Teguh Bagus of Veterinary Medicine site v.2

Excellence with Morality

__Sertifikasi dan Prestasi__

    Standart ISO 9001:2008 Kepada Universitas Airlangga oleh British Certification International

_Berbagi tak pernah Rugi_

    Teguh Bagus of Veterinary Medicine site v.2

    ____Hakikat Manusia____

    .: Barang siapa mengenal dirinya, maka ia akan mengenal TuhanNya. Seperti bahasan kita yaitu Awwal- uddin Ma'rifatullah adalah... :. more

    ∞ Akun Facebook & Twitter Kami ∞

..:: Selamat Buat para Pemenang lomba web & blog Mahasiswa Universitas Airlangga Tahun 2015; 1.Mei Budi Utami [FST'12] | 2.Mita Erna Wati [FK'12] | 3.Teguh Bagus Pribadi [FKH'12] | 4.M. Roihan Hanafi [FISIP'12] | 5.Ari Zulaicha [FISIP'12] | 6. Muziburrahman [FPK'14] | => Terimakasih atas kunjungan Anda, jangan lupa kalau mau copy/paste harap cantumkan sumbernya, by : Teguh Bagus Pribadi, http://teguhbaguspribadi-fkh12.web.unair.ac.id, dan Blog ini DIPERBAHARUI sebulan 4x karena kesibukan Perkuliahan ::..

OBAT KARDIOVASKULER

diposting oleh teguhbaguspribadi-fkh12 pada 17 November 2012
di Materi Kuliah Semester 3 - 0 komentar

OBAT KARDIOVASKULER

  • Obat kardiovaskuler: adalah obat yang digunakan untuk kelainan jantung dan pembuluh darah
  • Obat kardiovaskuler dibedakan:
  1. Obat Antiangina
  2. Obat Antiaritmia
  3. Obat Glikosida
  4. Obat Antihipertensi


Anti Angina

  • Antiangina adalah obat untuk angina pectoris (ketidak seimbangan antara permintaan (demand) dan penyediaan (supply) oksigen pada salah satu bagian jantung
  • Penyebab angina:
  • Kebutuhan O2 meningkat → exercise berlebihan
  • Penyediaan O2 menurun → sumbatan vaskuler


Cara kerja Antiangina:

  • Menurunkan kebutuhan jantung akan oksigen dengan jalan menurunkan kerjanya. (penyekat reseptor beta)
  • Melebarkan pembuluh darah koroner → memperlancar aliran darah (vasodilator)
  • Kombinasi keduanya


Obat Antiangina:

  1. Nitrat organik
  2. Beta bloker
  3. Calsium antagonis


Farmakodinamik
Khasiat farmakologik:

  • Dilatasi pembuluh darah → dapat menyebabkan hipotensi → sinkop
  • Relaksasi otot polos → nitrat organik membentuk NO → menstimulasi guanilat siklase → kadar siklik-GMP meningkat → relaksasi otot polos (vasodilatasi)
  • Menghilangkan nyeri dada → bukan disebabkan vasodilatasi, tetapi karena menurunya kerja jantung

 

  • Pada dosis tinggi dan pemberian cepat → venodilatasi dan dilatasi arteriole perifer → tekanan sistol dan diastol menurun , curah jantung menurun dan frekuensi jantung meningkat (takikardi)
  • Efek hipotensi terutama pada posisi berdiri → karena semakin banyak darah yang menggumpul di vena → curah darah jantung menurun

 

  • Menurunya kerja jantung akibat efek dilatasi pembuluh darah sistemik → penurunan aliran darah balik ke jantung
  • Nitrovasodilator menimbulkan relaksasi pada hampir semua otot polos: bronkus, saluran empedu, cerna, tetapi efeknya sekilas → tidak digunakan di klinik


Farmakokinetik

  • Metabolisme nitrat organik terjadi di hati
  • Kadar puncak 4 menit setelah pemberian sublingual
  • Ekskresi sebagian besar lewat ginjal


Sediaan dan Posologi

  • Untuk serangan, baik digunakan sediaan sublingual: isosorbit dinitrat 30%: 2,5 – 10 mg dan nitrogliserin 38%: 0,15 – 0,6 mg
  • Untuk pencegahan digunakan sediaan per oral: kadar puncak 60 – 90 menit, lama kerja 3 – 6 jam
  • Par enteral (IV) baik digunakan untuk vasospasme koroner dan angina pectoris tidak stabil, angina akut dan gagal jantung kongestif
  • Salep untuk profilaksis: puncak 60 menit, lama kerja 4 – 8 jam


Sediaan
Nitrat kerja singkat (serangan akut)

  • Sediaan sublingual (nitrogliserin, isosorbit dinitrat, eritritil tetranitrat)
  • Amil nitrit inhalasi

Nitrat kerja lama:

  • Sediaan oral (nitrogliserin, isosorbit dinitrat, eritritil tetranitrat, penta eritritol tetranitrat)
  • Nitrogliserin topikal (salep 2%, transdermal)
  • Nitrogliserin transmucosal/buccal
  • Nitrogliserin invus intravena


Efek Samping

  • Efek samping: sakit kepala, hipotensi, meningkatnya daerah ischaemia

Indikasi:

  1. Angina pectoris
  2. Gagal jantung kongestif
  3. Infark jantung


Beta Blocker

  • Beta bloker adalah obat yang memblok reseptor beta dan tidak mempengaruhi reseptor alfa
  • Beta Bloker menghambat pengaruh epineprin → frekuensi denyut jantung menurun
  • Beta bloker → meningkatkan supply O2 miokard → perfusi subendokard meningkat


Farmakodinamik

  • Beta bloker menghambat efek obat adrenergik, baik NE dan epi endogen maupun obat adrenergik eksogen
  • Beta bloker kardioselektif artinya mempunyai afinitas yang lebih besar terhadap reseptor beta-1 daripada beta-2
  • Propanolol, oksprenolol, alprenolol, asebutolol, metoprolol, pindolol dan labetolol mempunyai efek MSA (membrane stabilizing actvity) → efek anastesik lokal

 

  • Kardiovaskuler: mengurangi denyut jantung dan kontraktilitas miokard
  • Menurunkan tekanan darah
  • Antiaritmia: mengurangi denyut dan aktivitas fokus ektopik
  • Menghambat efek vasodilatasi, efek tremor (melalui reseptor beta-2)
  • Efek bronkospasme (hati2 pada asma)
  • Menghambat glikogenolisis di hati
  • Menghambat aktivasi enzim lipase
  • Menghambat sekresi renin → antihipertensi


Farmakokinetik

  • Beta bloker larut lemak (propanolol, alprenolol, oksprenolol, labetalol dan metoprolol) diabsorbsi baik (90%)
  • Beta bloker larut air (sotolol, nadolol, atenolol) kurang baik absorbsinya
  • Sediaan
  • Kardioselektif: asebutolol, metoprolol, atenolol, bisoprolol
  • Non kardioselektif: propanolol, timolol, nadolol, pindolol, oksprenolol, alprenolol

Contoh Obat Beta Blocker:

  1. Propanolol: tab 10 dan 40 mg, kapsul lepas lambat 160 mg
  2. Alprenolol: tab 50 mg
  3. Oksprenolol: tab 40 mg, 80 mg, tab lepas lambat 80 mg
  4. Metoprolol: tab 50 dan 100 mg, tab lepas lambat 100 mg
  5. Bisoprolol: tab 5 mg
  6. Asebutolol: kap 200 mg dan tab 400 mg
  7. Pindolol: tab 5 dan 10 mg
  8. Nadolol: tab 40 dan 80 mg
  9. Atenolol: tab 50 dan 100 mg


Efek Samping

  • Akibat efek farmakologisnya: bradikardi, blok AV, gagal jantung, bronkospasme
  • Sal cerna: mual, muntah, diare, konstipasi
  • Sentral: mimpi buruk, insomnia, halusinasi, rasa capai, pusing, depresi
  • Alergi; rash, demam dan purpura

Dosis lebih: hipotensi, bradikardi, kejang, depresi

Indikasi Dan Kontraindikasi

  • Indikasi: angina pectoris, aritmia, hipertensi, infark miokard, kardiomiopati obstruktif hipertropik, feokromositoma (takikardi dan aritmia akibat tumor), tirotoksikosis, migren, glaukoma, ansietas
  • Kontra indikasi: Penyakit Paru Obstruktif, Diabetes Militus (hipoglikemia), Penyakit Vaskuler, Disfungsi Jantung


Calsium Antagonis

  • Nama lain Ca antagonis = Calcium entry blocker = Calcium channel blocker
  • Macam:
  • Dihidropiridin: nifedipin, nikardipin, felodipin, amlodipin
  • Difenilalkilamin: verapamil, galopamil, tiapamil
  • Benzotizepin: diltiazem
  • Piperazin: sinarizin, flunarizin
  • Lain-lain: prenilamin, perheksilin


Farmakodinamik

  • Ion ca diperlukan untuk kontraaksi otot polos dan jantung
  • Ca antagonis → menghambat masuknya Ca kedalam membran sel (sarkolema) → kontraksi menurun
  • Mekanisme antiangina:
  • Vasodilatasi perifer
  • Pengurangan kontraktilitas miokard
  • Penurunan frekuensi jantung


Farmakokinetik

  • Nifedipin, verapamil dan diltiazem mudah larut dalam lemak  mudah diabsorbsi pada pemberian po dan sublingual

Dosis:

  • Nifedipin (3x10-20mg),
  • Verapamil (3x80-120mg) dan
  • Diltiazem (3-4x60mg)

Efek Samping

  • Nyeri kepala berdenyut
  • Muka merah
  • Pusing
  • Edema perifer
  • Hipotensi
  • Takikardia
  • Kelemahan otot
  • Mual
  • Konstipasi
  • Gagal jantung
  • Syok kardiogenik


Glikosida Jantung

  • Digitalis berasal dari daun Digitalis purpurea
  • Digitalis adalah obat yang meningkatkan kontraksi miokardium
  • Digitalis mempermudah masuknya Ca dari tempat penyimpananya di sarcolema kedalam sel →digitalis mempermudah kontraksi
  • Digitalis menghambat kerja Na-K-ATP-ase → ion K didalam sel menurun → aritmia (diperberat jika dikombinasi dengan HCT)


Farmakodinamik

  • Efek pada otot jantung: meningkatkan kontraksi
  • Mekanisme kerjanya:
  • Menghambat enzim Na, K ATP-ase
  • Mempercepat masukanya Ca kedalam sel
  • Efek pada payah jantung: menurunya tekanan vena, hilangnya edema, meningkatnya diuresis, ukuran jantung mengecil
  • Konstriksi vaskuler, sal cerna (mual, muntah, diare), nyeri pada tempat suntukan (iritasi jaringan)


Farmakokinetik

  • Absorbsi dipengaruhi makanan dalam lambung, obat (kaolin, pectin) serta pengosongan lambung
  • Distribusi glikosida lambat
  • Eliminasi melalui ginjal


Intoksikasi

  • Keracunan biasanya terjadi karena:
  • Pemberian dosis yang terlalu cepat
  • Akumulasi akibat dosis penunjang yang terlalu besar
  • Adanya predisposisi keracunan

Dosis berlebihan

  • Gejala: sinus bradikardi, blokade SA node, takikardi ventrikel, fibrilasi ventrikel, gangguan neurologik (sakit kepala, letih, lesu, pusing, kelemahan otot), penglihatan kabur


Sediaan

  • Tablet Lanatosid C (cedilanid) 0,25 mg
  • Digoksin 0,25 mg
  • Beta-metildigoksin 0,1 mg


Anti Hipertensi

  • Obat yang dipergunakan untuk menurunkan tekanan darah

Obat Antihipertensi dibedakan:

  1. Diuretik
  2. Beta bloker
  3. Alfa bloker
  4. Ca antagonist
  5. Penghambat ACE
  6. Penghambat saraf sentral
  7. Vasodilator


Klasifikasi HT



Tahapan Terapi HT

  • Modifikasi pola hidup:
  • Penurunan BB
  • Aktivitas fisik teratur
  • Pembatasan garam dan alkohol
  • Berhenti merokok

Pilihan antihipertensi

  • Diuretik atau beta bloker
  • Penghambat ACE, antagonis Ca, alfa bloker, alfa,beta bloker


Diuretik

  • Cara kerja: meningkatkan ekskresi Na, Cl dan air → mengurangi volume plasma dan cairan ekstrasel → tekanan turun
  • Efek samping: hipokalemia, hipomagnesemia, hiponatremia, hiperuresemia, hiperkalsemia, hiperglikemia, hiperkolesterolemia, dan hipertrigliseridemia → mengurangi efek dengan dosis rendah dan pengaturan diet

 

  • Diuretik tiazid: Hidroklorotiazid, Klortalidon, Bendroflumetiazid, Indapamid, Xipamid
  • Diuretik kuat: furosemid
  • Diuretik hemat kalium: Amilorid, Spironolakton


Beta Blocker

Cara kerja:

  • Pengurangan denyut jantung dan kontraktilitas miokard → curah jantung berkurang
  • Hambatan pelepasan NE (nor epineprin) melalui hambatan reseptor beta-2
  • Hambatan sekresi renin melalui hambatan reseptor beta-1 di ginjal
  • Efek sentral


Alfa Blocker

  • Alfa-1 bloker menghambat reseptor alfa-1 di pembuluh darah terhadap efek vasokontriksi NE dan E → terjadi dilatasi arteriole dan vena → tekanan turun
  • Efek NE di jantung tidak dihambat → kontraksi jantung meningkat → alfa bloker yang non selektif tidak efektif sbg AH
  • Efek samping: hipotensi ortostatik (pada dosis awal besar), sakit kepala, palpitasi, rasa lelah, udem perifer, hidung tersumbat, nausea

Contoh:

  • Doxazosin
  • Prazosin
  • Terazosin
  • Bunazosin


Alfa beta bloker: Labetalol

Penghambat ACE

  • Mengurangi pembentukan A2 (angiotensin2) → vasodilatasi dan penurunan sekresi aldosteron → ekskresi natrium dan air serta retensi K → penurunan TD
  • Efek samping: batuk kering, rash, gangguan pengecap (disgeusia), GGA, hiperkalemia


Contoh Penghambat ACE

  1. Kaptopril
  2. Lisinopril
  3. Enalapril
  4. Benazepril
  5. Delapril
  6. Fosinopril
  7. Kinapril
  8. Perindopril
  9. Ramipril
  10. Silazapril


Calsium Antagonis

  • Ca antagonis → menghambat masuknya Ca kedalam membran sel (sarkolema) → kontraksi menurun → TD menurun
  • Gol dihidropiridin (nifedipin, nikardipin, isradipin, felodipin, amlodipin): bersifat vaskuloselektif → (1) tidak ada efek pd nodus AV dan SA, (2) menurunkan resistensi perifer tanpa depresi fungsi jantung, (3) relatif aman dlm kombinasi dng beta bloker
  • Efek samping: hipotensi berlebihan, takikardi, palpitasi, sakit kepala, pusing, muka merah


Adrenolitik Sentral

  • Adrenolitik sentral (alfa-2 agonis): Metildopa, Klonidin, Guanfasin
  • Klonidin, metildopa, guanfasin, guanabenzin adalah obat AH yang bekerja menghambat perangsangan neuron adrenergik di SSP → denyut jantung lambat → TD turun

Efek samping:

  • Klonidin: mulut kering, sedasi
  • Metildopa: mulut kering, sedasi, hipotensi postural, pusing, sakit kepala


Penghambat Saraf Adrenergik

  • Penghambat saraf adrenergik: Reserpin, Rauwolfia (akar), Guanetidin, guanadrel
  • Reserpin dan Alkaloid Rauwolfia →mengurangi resistensi perifer, denyut jantung dan curah jantung → TD turun
  • Efek samping: bradikardi, mulut kering, diare, mual, muntah, anoreksia, bertambahnya nafsu makan, hiperasiditas lambung, mimpi buruk, depresi mental, disfungsi seksual


Vasodilator

  • Vasodilator: Hidralazin, Minoksidil, Diazoksid, Na Nitroprusid
  • Merelaksasi otot polos → vasodilatasi → TD turun
  • Hidralazin menurunkan TD diastol > TD sistol dengan menurunkan resistensi perifer → lebih selektif mendilatasi arteriole daripada vena → hipotensi postural jarang terjadi
  • Efek samping: retensi Na dan air, sakit kepala, takikardi


Referensi

  1. Deglin, Vallerand, 2005, Pedoman Obat Untuk Perawat, Jakarta, EGC
  2. Ganiswarna, 1995, Farmakologi dan Terapi, Jakarta, FKUI
  3. Kee, Hayes, 1996, Farmakologi Pendekatan Proses Keperawatan, Jakarta, EGC

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :