Teguh Bagus of Veterinary Medicine site v.2

Excellence with Morality

__Sertifikasi dan Prestasi__

    Standart ISO 9001:2008 Kepada Universitas Airlangga oleh British Certification International

_Berbagi tak pernah Rugi_

    Teguh Bagus of Veterinary Medicine site v.2

    ____Hakikat Manusia____

    .: Barang siapa mengenal dirinya, maka ia akan mengenal TuhanNya. Seperti bahasan kita yaitu Awwal- uddin Ma'rifatullah adalah... :. more

    ∞ Akun Facebook & Twitter Kami ∞

..:: Selamat Buat para Pemenang lomba web & blog Mahasiswa Universitas Airlangga Tahun 2015; 1.Mei Budi Utami [FST'12] | 2.Mita Erna Wati [FK'12] | 3.Teguh Bagus Pribadi [FKH'12] | 4.M. Roihan Hanafi [FISIP'12] | 5.Ari Zulaicha [FISIP'12] | 6. Muziburrahman [FPK'14] | => Terimakasih atas kunjungan Anda, jangan lupa kalau mau copy/paste harap cantumkan sumbernya, by : Teguh Bagus Pribadi, http://teguhbaguspribadi-fkh12.web.unair.ac.id, dan Blog ini DIPERBAHARUI sebulan 4x karena kesibukan Perkuliahan ::..

Emerging Zoonosis

diposting oleh teguhbaguspribadi-fkh12 pada 22 May 2013
di Materi Kuliah Semester 5 - 0 komentar

Emerging Zoonosis Bersumber Satwa Liar
Beberapa tahun terakhir perdagangan satwa liar semakin marak di dunia yang dipengaruhi antara lain oleh perubahan gaya hidup dan ekonomi.  Perdagangan tersebut bersifat lokal, regional, dan internasional, baik secara legal maupun illegal.  Dari aspek kesehatan hewan dan manusia, hal tersebut memicu penyebaran dan penularan penyakit yang mengancam manusia, peternakan, perdagangan internasional, perekonomian, populasi satwa liar asli, dan kesehatan lingkungan.
Sebanyak 30.2% penyebab utama tingkat kesakitan dan kematian pada manusia dan 25% kematian global berasal dari penyakit menular (WHO 2000).  Zoonosis (penyakit yang dapat ditularkan dari hewan ke manusia) merupakan mayoritas dari penyakit menular yang menimbulkan tingkat kesakitan dan kematian pada manusia (Katare dan Kumar 2010).  Sebanyak 1415 mikroorganisme penyebab penyakit pada manusia telah diidentifikasi, yang terdiri dari 217 virus dan prion, 538 bakteri dan riketsia, 307 cendawan (fungi), 66 protozoa, dan 287 cacing.  Dari 1415 mikroorganisme tersebut, 868 (61.3%) mikroorganisme bersifat zoonotik.  Sebanyak 175 dari 1415 (12.4%) mikroorganisme tersebut terkait penyakit  infeksius baru (emerging infectious disease/EID) dan yang muncu kembali (reemerging infectious disease/REID).  Dari 175 mikroorganisme mikroorganisme EID/REID, 132 (75%) bersumber pada hewan atau bersifat zoonotik (Taylor et al. 2001).  Selanjutnya, sekitar 60.3% dari 335 EID dan REID selama 60 tahun terakhir disebabkan oleh agen penyakit zoonotik, yang 71.8% di antaranya bersumber di satwa liar (Cunningham 2005;  Jones et al. 2008).
Satwa liar telah diketahui berperan dalam peningkatan kejadian penyakit menular pada manusia.  Satwa liar sebagai sumber (reservoar) utama berkembangnya penyakit menular dan zoonosis pada manusia dan hewan domestic (Daszak et al. 2000;  Kruse et al. 2004).   
Kepentingan dan pengetahuan mengenai satwa liar sebagai reservoar semakin meningkat karena zoonosis yang bersumber satwa liar menyebabkan permasalahan utama kesehatan masyarakat di dunia (Kruse et al. 2004). 
Secara umum, zoonosis bersumber satwa liar dapat dikategorikan menjadi dua, yaitu (1) penyakit bersumber satwa liar yang penularannya jarang terjadi, namun jika sekali terjadi maka penularan antara manusia dan manusia dapat berlangsung selama beberapa periode waktu atau secara permanen, contohnya AIDS oleh HIV, influenza A, virus Ebola, dan SARS; dan (2) penyakit bersumber satwa liar yang penularannya secara langsung dan/atau diperantarai vektor, contohnya rabies, virus Nipah, virus West Nile, Hantavirus, lyme borreliosis, plague, tularemia, leptospirosis, dan ehrlichiosis (Bengis et al. 2004).
Sebagai contoh emerging zoonosis yang bersumber satwa liar adalah infeksi virus Ebola.  Infeksi virus tersebut pertama kali terjadi di bagian barat daya Sudan dan Republik Demokratik Kongo tahun 1976 (Shakespeare 2009).  Virus Ebola memiliki tingkat kematian tinggi pada manusia karena memiliki subtipe yang berbeda-beda (Leroy et al. 2004).  Kasus infeksi virus Ebola yang terjadi pada manusia dikaitkan dengan penanganan karkas gorilla, simpanse, atau duiker (Sylvicapra grimmia), dan kontak langusng manusia dengan hewanmati (Bengis et al. 2004). 
Contoh lain emerging zoonosis yang bersumber pada satwa liar yang ditularkan melalui vektor caplak adalah lyme borreliosisLymve borreliosis disebabkan oleh sprirochaeta Borrelia burgdorferi yang ditularkan melalui caplak Ixodes ricinus di Eropa dan Ixodes scapularis dan Ixodes pacificus di Amerika Utara.  Siklus silvatik menjadikan inang dan reservoir tetap pada mamalia liar kecil, rodensia, dan burung pemakan tanah di area endemik.  Perubahan ekologi pada lahan pertanian, deforestasi, dan perkembangan populasi manusia menyebabkan peningkatan populasi rodensia sebagai reservoir, yang diiringi dengan peningkatan populasi caplak sebagai vektor.  Kasus pertama lyme borreliosis pada manusia terjadai tahun 1970-an di Amerika Utara, yang menyebabkan gangguan kulit, sistem saraf, jantung, dan persendian.  Contoh reemerging zoonosis bersumber satwa liar adalah rabies, Rift Valley fever, virus Marburg, bruselosis, bovine tuberculosis, tularemia, plague, dan leptospirosis (Bengis et al. 2004).  Agen patogen yang berinduk semang pada satwa liar memiliki risiko relative (relative risk) lebih tinggi dalam kemunculan penyakit baru (emerging disease) daripada agen patogen yang memiliki sebaran induk semang yang terbatas (Cleaveland et al. 2007).
Faktor risiko yang memicu munculnya emerging zoonosis dan reemerging zoonosis antara lain: (1) faktor mikroorganisme yang terkait dengan agen;  inang atau reservoir dan manusia yang terinfeksi dapat menghasilkan jenis baru (varian baru) yang dapat menembus barrier spesies lain;  (2) faktor perubahan lingkungan yang merupakan hasil dari kerusakan (degradasi) lingkungan, demografi manusia dan hewan, perubahan pola pertanian, introduksi spesies asing, dan perubahan iklim;  (3) faktor perilaku sosial dan budaya, seperti kebiasaan makan, kepercayaan, dan agama;  (4) faktor ekonomi (WHO/FAO/OIE 2004).  Sebagian besar faktor tersebut erat kaitannya dengan faktor risiko antropogenik atau berasal dari manusia.
Deforestasi hutan tropis menyebabkan peningkatan kontak antara satwa liar dan manusia (terutama pemburu).  Penebangan hutan secara sekaligus (clear-cut logging) kurang menyebabkan kemunculan zoonosis dibandingkan dengan tebang pilih (selective extraction) karena terjadinya kontak antara manusia dan satwa liar relatif kurang pada penebangan hutan sekaligus dibandingkan dengan tebang pilih.  Praktik tebang pilih dapat menjaga kelestarian kegaman hayati satwa liar dibandingkan dengan penebangan hutan sekaligus, yang berarti juga menjaga keragaman patogen zoonotik potensial bagi manusia (Wolfe et al. 2005).
Faktor risiko lain yang terkait dengan kemunculan zoonosis bersumber satwa liar adalah peningkatan konsumsi daging satwa liar (bushmeat) di beberapa belahan dunia, terutama Afrika Tengah dan lembah Sungai Amazon.  Wabah virus Ebola di Afrika bagian barat dikaitkan dengan konsumsi daging simpanse yang telah mati, trikinelosis dikaitkan dengan konsumsi daging rusa yang dimasak kurang matang, dan hepatitis E yang menyebabkan kematian pada pemburu di Jepang terkait dengan konsumsi babi liar (Chomel et al. 2007).  Bushmeat monyet menularkan parasit gastrointestinal, seperti Trichuris sp., Entamoeba coli, Strongyloides fulleborni, dan Ancylostoma spp. di Kamerun.  Kelelawar sering dimanfaatkan juga sebagai bushmeat untuk dikonsumsi.  Kelelawar memiliki peran signifikan bagi kesehatan karena berperan sebagai inang reservoar beberapa virus (Calisher et al. 2005), seperti virus Hendra, virus Nipah, dan rabies (Krauss et al. 2003).
Di Afrika, pemanfaatan satwa liar, seperti cane rat hingga gorilla, untuk dijadikan makanan manusia.  Peningkatan perdagangan bushmeat dipicu oleh kebudayaan, politik, dan ekonomi (Karesh dan Noble 2009).  Di Asia Timur dan Tenggara, puluhan juta satwa liar didatangkan tiap tahun dari regional dan seluruh dunia untuk makanan atua penggunaan obat tradisional.  Diperkirakan lebih dari 1 miliar kilogram bushmeat diperdagangkan di Aftika Tengah baik untuk konsumsi lokal dan regional, sedangkan di lembah Sungai Amazon diperdagangkan 67 hingga 164 kilogram bushmeat dengan jumlah mamalia yang dikonsumsi sebanyak 6.4 juta hingga 15.8 juta ekor (Karesh et al. 2005).
Risiko munculnya zoonosis yang disebabkan oleh perburuan dan konsumsi daging satwa liar semakin menjadi perhatian global karena terkait dengan peningkatan populasi manusia, perdagangan global, dan kontak antara manusia dan hewan.  Perburuan satwa liar oleh manusia dapat membawa risiko perpindahan patogen antar spesies (Wolfe et al. 2005).
Pustaka
Bengis RG, Leighton FA, Fischer JR, Artois M, Mörner T, Tate CM.  2004.  The role of wildlife in emerging and re-emerging zoonoses.  Rev sci tech Off int Epiz. 23(2):497-511.
Calisher CH, Childs JE, Field HE, Holmes KV, Schountz T.  2006.  Bats: important reservoir hosts of emerging viruses.  Clin Microbial Rev. 19(3):531-545.
Chomel BB, Belotto A, Meslin FX.  2007.  Wildlife, exotic pets, and emerging zoonoses.  Emerg Infect Dis. 13(1):6-11.
Cleaveland SC, Haydon DT, Taylor L. 2007.  Overviews of Pathogen Emergence: Which Pathogens Emerge, When and Why?  Dalam: Childs JE, MackenzieJS, Ticht JA, editor, Wildlife and Emerging Zoonotic Diseases: The Biology, Circumstances and Concequencies of Cross-Species Transmission.  Berlin: Springer.  Hlm 85-111.
Cunningham AA.  2005.  A walk on the wild side – emerging wildlife diseases.  Brit Med J. 331:1214-1215.
Daszak P, Cunningham AA, Hyatt AD.  2000.  Emerging infectious diseases of wildlife – threats to biodiversity and human health.  Sci. 287:443-449.
Jones KE, Patel NG, Levy MA, Storeygard A, Balk D, Gittleman JL, Daszak P.  2008.  Global trends in emerging infectious disease.  Nature 451:990-993.
Katare M, Kumar M.  2010.  Emerging zoonoses and their determinants.  Vet World. 3(10):481-486.
Krauss H, Weber A, Appe M, Enders B, Isenberg HD, Schiefer HG, Slenczka W, von Graevenitz A, Zahner H.  2003.  Zoonoses:  Infectious Diseases Transmissible from Animals to Humans.  Washington, DC: ASM Pr.
Leroy EM, Rouquet P, Formenty P, Souquière S, Kilbourne A, Froment JM, Bermenjo M, Smit S, Karesh W, Swanepoel R, Zaki SR, Rollin PE.  2004.  Multiple Ebola virus transmission events and rapid decline of Central Africa wildlife.  Sci. 303:387-390.
Karesh WB, Cook RA, Bennett EL, Newcomb J.  2005.  Wildlife trade and global disease emergence.  Emerg Infect Dis. 11(7):1000-1002.
Karesh WB, Noble E.  2009.  The bushmeat trade: increased opportunities for transmission of zoonotic disease.  Mt Sinai J Med. 76:429-434.
Shakespeare M.  2009.  Zoonoses.  Ed ke-2.  London: Pharmaceutica Pr.
Taylor LH, Latham SM, Woolhouse MEJ.  2001. Risk factors for human disease emergence.  Phil Trans R Soc Lond B Biol Sci. 356:983-989.
[WHO] World Health Organization.  2000.  The World Health Report 2000 Health Systems:  Improving Performance.  Geneva: WHO.
[WHO/FAO/OIE] World Health Organization/Food and Agriculture Organization of the United Nations/World Organization for Animal Health.  2004.  Report of the WHO/FAO/OIE joint consultation on emerging zoonotic disease.  Geneve:WHO/FAO/OIE.
Wolfe ND, Dunavan CP, Kilpatrick AM, Burke DS.  2005.  Bushmeat hunting, deforestation, and prediction of zoonoses emergence.  Emerg Infect Dis. 11(12):1822-1827.

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :