lateral (sinister atau dexter), thorax inlet dan cranial abdomen harus tercover. Ekstremitas cranial harus ekstensi dan diusahakan tubuh tidak terotasi. Pada posisi ventro-dorsal (dorso-ventral) positioning pasien yang betul ditandai dengan superimposisi sternum line dengan vertebrae thorax dan regio sinister dan dexter dapat dibandingkan dengan mudah.

  1. Kondisi sistem skeletal (axial skeletal maupun apendicular skeletal)
  2. Detail-detail abdomen dan organ-organ yang terletak pada cranial abdomen serta pergeseran-pergeseran yang mungkin terjadi.
  3. Data-data pasien yang tertera pada sudut radiografi sudah lengkap atau belum.

 

 C. Evaluasi Cavum thorax dan organ serta komponen intra thorax.

  1. Pleura dan space interpleura.

Pada umumnya pleura visceral maupun pleura parietal tidak terdeteksi pada radiografi. Sedangkan space interpleura merupakan ruang antar pleura yang kemungkinan dapat terdeteksi pada radiografi jika terisi oleh gas maupun cairan.

  1. Mediastinum : berdasarkan posisi dan letaknya terhadap jantung maka ruang antara  pleura mediastinalis dengan medistinum dapat dibagi menjadi tiga bagian yakni :  mediastinum precardial, mediatinum pericardial dan mediastinum post cardial. Sedangkan berdasarkan pada variasi kontras dan densitas yang dihasilkan pada radiograf  maka organ maupun jaringan yang terdeteksi antara lain : thymus, trachea, janrtung, Vena Cava Caudalis, Vascularisasi regio cranial (Vena Cava Cranial, Pembuluh Subclaviar, brachiocephalic dll.).
  2. Pembuluh mediastinalis mayor dan Saluran nafas
  1.  
    1. Jantung : Merupakan pembuluh darah terbesar dalam cavum thorax dengan batas-batas yang jelas walaupun terdapat area kontak dan superimposisi dengan paru yang terisi oleh udara. Bayangan jantung pada anjing bervarisi tergantung dari breed. Gambaran jantung anjing  yang masih  dalam breed yang sama, tidak terlalu berbeda . Sedangkan pada kucing di samping tergantung dari breed namun variasi individual juga sangat besar.

Pada posisi ventro-dorsal (dorso-ventral) : Batas dasar jantung cranial yang tersusun oleh arcus aorticus,auricularis dexter, vena cava cranial dan truncus a. pulmoner tidak terlihat dengan jelas karena bersuperimposisi dengan gambaran mediastinum. Batas sinister jantung tersusun oleh segment a. pulmoner regio cranial, atrium sinister dan ventrikel sinister yang mendominasi area tersebut. Batas jantung dexter berawal dari pemunculan lembut dari apex ke dasar kanan jantung. Jantung membentuk poros dengan sudut 30 º dengan midline dengan proporsi 30 % terletak sebelah dexter dari midline dan 70 % sebelah sinister midline. Jantung mendominasi hampir separuh dari cavum thorax diukur dari costae ke 9 ke arah cranial. Dari dasar jantung hingga apex terletak antara costae ke 3 hingga costae ke 8.

      Pada posisi lateral perubahan-perubahan posisi jantung dapat diamati berdasarkan  posisi normal komponen penyusun jantung yang dianalogikan dengan posisi jarum jam :

                  Posisi jam 12 .00                     : Aorta

                  Posisi jam 01.00                      : Conus Pulmoner

                  Posisi jam 02.00                      : Atrium sinister

                  Posisi jam 03.00 – 05.00         : Ventrikel sinister

                  Posisi jam 05.00 – 09.00         : Ventrikel dexter

                  Posisi jam 09.00 – 11.00         : Atrium dexter

 

  1.  
    1. Vena Cava Posterior : Muncul dari dexter diafragma disekeliling processus lobus accesoris dari pulmo.
    2. Aorta : Nampak jelas dengan crisp pada arcus dorsalis melewati pulmo sinister dan dexter dengan dikelilingi oleh lemak mediatinalis mengarah caudal ke diafragma.
    3. Segmen Vasculer Cranial :  terletak pada mediastinalis cranial dengan batas-batas yang kabur dan tidak jelas.
    4. Trachea : struktur trachea terlihat dengan jelas oleh ring tracheal yang menyusunnya dan kandungan udara di dalamnya. Dalam proyeksi lateral, secara umum trachea nampak paralel dengan poros cervical dan vertebrae thorax anterior. Kemudian melengkung kearah distal hingga cranial jantung. disekitar dasar jantung, trachea berakhir menjadi bifurcatio (corina), yang biasanya pada radiograf nampak radioluscense. Perpindahan letak trachea dari posisi normalnya mengindikasikan adanya lesi, inflamasi, neoplasia dan kemungkinan pembesaran limfoglandula mediastinalis.
    5. Bronchial tree : Pada Carina trachea bercabang menjadi bronchi utama sinister dan dexter, yang kemudian menyebar menjadi bronchi apical, cardiac, diafragma dan intermediet. Cabang bronchi utama ini nampak pada radiografi karena kontras dari udara yang ada di dalamnya. Gambaran bronchi yang lebih kecil tidak nampak jelas pada radiografi karena dikaburkan oleh pembuluh darah dalam pulmo. Gambaran cabang-cabang bronchi yang lebih kecil dan pembuluh darah dalam pulmo pada radiografi normalnya bersifat dense sehingga sering dikelirukan dengan massa neoplasia kecil. Untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas dan lebih detil dari bronchial tree perlu dilakukan bronchografi.
    6. Pembuluh darah besar lain (Vena dan arteri pulmoner) dalam mediastinum tidak nampak dalam radiograf. Arteri pulmoner muncul dari ventrikel dexter dan melintas pada dorsal aorta. Arteri ini terletak pada anterior sinister dari dasar jantung kurang lebih pada posisi jam 13.00 dan 14.00. Aorta terletak tenggelam pada posisi midline pada posisi jam 11.00 sampai jam 13,00. Arteri pulmoner mengalami bifurcasio ke arah sinister dan dexter pada dasar jantung. Cabang dexter berawal dan melintas secara halus ke arah cranial dan kemudian pada bronchial tree bercabang masuk ke dalam lobus-lobus pulmoner. Cabang sinister berlanjut ke arah dorsal hingga dorsal dari bronchial tree dan menyebar pada lobus sinister pulmo.
  2. Pembuluh darah pada lobus pulmo

Distribusi arteri, vena dan nervus serta pembuluh limfe ke dalam lobus pulmo terjadi secara menyatu dan pembuluh utama dalam lobus pulmo merupakan cabang ke tiga dari arteri dan vena pulmoner. 

 

  1. Pulmo

Pemahaman terhadap struktur lobus pulmoner sangat penting, walaupun pada radiografi normal perbedaan antar lobus tidak tampak. Namun terlihatnya fisura-fisura pada area tersebut dapat mengindikasikan adanya abnormalitas ataupun akumulasi cairan dalam cavum pleura. Lobus intermediate dari pulmo dexter terletak membentang hingga setengah dari thorax sinister dan sering menampakkan garis demarkasi yang tipis yang disebut sebagai ligamentum diafragmatico-pericardial (pada proyeksi dorso-ventral). Parenkim pulmo secara radiologis tidak nampak, namun bentukan lobus nampak oleh adanya kontras yang terjadi karena udara dalam lobus. Kolaps pulmo ditandai dengan peningkatan densitas lobus pulmo dengan batas yang jelas dan hilangnya gambaran bronchial tree ataupu vaskularisasi pada area tersebut. Peningkatan densitas jaringan pulmo disebut dengan konsolidasi pulmo. Konsolidasi jaringan pulmo dapat mengindikasikan terjadinya inflamasi, akumulasi cairan, neoplasia dan kelainan-kelainan yang lain pada pulmo.


 D. Penyakit jantung dan pembuluh darah

  1. Congestive Heart Failure (CHF)
    1. Left Heart Failure : terjadi karena kegagalan jantung mengatur volume darah balik dari sirkulasi pulmoner. Ditandai dengan terjadinya kongesti vena pulmoner dan odema pulmoner dan pada radiograf terlihat cardiomegali bagian sinister atau cardiomegali umum.
    2. Right Heart Failure : terjadi karena kegagalan jantung untuk memompa darah balik dari sirkulasi sistemik. Ditandai denga kongesti vena sistemik, kongesti visceral dan pada radiograf  nampak tanda-tanda ascites, efusi pleura (pada anjing cenderung ascites dan pada kucing cenderung terjadi efusi pleura), cardiomegali dexter atau cardiomegali umum.
  2. Penyakit jantung kongenital
    1. Patern Ductus Arteriosus (PDA) secara radiografi tampak pembesaran ventrikel sinister, atrium sinister, arteri pulmoner, aorta dan tanda-tanda CHF sinister.
    2. Stenosis Katup Pulmoner secara radiografi tampak cardiomegali dexter,  arteri pulmoner dapat tampak normal atau menyempit dan tanda-tanda CHF dexter.
    3. Stenosi Katup Aortik secara radiografi tampak pembesaran pada ventrikel sinister, arcus aorticus dan atrium sinister, bayang-bayang jantung tampak memanjang dan kadang-kadang disertai tanda-tanda CHF sinister.     
    4. Ventricular Septal Defect (VSD) secara radiografi tampak pembesaran ventrikel dexter, atrium dexter, arteri pulmoner dan tanda-tanda CHF sinister.
  3. Penyakit jantung dapatan (Aquired Heart Diseasse)
    1. Heartworm disease (Dirofilaria immitis) dengan tanda radografi berupa pembesaran ventrikel dexter, atrium dexter dan arteri pulmoner serta tampak tanda-tanda CHF dexter. Arteri pulmoner tidak tampak jelas dan kabur dan ditandai dengan area konsolidasi pada pulmo. 
    2. Canine Dilated Cardiomyopathy dengan tanda radiografi cardiomegali umum dengan tanda-tanda CHF sinister, CHF dexter atau CHF umum.
    3. Feline Cardiomyopathy terjadi dilatasi dan hipertropi jantung pada kedua sisi (sama dengan pada anjing).
    4. Feline Hypertrophic Cardiomyopathy ditandai dengan pembesaran atrium, kadang-kadang pembesaran biventrikuler yang disertai tanda-tanda CHF sinister dan efusi pleura.
    5. Insufisiensi katup atrio-ventrikuler sinister atau dexter merupakan kelainan yang sering ditemukan pada hewan tua, bisa terjadi sendiri-sendiri atau bersamaan dan ditandai dengan cardiomegali umum. CHF dexter atau sinister.
    6. Insufisiensi katub mitral  ( katub Atrio-ventrikular sinister) dengan tanda-tanda pembesaran jantung sinister (atrium atau ventrikel) dan tanda-tanda CHF sinister.
  4. Penyakit pericardial
    1. Efusi pericardial pada kondisi akut seringkali tidak dapat dideteksi malalui radografi, sedang pada kondisi kronis memberikan gambaran cardiomegali yang mengesankan bentukan spiral dan disertai hilangnya detail jantung dan tampak tanda-tanda CHF dexter.
    2. Hernia Diafragmatica Pericardial-peritoneal dengan tanda-tanda menyerupai efusi pericardial dan disertai gambaran gas dalam intestinal dan seringkali terjadi deformitas sternum dan perpindahan letak organ visceral yang lain(microliver).

 E. Penyakit pada Pleura dan Rongga Mediastinum

  1. Penyakit pada rongga mediastinum dapat berupa pneumomediastinum, massa intra mediastinal dan hidromediastinum.
  2. Penyakit pada rongga pleura
    1. Pneumothorax dalam gambaran radiografi terlihat peningkatan densitas lobus pulmoner karena kolaps pulmo (atelectasis) dan disertai gambaran gas dalam rongga pleura yang berasal dari saluran pencernaan, infiltrasi udara dari luar, rupture pulmo maupun hasil fermentasi bakteri. Pada  proyeksi lateral tampak gambaran gas disekeliling tepi lobus dan sering terlihat pergeseran posisi jantung ke arah dorsal.
    2. Hidrothorax menunjukkan adanya akumulasi cairan dalam rongga pleura yang bisa disebakan karena infeksi, kelainan jantung, kerusakan pembuluh darah atau perdarahan. Radografi hanya bermanfaat untuk konfirmasi adanya cairan dengan tanda-tanda under exposed pada radiografi disertai dengan hilangnya detail umum thorax  dan terangkatnya lobus pulmo ke arah dorsal.

 F. Interpretasi Radiografi dari Penyakit- Penyakit Pulmoner

            Untuk melakukan interpretasi secara tepat dari penyakit-penyakit pulmoner pada radiografi rongga thorax perlu diperhatikan beberapa hal yaitu :

  1. Tanda-tanda radiografi yang ditimbulkan oleh penyakit pulmoner :
  1.  
    1.  
      1. Harus dapat dibedakan dengan gambaran radiografi yang timbul karena penyakit-penyakit ekstrapulmoner, misalnya penyakit ekstrathorax, penyakit pada pleura dan mediastinum.
      2. Terjadinya penurunan atau peningkatan radioopasitas.
      3. Hilangnya atau kaburnya gambaran anatomi normal system cardio-pulmoner :

- Hilangnya detail secara umum

- Hilangnya detail pada bagian-bagian tertentu

- Penurunan dari ukuran pembuluh darah

  1.  
    1.  
      1. Muncul dan menajamnya detail-detail yang seharusnya tidak tampak, misalnya adanya pembesaran pembuluh darah atau batas-batas yang tampak melebar.
      2. Perpindahan struktur normal dari : cardio-vasculer, trachea dan bronchus, vaskularisasi pulmoner dan diafragma.
      3. Munculnya pola-pola yang berbeda dari perubahan-perubahan yang terjadi pada pulmo, perubahan-perubahan tersebut dapat berupa :

- Pola vaskuler : terjadi pembesaran , penyempitan atau kekaburan struktur vaskuler

- Pola bronchial : terjadi kalsifikasi, dilatasi maupun penebalan

- Pola interstitial : terjadi nodular-nodular terstruktur atau tidak terstruktur

- Pola alveolar : terjadi peningkatan radioopasitas parenkim pulmo

- Pola campuran

         b. beberapa contoh kasus penyakit pulmoner

               Walaupun beberapa kasus penyakit pulmoner dapat dideteksi dengan radiografi, namun seharusnya dikonfirmasi lagi dengan pemeriksaan klinis yang lain, sehingga diagnosis dapat ditegakkan secara menyeluruh.

  1. Pneumonia interstitial : tanda-tanda radiografi yang tampak antara lain adanya perubahan pulmo dengan pola interstitial tidak berstruktur, hilangnya detail pembuluh darah dan air ways, hilangnya detail dan struktur mediastinum secara progresif, terjadinya peribronchial cuffing, pada kasus lanjut ditemukan perubahan dengan pola alveolar disertai dengan peningkatan opasitas dan hilangnya detail pada hylus yang mengindikasikan terjadinya lymphadenopathy.
  2. Tracheo-bronchitis : tanda-tanda  radiografi yang tampak adalah peningkatan radioopasitas dari dinding upper pulmonary air ways. Pembuluh darah pada air ways tidak terlihat dan detail-detail dari sebagian besar pembuluh darah mediastinum menghilang. Struktur alveoli dan interstitial pulmo tampak normal dan terlihat perubahan dengan tanda-tanda bronchiectasis.
  3. Bronchopneumonia : tanda-tanda radiografi yang tampak adalah adanya peningkatan opasitas dan hilangnya detail sebagian besar area dari hylus pulmoner dan dasar jantung. Terjadi peningkatan opasitas parsial dari lobus pulmoner dan konsolidasi serta hilangnya sebagian gambaran normal  vaskularisasi bronchial baik pada area medistinum atau pada cabang-cabangnya pada lobus pulmoner. Perubahan pada lobus pulmoner dapat bersifat campuran antara pola alveolar dan interstitial.
  4. Pneumonia Purulen Kronis : tanda-tanda radiografi yang tampak adalah peningkatan opasitas dan hilangnya detail pada dasar jantung dan hylus pulmoner, terjadi konsolidasi pulmo dengan gambaran  noduler yang tidak terstruktur dan bersifat multiple, terjadi bronchiectasis dan detail mediastinum dapat  terlihat normal atau mengabur.

 

II. Gambaran Radiografi Diafragma

            Pada kondisi normal garis diafragma nampak jelas oleh adanya kontras antara rongga thorax yang berisi udara pada bagian cranial dengan hepar yang tampak radioopaque pada bagian caudal. Namun karena secara anatomis diafragma berbentuk elips maka perlu diperhatikan bahwa garis ini memproyeksikan bagian cranial dari diafragma, sedangkan bagian perifer diafragma membentang jauh ke caudal.

            Gambaran radiografi dari garis diafragma bervariasi tergantung dari fase respirasinya. Hal ini tampak paling jelas pada radiografi dengan proyeksi lateral di mana pada fase ekspirasi garis diafragma berbentuk elips dan setengah bagian  ventral dari garis ini superimposisi dengan bagian  caudal jantung, sedangkan setengah bagian ke arah dorsal dari garis ini berbentuk menyudut kearah caudal setara dengan procesus spinosus dari vertebrae thorax X atau XI. Pada fase inspirasi, bentuk elips dari garis ini hilang dan garis diafragma relative lurus dan tidak superimposisi dengan jantung.

            Pada proyeksi dorso-ventral garis diafragma tampak berstruktur agak bilobus dan tampak bahwa kedua sisi tidak sama. Sisi dexter  tampak membentuk sudut yang tajam dan membentang jauh lebih cranial dibandingkan denga sisi sinister. Perubahan-perubahan yang sering tejadi pada diafragma atau organ-organ di sekitarnya ditandai dengan perubahan letak garis diafragma maupun kesulitan dalam mengidentifikasi garis diafragma (misalnya adesi, rupture atau tekanan cairan atau massa pada rongga thorax atau abdominal).

 

III. INTERPRETASI  RADIOGRAFI   REGIO ABDOMINAL

            Interpretasi radiografi region abdominal dapat dilakukan secara sistematik dengan mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut :

  1. Karakter pasien, preparasi pasien, positioning pasien dan kualitas radiografi yang dihasilkan.
  2. Anatomi normal abdomen antara lain, bulu dan kulit, tebal tipisnya jaringan sub kutan, ada tidaknya cairan, system skeletal dan struktur organ-organ intra- abdominal.
  3. Adanya variasi normal dari struktur anatomis region abdominal :

-          Pada organ-organ spesifik : ukuran,  permukaan dan bayangan yang terbentuk.

-          Ada tidaknya perpindahan organ-organ visceral

-          Perbedaan radioopasitas antar organ atau jaringan

            Untuk tujuan diagnostik dan untuk mendapatkan informasi secara lengkap dan detail dari gambaran radiografi yang dihasilkan, maka penggunaan cairan kontras sangat dianjurkan.


A. Anatomi Radiografi  Regio Abdominal

  1. Rongga peritoneal : detail dari gambaran radiografi rongga peritoneal tergantung dari rasio lemak dan cairan, umur, kondisi hidratasi dan kandungan atau isi pada cavum abdominal

  2. Retroperitoneal : tampak lebih jelas dengan peningkatan deposit  lemak.
  3. Liver :  - terproyeksi sedikit di caudal dari arcus costalis

                  - lobus sinister lateral lebih tervisualisasi

                  - lobus quadratus  tampak sedikit berbeda

                  - terangkat kearah dorsal oleh akumulasi lemak pada ligamentum

                     falciformis.

  1. Lien / limpa :

-          pada proyeksi ventro-dorsal, corpus lien tampak sebagai bentukan radioopaque berbentuk triangular menempel pada dinding abdomen sinister di area costae terakhir.

-          Pada proyeksi lateral, bagian distal lien tampak di medio-ventral abdomen di bagian dorsal dari m. rectus sebagai sebuah bentukan triangular radiopaque dan bagian cranial terletak di area ventral ari ginjal sinister. Posisi ini dapat berubah tergantung dari adanya perubahan-perubahan pada splenic dan distensi dari gaster.

  1.  Ginjal :

-          terletak pada ruang retroperitoneal antara vertebrae thorax XII - XIII dan vertebrae lumbal IV – V.

-          Ginjal dexter lebih cranial dibandingkan ginjal sinister dan terletak di dalam fossa renalis pada lobus caudatus liver.

-          Ginjal sinister lebih caudal dan ventral dibandingkan ginjal dexter.

-          Batas  caudal ginjal dexter dan batas cranial ginjal sinister sering tampak superimposisi pada proyeksi lateral.

-          Ginjal kucing lebih mobile dibandingkan  anjing.

-          Ukuran ginjal anjing berkisar antara 2,5 – 3,5 kali panjang vertebrae lumbal II dengan bentuk bulat memanjang dengan permukaan yang halus. Ukuran ginjal kucing berkisar antara 2,5 – 3 kali panjang vertebrae lumbal II dengan bentuk lebih bulat. (Pada proyeksi ventro-dorsal ).

  1. Lymphoglandula abdominal : pada kondisi normal tidak terdeteksi pada radiografi.
  2. Pelvic inlet : colon, prostate, uterus dan vesica urinaria.
  3. Gaster :

-          Fundus dan corpus meliputi anterior sinister kuadrant fossa hepatica

-          Curvatura mayor melintang pada bagian caudal sesuai dengan distensibilitas gaster.

-          Gambaran batas pylorus  sedikit mengarah pada dexter dari midline.

-          Pylorus dan cardia secara relative terfiksasi pada posisi tetap.

-          Gas dalam gaster  bergerak sesuai dengan positioning pasien.

-          Pada proyeksi lateral, aksis gaster terletak sejajar dengan costae

-          Batas cranial gaster dan diafragma sinister bergerak kea rah cranial pada recumbency latero-sinister

i.   Duodenum

-          Bagian  cranial duodenum dan junction pyloro-duodenalis didapatkan pada area costae IX –X

-          Flexura cranial duodenum meliputi kuadrant cranial dexter dari abdomen dan berkontak dengan liver

-          Pars descenden duodenum terfiksasi oleh mesoduodenum sepanjang dinding dexter abdomen  mengarah ke caudal hingga vertebrae lumbal V – VI. Perlekatan pancreas dapat ditemukan pada permukaan dorso-medial (sisi mesenterical).

-          Flexura caudal, duodenum transversal kurang terfiksasi dan berputar ke arah midline pada vertebrae lumbal V – VI.

-          Pars ascenden dari midline berjalan kea rah cranial sinister yang berhimpit dengan colon descenden  yang selanjutnya bergerak kearah ventral pada junction duodeno-jejenum.

  1. Jejenum – Ileum

Jejenum dan ileum merupakan bagian terbesar dari small intestinal. Bagian ini didukung oleh mesenterium yang panjangdan relatif mobil pada central abdomen. Tidak nampak jelas pembagian antara jejenum dengan ileum. Bagian ini berakhir di ileocolic junction. Bagian ini membentuk gambaran yang berlekuk-lekuk pada bagian ventromedial dari abdomen.

k. Caecum : biasanya terletak pada dexter dan di dalam loop duodenal antara vertebrae lumbal II – IV. Pergeseran ke arah cranial atau caudal  tergantung pada distensi yang terjadi pada colon.

l. Colon : terdiri dari colon ascenden, transversal dan descenden. Pada plain radiografi, colon nampak dengan opasitas yang bervariasi. Pada proyeksi lateral, colon berjalan kurang lebih sejajar dengan vertebrae. Pada proyeksi ventro-dorsal, colon ascenden terletak pada sisi dexter dari midline dan colon descenden pada bagian sinister.

m. Rectum : Merupakan bagian terminal dari colon yang berawal dari pelvic inlet dan berakhir di anus


 B. Interpretasi radiografi dari abnormalitas pada abdomen.

            Beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk mengetahui abnormalitas pada abdomen antar lain :

            a.       Densitas : yakni dengan cara membandingkan radioopasitas yang terjadi pada jaringan, organ atau lesi.

            b.      Pergeseran/perpindahan posisi  :

-    Pengamatan terhadap lokasi dari suatu struktur, jaringan  atau organ yang mengalami pembesaran atau pengecilan ataupun kelainan lainnya sangatlah penting. Adanya suatu massa lesional yang bersifat pembesaran menyebabkan pergeseran dari jaringan atau organ menjauh dari pusat lesi, sedangkan pengecilan atau atrophy jaringan atau organ akan menyebabkan pergeseran dari jaringan atau organ dari pusat lesi.

-    Pergeseran ke caudal dari gaster dan visceral menyebabkan axis gaster juga bergeser ke caudal; hal ini disebabkan misalnya karena hepatomegali, neoplasia dan distensi gaster. 

-     Pergeseran ke arah cranial dari gaster dan visceral menyebabkan axis gaster juga bergeser ke arah cranial; hal ini dapat disebabkan misalnya karena microliver, syndrome portosystemic shunt dan hernia diafragmatica.

-    Pergeseran ke arah caudal  dari intestinal serta perpindahan ke arah cranial dari gaster dan colon transversal dapat disebabkan oleh adanya massa pada sentral abdomen, massa pada mesenterical root, dan pembesaran pada pancreas.

-    Perpindahan ke arah ventral dari visceral dapat disebabkan karena adanya pembesaran ginjal, adanya massa atau abses pada retroperitoneal.

-    Perpindahan kearah dorsal dari visceral dapat disebabkan oleh splenomegali, massa pada ovarium, monorchid atau cryptorchid.

-    Perpindahan visceral ke cranial atau dorso-cranial dapat disebabkan karena misalnya oleh retensi urine, hyperthropy prostate, pembesaran uterus atau hernia diafragmatica.

  1. Identifikasi massa abdominal : massa dengan batas yang jelas dan opasitas yang meningkat mudah teridentifikasi, sedangkan massa dengan batas yang tidak jelas disertai dengan opasitas yang tidak terlalu berubah sulit dikenali dan dapat dideteksi dengan mengamati pergeseran dari organ-organ visceral yang ada disekitarnya.

C. Interpretasi radiografi dari peritoneum dan rongga peritoneal

      Evaluasi dari regio ini dapat dilakukan dengan melakukan pengamatan terhadap batas-batas serosa   yang berkaitan erat dengan sedikit banyaknya akumulasi lemak.

-    Hilangnya visualisasi batas-batas serosa dapat berkaitan dengan sedikitnya lemak abdominal (anjing muda, emasiasi ), adanya massa atau materi yang bersifat radioopaque, maupun kompresi isi abdomen (massa intra abdominal).

-    Hidroperitoneum yang dihasilkan oleh efusi cairan intra peritoneal, menyebabkan hilangnya detail-detail serosa yang superimposisi dengan massa homogen radioopaque.

-    Peritonitis fokal atau difus menyebabkan hilangnya batas-batas serosa dengan permukaan peritoneal yang tampak granuler, small intestinal secara moderat berdilatasi dan kadang-kadang ditemukan adanya udara intraperitoneal.


D. Interpretasi radiografi tractus gastrontestinal

      Plain radiografi untuk tujuan diagnostik dari tractus gastrointestinal sebenarnya kurang memadai. Bahan-bahan kontras sebaiknya digunakan untuk mendapatkan informasi yang lebih lengkap dan detail dari abnormalitas fungsional maupun structural dari tractus gastrointestinal. Bahan kontras yang dapat digunakan antara lain : udara, cairan iodine dan suspensi barium.    

      Beberapa abnormalitas yang dapat dideteksi melalui radiografi antara lain :

-          Oesophagus : megaoesophagus, oesophagitis kronis, corpora aliena intra oesophagal, stricture oesophagus, intussusepsi gastro-oesophagus, hernia hiatus

-          Gaster : produksi gas berlebih, dilatasi dan volvulus, obstruksi pylorus, ulcer, neoplasia, perforasi dan corpora aliena.

-          Small intestinal : ileus mekanik atau fungsional, trauma atau inflamasi, corpora aliena dan intussusepsi.

-          Large intestinal : megacolon, konstipasi, obstipasi, intussusepsi, neoplasia dan colitis, diverticulum rectum.


 E. Interpretasi radiografi tractus genito-urinarius

      Plain radiografi pada tractus ini tidak dapat memberikan informasi yang memadai dan tidak dapat memberikan visualisasi yang lengkap terhadap perubahan kondisi fungsional atau structural. Penggunaan larutan iodine secara intra vena dapat digunakan sebagai media kontras. Injeksi udara dari caudal ke dalam vesica urinaria, vagina dan uterus mungkin dapat menggunakan larutan tersebut atau penggunaan keduanya dapat dikombinasikan.

-          Ginjal : kelainan yang terjadi akibat penyakit degeneratif mungkin dapat diinterpretasikan secara radiografi antara lain : penyakit ginjal tahap akhir, calculi renalis, dystrophy mineralisasi, anomaly congenital, neoplasia, nephritis dan nephrosis, pyelonephritis dan hydronephrosis.

-          Ureter : Secara normal tidak terlihat secara radiografi, namun kelainan yang dapat diamati antara lain : calculi ureter, anomaly congenital, ureterectasia, rupture ureter.

-          Vesica urinaria : secara normal dalam radiografi terdiribdari tiga bagian yaitu vertex, corpus dan trigone. Lokasi vesica terletak cranial os. Pubis (cranial prostate pada hewan jantan). Pada proyeksi lateral biasanya tampak distensi karena urine di dalamnya. Bentuk tergantung dari spesies (tipis dengan leher panjang pada kucing). Cytografi kontras dapat berupa negative kontras, positif kontras atau double kontras. Penyakit yang dapat diinterpretasikan secara radiografi antara lain cystic calculi, anomaly vesica, neoplasia, cystitis baik akut, kronis atau emfisematosus, perforasi dan rupture vesica.

-          Urethra : penyakit yang dapat diinterpretasikan secara radiografi antara lain stenosis, calculi dan rupture urethra.

-          Prostate :  sering tidak terdeteksi dan terdeteksi jika mengalami hiperplasi, hypertrophy, inflamasi atau neoplasia.

-          Organ reproduksi betina : perlu difahami struktur anatomi normal. Pada kondisi non gravid (normal), tidak tidak dapat teridentifikasi secara radiografi. Sedangkan pada kondisi gravid, endometritis, pyometra atau neoplasia akan tampak pembesaran dari uterus.                    

 

Daftar Pustaka 

 1. Thrall DE, 2002,  Textbook of Veterinary Diagnostic Radiology, 3th ed. Saunders W  B Co. Pennsylvania

2. Kealy JK,  1987.; Diagnostic Radiology of the Dog and Cat.., 2nd ed. W.B. Saunders W B Co. Pennsylvania

3. Owens JM, 1982. Radiographic Interpretation for the Small Animal Clinician. Ralston Purina Co. Missouri.

 

Sumber :  Interpretasi Soft Tissue (Hand Out) oleh Prof.  Dr. Bambang Sektiari L., DEA., Drh. -  Departemen Klinik Veteriner - Fakultas Kedokteran Hewan Unair

 

ooooooooo Bamsekti ooooooooo

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :