Teguh Bagus of Veterinary Medicine site v.2

Excellence with Morality

__Sertifikasi dan Prestasi__

    Standart ISO 9001:2008 Kepada Universitas Airlangga oleh British Certification International

_Berbagi tak pernah Rugi_

    Teguh Bagus of Veterinary Medicine site v.2

    ____Hakikat Manusia____

    .: Barang siapa mengenal dirinya, maka ia akan mengenal TuhanNya. Seperti bahasan kita yaitu Awwal- uddin Ma'rifatullah adalah... :. more

    ∞ Akun Facebook & Twitter Kami ∞

..:: Selamat Buat para Pemenang lomba web & blog Mahasiswa Universitas Airlangga Tahun 2015; 1.Mei Budi Utami [FST'12] | 2.Mita Erna Wati [FK'12] | 3.Teguh Bagus Pribadi [FKH'12] | 4.M. Roihan Hanafi [FISIP'12] | 5.Ari Zulaicha [FISIP'12] | 6. Muziburrahman [FPK'14] | => Terimakasih atas kunjungan Anda, jangan lupa kalau mau copy/paste harap cantumkan sumbernya, by : Teguh Bagus Pribadi, http://teguhbaguspribadi-fkh12.web.unair.ac.id, dan Blog ini DIPERBAHARUI sebulan 4x karena kesibukan Perkuliahan ::..

OBAT GINJAL (DIURETIK)

diposting oleh teguhbaguspribadi-fkh12 pada 17 November 2012
di Materi Kuliah Semester 3 - 2 komentar

Apa Itu Diuretik?

  • Diuretik adalah obat yang dapat menambah kecepatan pembentukan urine

Penggolongan Diuretik:

  1. Diuretik Osmotik
  2. Penghambat transport elektrolit di tubuli ginjal
  3. Penghambat karbonik anhidrase
  4. Benzotiadiazid
  5. Diuretik hemat kalium
  6. Diuretik kuat


Diuretik Osmotik

  • Diuretik osmotik → meningkatkan osmaliritas plasma dan cairan dalam tubulus ginjal → Na, Cl, K, air diekresikan

Indikasi:

  • Payah ginjal, menurunkan tekanan intra kranial (edema otak), menurunkan tekanan intraokuler (glaukoma)

Sediaan: manitol, urea

Indikasi:

  • Oliguria akut akibat syok hipovolemik
  • Reaksi transfusi
  • Profilaksis GGA
  • Menurunkan tekanan/volume intraokuler/ cairan cerbrospinal

Sediaan:

  • Manitol: 5-25% iv → 1,5-2 g/Kg BB
  • Urea: 30% dalam D5 → 1-1,5 g/Kg BB
  • Gliserin 50%/75% → 1-1,5g/Kg BB
  • Isosorbid → 1-3 g/Kg BB


Cara Kerja Diuretik
Diuretik osmotik:

  • Tubuli proksimal → penghambatan reabsorbsi Na dan air melalui daya osmotiknya
  • Ansa Henle → penghambatan reabsorbsi Na dan air oleh karena hipertonisitas daerah medula menurun
  • Ductus koligentis → penghambatan reabsorbsi Na dan air akibat adanya papilary wash out, kecepatan aliran filtrat yang tinggi atau adanya faktor lain


Penghambat enzim karbonik anhidrase: (H + HCO3 → H2CO3)

  • Peningkatan pengeluaran Na, K dan bikarbonat

Diuretik hemat kalium:

  • Mengganggu pompa Na-K yang dikontrol ADH (Na ditahan, K diekresi) → K direabsorpsi, Na diekskresi


Tiazid:

  • Hulu tubuli distal → penghambatan terhadap reabsorbsi natrium klorida

Diuretik kuat:

  • Ansa Henle bagian ascenden pada bagian dengan epitel tebal → penghambatan terhadap transport elektrolit Na, K, Cl


Penghambat Karbonik Anhidrase

  • Karbonik anhidrase adalah enzim yang mengkatalisis C02 + H2O → H2CO3
  • Contoh penghambat karbonik anhidrase adalah: Asetazolamid
  • Asetazolamid → menghambat enzim KA → Sekresi H+ oleh tubuli berkurang → meningkatnya ekskresi bikarbonat, Na dan K melalui urine → meningkatnya sekresi elektrolit → meningkatkan ekskresi air

 

  • Asetazolamid → menghambat pembentukan cairan bola mata → dapat digunakan untuk glaukoma
  • Asetazolamid → dapat digunakan untuk mengobati epilepsi (efek asidosis)
  • Mudah diserap saluran cerna, dosis optimum 2 jam
  • Intoksikasi jarang terjadi

 

  • Asetazolamid → mempermudah terjadinya batu ginjal
  • Efek merugikan: demam, reaksi kulit, depresi sumsum tulang dan lesi renal, disorientasi mental
  • Asetazolamid → sebaiknya tidak diberikan pada wanita hamil
  • Indikasi: glaukoma, acute mountain sickness


Sediaan:

  • Asetazolamid: tablet 125 mg dan 250 mg, dosis 250 – 500 mg per hari
  • Diklorofenamid: Tablet 50 mg


Benzotiadiazide

  • Benzotiadiazide atau Tiazid → efek utamanya meningkatkan ekskresi Na, Cl dan sejumlah air
  • Efek diatas disebabkan penghambatan mekanisme reabsorbsi elektrolit pada hulu tubuli distal
  • Menurunkan TD → efek diuresis dan vasodilatasi
  • Pada Diabetes insipidus → menurunkan diuresis (mekanisme belum jelas)

 

  • Efek pada ginjal → mengurangi kecepatan filtrasi glomerulus
  • Efek kaliuresis → akibat bertambahnya natriuresis
  • Tiazid berfungsi menghambat ekskresi asam urat → (1) meningkatkan reabsorbsi asam urat di tubuli proksimal; (2) menghambat ekskresi asam urat oleh tubuli

 

  • Absorbsi di saluran cerna baik, distribusi ke seluruh ekstrasel, dapat melewati sawar uri, ditimbun di jaringan ginjal saja

Efek samping:

  • Intoksikasi jarang terjadi
  • Reaksi alergi (karena penyakitnya sendiri): purpura, dermatitis, fotosensitive dan kelainan darah
  • Kadar Na, K, Cl diperiksa berkala
  • Memperberat insufisiensi ginjal


Indikasi:

  • Payah jantung ringan – sedang
  • Pada pengobatan digitalis kombinasi dengan diuretik hemat K → mencegah hipokalemi dan intoksikasi digitalis
  • Hipertensi
  • Diabetes insipidus


Sediaan dan Dosis Tiazid



Diuretik Hemat Kalium
Yang termasuk diuretik hemat kalium:

  • Antagonis aldosteron
  • Triamteren
  • Amilorid


Antagonis Aldosteron

  • Aldosteron atau mineralokortikoid → memperbesar reabsorbsi Na dan Cl di tubuli serta memperbesar ekskresi K
  • Mekanisme kerja antagonis aldosteron adalah penghambatan kompetitif terhadap aldosteron
  • Penyerapan di saluran cerna 70%
  • Efek toksik: hiperkalemia
  • Efek samping ginekomasti, efek androgen, gejala saluran cerna

 

  • Indikasi: hipertensi, udem, digunakan bersama diuretik lain untuk mengurangi efek hipokalemi
  • Sediaan dan dosis:
  • Tablet 25, 50, 100 mg
  • Dosis dewasa: 25 – 100 mg
  • Kombinasi tetap: spironolakton 25 mg dan HCT 25 mg atau spironolakton 25 mg dan tiabutazid 2,5 mg


TRIAMTEREN DAN AMILORID

  • Efek: memperbesar ekskresi Na dan Cl, ekskresi K berkurang, ekskresi bikarbonat tetap
  • Absorbsi melalui saluran cerna baik
  • Efek toksik: hiperkalemia
  • Efek samping: mual, muntah, kejang kaki, pusing

 

  • Indikasi: udema

Sediaan dan dosis:

  • Triamteren; kapsul 100 mg, dosis: 100 – 300 sehari
  • Amilorid: Tablet 5 mg, dosis: 5 – 10 mg
  • Kombinasi tetap: amilorid 5 mg dengan HCT 50 mg dalam bentuk tablet dosis 1 – 2 tablet sehari


Diuretik Kuat

  • Yang termasuk diuretik kuat: asam etakrinat, furosemid, bumetanid
  • Mudah diserap dalam saluran cerna

Efek samping:

  • Reaksi toksik → gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit
  • Nefritis interstitialis alergik (akibat furosemid dan tiazide) → gagal ginjal reversibel
  • Asam etakrinat → ketulian

 

  • Penggunaan klinik: udema akibat gangguan jantung, hati dan ginjal

Sediaan dan dosis:

  • Asam etakrinat: tab 25, 50 mg, dosis: 50 – 200 mg per hari
  • Furosemid: tab 20, 40, 80 mg, dosis: < 600 mg per hari
  • Bumetanide: tab 0,5 dan 1 mg, dosis: 0,5 – 2 mg sehari


Indikasi Diuretik

  • Udem paru → diuresis cepat (furosemid atau asam etakrinat)
  • Udem → semua diuretik
  • Hipertensi → HCT lebih baik
  • Diabetes insipidus → HCT
  • Batu ginjal → HCT
  • Hiperkalsemia → Furosemid


Efek Samping Diuretik

  • Hipokalemia: tiazid, furosemid
  • Hiperuresemia: semua diuretik
  • Gangguan toleransi glukose dan diabetes: tiazid dan furosemid
  • Hiperkalsemia: tiazid
  • Hiperkalemia: diuretik hemat kalium
  • Sindrome udem idiopatik: diuresis kuat
  • Volume deplesion: diuretik kuat
  • Hiponatremia: furosemid


ADH (Anti Diuretik Hormon)

  • ADH: anti diuretik hormon = vasopresin
  • Tempat kerja ADH di ductus koligen → meningkatkan permiabilitas membran thd air
  • Efek kardiovaskuler: vasokonstriksi
  • ADH per oral tidak efektif → dirusak oleh tripsin → diberikan iv, im, sk
  • Efek samping: vasokonstriksi, hipertensi, kulit pucat, peristaltik usus meningkat

 

  • Penggunaan klinik: diabetes insipidus

Sediaan dan dosis:

  • Vasopresin=Pitresin → suntikan 20U/ml dalam ampul 0,5 dan 1 ml (im dan sk)
  • Vasopresin tanat: 5U/ml (im)
  • Bubuk hipofisis posterior: insuflasi hidung
  • Lipresin: semprot hidung 50 U/ml
  • Desmopresin acetat: lar 0,1 mg/ml dalm botol 2,5 ml (intranasal)


Benzotidiazid

  • Klorotiazid dan tiazid telah diketahui dapat digunakan untuk diabetes insipidus
  • Mekanisme belum jelas
  • Penggunaan klinik: dibanding ADH, benzotiazid kurang efektif untuk diabetes insipidus → berguna bagi penderita yang alergi terhadap ADH
  • Dosis: klorotiazid: 1 – 1,5 g/hr, hidroklorotiazid 50 – 150 mg/hari

 

  • Penghambat Sintesis Prostaglandin
  • Indometasin → efektif untuk diabetes insipidus nefrogen
  • Cara kerja belum jelas
  • Ibuprofen kurang efektif dibanding indometasin


DIURETIK (HCT/Furosemid)

Farmakodinamik:

  • Absorpsi: GI: H cepat, F 65-75%
  • Distribusi: PP: H: 65%, F: 95%
  • Metabolisme: t ½ : H: 6-15 jam, F: 30-50 menit
  • Eliminasi: ginjal


Farmakodinamik:

  • H: PO: M: <2jam, P: 3-6jam, L: 6-12jam
  • F: PO: M: < 1jam, P: 1-2 jam, L: 6-8jam
  • IV: M: 5 menit, P: 20-30 menit, L: 2jam


Efek terapeutik:

  • Menurunkan volume darah dan menambah ekskresi Na, sehingga menurunkan tekanan darah

Efek samping:

  • Pusing, vertigo, sakit kepala, mual, muntah, diare

Reaksi merugikan:

  • Dehidrasi berat, hipotensi nyata, trombositopenia, agranulositosis

Kontraindikasi:

  • Payah ginjal, penurunan elektrolit


PROSES KEPERAWATAN DIURETIK

Pengkajian Perencanaan
Pengkajian:

  • Kaji tanda vital, elektrolit serum
  • Periksa edema pitting
  • Periksa bunyi nafas (cairan paru)

Perencanaan:

  • Edema tungkai hilang 1 minggu
  • Hasil lab elektrolit normal (penggantian K mungkin diperlukan)


Intervensi Keperawatan

  • Pantau tanda vital (TD, denyut jantung) → syock
  • Panatau BB klien
  • Pantau volume urine
  • Pantau hasil lab (elektrolit serum, gula, asam urat, BUN (blood urea nitrogen)
  • Periksa tanda: hipokalemia (lemah otot, BU ↓, aritmia, bingung)


Penyuluhan

  • Pertahankan nutrisi, kurangi garam, tingkatkan makanan kaya K (pisang, kacang, daging, ikan)
  • Pantau klien minum digoksin dan HCT → keracunan digitalis (bradikardi)
  • Panatau klien DM dengan HCT → hipoglikemia
  • Pelan2 bangun dari tidur ke berdiri


Referensi

  1. Deglin, Vallerand, 2005, Pedoman Obat Untuk Perawat, Jakarta, EGC
  2. Ganiswarna, 1995, Farmakologi dan Terapi, Jakarta, FKUI
  3. Kee, Hayes, 1996, Farmakologi Pendekatan Proses Keperawatan, Jakarta, EGC

2 Komentar

Maulana Malik Ibrahim

pada : 02 July 2013


"bloggmu keramen bro,, loadingnya lama..
tapi good job."


Teguh Bagus Pribadi

pada : 04 July 2013


"Suwun brooo,,, sepurane, aku arep ngurangi lali kode WidgetNya :D"


Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :