Teguh Bagus of Veterinary Medicine site v.2

Excellence with Morality

__Sertifikasi dan Prestasi__

    Standart ISO 9001:2008 Kepada Universitas Airlangga oleh British Certification International

_Berbagi tak pernah Rugi_

    Teguh Bagus of Veterinary Medicine site v.2

    ____Hakikat Manusia____

    .: Barang siapa mengenal dirinya, maka ia akan mengenal TuhanNya. Seperti bahasan kita yaitu Awwal- uddin Ma'rifatullah adalah... :. more

    ∞ Akun Facebook & Twitter Kami ∞

..:: Selamat Buat para Pemenang lomba web & blog Mahasiswa Universitas Airlangga Tahun 2015; 1.Mei Budi Utami [FST'12] | 2.Mita Erna Wati [FK'12] | 3.Teguh Bagus Pribadi [FKH'12] | 4.M. Roihan Hanafi [FISIP'12] | 5.Ari Zulaicha [FISIP'12] | 6. Muziburrahman [FPK'14] | => Terimakasih atas kunjungan Anda, jangan lupa kalau mau copy/paste harap cantumkan sumbernya, by : Teguh Bagus Pribadi, http://teguhbaguspribadi-fkh12.web.unair.ac.id, dan Blog ini DIPERBAHARUI sebulan 4x karena kesibukan Perkuliahan ::..

Hitam Hari Terlupa Janji

diposting oleh teguhbaguspribadi-fkh12 pada 24 May 2013
di Belajar Ilmu Tasawuf - 0 komentar

Bismillah

Temani langkah hidup tiada arti
Berlari mengejar fana terasa hampa
Berlupa diri akan sebuah bencana
Terasyik dalam kemunafikan nyata

Hitamnya hari melupakan janji
Hadirnya sebuah penyempurna hati
Terus berlari mencari sembunyi
Terus terasa semakin dekat sekali

Aku kini di tengah gersang
Jalankan misi yang mengerucutkan kebenaran hakiki
Sedar sesaat terungkap cinta
Saat dunia tersa menyiksa

Temani aku sebelum kini
Tunjuki aku sebuah panji
Guna sinari hati yang lama mati
hingga kuterbebas dalam hakiki

Tunjuki aku sbuah panji
Adakah celah tuk kumasuki
Hingga kupegang belati
Kuhujamkan ke syetan bumi hingga akupun menyusul pergi

Adakah celah kumasuki
Dengan beban berat yang kubawa kini
Saat hitam hari terlupa janji
Jangan biarkan ku sendiri , ajaklah tempati

Jangan biarkanku sendiri, menyepi menjauh dari
Kau tahu aku tak sanggup lari
Dari kejaran hamba-Mu yang taat menanti
Menjemput jiwa tuk lepaskan diri

Syair dan Sastra SUFI أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله Syair dan Sastra Al-Qusyairy Al-Qusyairy, seperti yang disebutkan oleh as Subky, adalah ahli bahasa dan sastra, seorang pengarang dan penyair. Pada masa kecilnya al-Qusyairy telah mempelajari bahasa Arab dan sastra, sehingga dikenal pula sebagai penyair yang hebat dan cemerlang. Ali al-Bakhrazy menyebutkan dalam Dimyatul Qashr, mengutip sebagian syairnya, dan menyebut nyebut kebesarannya. Sebenarnya, dunia tasawuf lebih dominan dibanding kepenyairannya. Anda tidak melihat dalam syair syairnya kecuali mengenai syair tharikat dengan untaian bahasa yang lembut nan indah. Kami sebutkan di antara syairnya yang kami kutip dari Thabaqat asy Syafi'iyah adalah: Wahai Dzat Yang membuat syukurku menjadi pendek dari kekokohan-Nya, Setiap bibir kelu bila menjunjung keluhuran-Nya Sedang kemurahan-Nya, Tunggal tiada serupa Melampaui waktu, yang berlalu maupun yang akan tiba Tiada abad yang meninggalkan-Nya Tiada paksa yang menyentuh Nya Tiada singkap yang menampakkan Nya Tiada tirai yang menyembunyikan-Nya Tiada jumlah yang mengumpulkan-Nya Tiada kontra yang menghalangi Nya Tiada batas yang memotong Nya Tiada tetes yang melimpahi Nya Tiada jagad yang membatasi Nya Tiada mata yang memandang Nya Dan tiada dalam angan yang dilihat untuk menyamai Nya Keagungan Nya Azali Tiada sirna Nya Kerajaan Nya abadi Tak satu pun dibutuhkan Nya. Beliau juga bersyair: Jauhkan padaku hitam legam wahai sahabatku Bacakan surat surat doa padaku Benar telah kami jawab bagi perintang akal penuh kepatuhan Dan kami tinggalkan ucapan Salma dan Maya Dan kami membuka lebar bagi pematuh syariat Kami anjurkan pematuh hawa nafsu agar melipat dirinya. Syairnya lagi: Jangan tinggalkan bakti pada orang tua, ketahuilah Pada keluarga kecil ada yang terkecil Raihlah orang yang di sebelah kanannya bakal kau pegang tangan kanan Engkau lihat yang kiri di sebelahnya Engkau raih tangan kirinya. Syairnya yang lain: Bila musim memberimu dengan kesedihan Katakanlah, dengan penghinaan yang menakutinya Sejenak akan tampak maunya Dan selesai setiap urusannya Allah meminumkan pada waktu ketika aku menyepi dari wajahmu Sedang sirnanya cinta di taman sukaria tertawa Kami menghuni masa Sedang mata terasa sejuk Suatu hari jadilah ciumanmu pelupuknya. Pada bait lain: Bila engkau sesaat bersama kami tidaklah engkau bersama kami Engkau saksikan ketika pamit berpisah Engkau yakin di antara tetesan air mata penuh ungkapan kata kata Engkau pun tahu di antara kata kata pun penuh air mata. Syairnya pula: Bila keadaan keadaan jiwa menolongmu Intailah akan sirnanya Itu pun tak lebih dari missal pengalaman yang diberikan Bila ucapan ucapan busuk menuju padamu Maka, busungkan luasnya dada yang tercambuk Dan, bersabarlah. SYAIR-SYAIR IMAM SYAFI'I TIPUAN PALSU Aku melihat tipu muslihat dunia, tatkala ia bertenggerdi atas kepala-kepala manusia, dan membincangkan manusia-manusia yang terkena tipunya. Bagi mereka, Orang sepertiku tampak amat tak berharga. Aku disamakan olehnya, dengan anak kecil yang sedang bermain di jalanan. MENCINTAI AKHIRAT Duhai orang yang senang memeluk dunia fana, Yang tak kenal pagi dan sore dalam mencari dunia, Hendaklah engkau tinggalkan pelukan mesramu, kepada duniamu itu. Karena kelak engkau akan berpelukan, Dengan bidadari di surga. Apabila engkau harap menjadi penghuni surga abadi, maka hindarilah jalan menuju api neraka. RENDAH HATI Bagaimana mungkin kita dapat sampai ke Sa’ad, Sementara di sekitarnya terdapat gunung-gunung dan tebing-tebing.Padahal aku tak beralas kaki, dan tak berkendaraan. Tanganku pun kosong dan, jalan ke sana amat mengerikan. TENTANG CINTA Engkau durhaka kepada Allah, dan sekaligus menaruh cinta kepada-Nya. Ini adalah suatu kemustahilan. Apabila benar engkau mencintai-Nya, pastilah engkau taati semua perintah-Nya. Sesungguhnya orang menaruh cinta, Tentulah bersedia mentaati perintah orang yang dicintainya. Dia telah kirimkan nikmat-Nya kepadamu, setiap saat dan tak ada rasa syukur, yang engkau panjatkan kepada-Nya. KEPUASAN (QANA'AH) Aku melihat bahwa kepuasan itu pangkal kekayaan, lalu kupegang erat-erat ujungnya. Aku ingin menjadi orang kaya tanpa harta, dan memerintah bak seorang raja. ANUGRAH ALLAH Aku melihat-Mu pada saat penciptaanku, yang penuh dengan anugerah. Engkaulah sumber satu-satunya, pada saat penciptaanku. Hidarkan aku dari anugerah yang buruk. Karena sepotong kehidupan telah cukup bagiku, hingga saat Engkau mematikanku. WACANA SUFI MELALUI SASTRA Para sufi seringkali menggunakan metafora pengalaman batin mereka dengan sejumlah syair yang teramat inah, mengingat, syathahat atau kata-kata jadzabiyahnya sulit diuraikan dengan bahasa formal. Di bawah ini sejumalh contol yang digunakan oleh Abul Qasim al-Qusyairi dalam menjelaskan sejumlah terminologi tasawuf melalui beberapa syair: Waktu Setiap hari ia lewat merengkuh tanganku memberikan sesal dalam hatiku kemudian, berlalu. Seperti penghuni neraka Jika kulit-kulitnya terpanggang kembali pula kulit-kulit itu untuk sbuah derita panjang Bukanlah orang mati itu istirahat seperti mayat Kematian adalah mati kehidupannya. (Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq) Haal Kalau tidak menempati, pasti bukan Haal Setiap yang menempati Pasti hilang Lihatlah bayangan sampai ujungnya Berkurang ketika ia memanjang. (Ungkapan salah seorang sufi) Haibah Dan Uns Aku datangi Aku tak mengerti Dari mana Siapa Aku Melainkan yang dikatakan orang-orang pada diriku, pada jenisku Aku datangi jin dan manusia Lalu tak kutemui siapa pun Lantas kuatangi diriku. Tiba-tiba bisikan halus dalam kalbuku: Amboi, siapakah yang tahu sebab-sebab yang lebih luhur wujudnya toh ia bersukaria dengan kehinaan yang sesat dan dengan manusia Kalau engkau dari kalangan sirna yang hakiki Pastikan engkau ghaib dari semesta, arasy dan kursy Padahal dirimu jauh dari Haal bersama Allah Jauh dari berdzikir Lebih pada Jin dan Manusia. (Abu Said al-Kharraz) Wujd (Ekstase) Gelas yang dibasahi air karena cemerlang beningnya Lalu mutiara yang tumbuh dari bumi emas Sementara kaum Sufi menycikan karena kagum pada cahaya air dalam api dari anggur yang ranum yang diwarisi ‘Aad dari negeri Iram sebagai simpanan Kisra Sejak nenek moyangnya. (Abu Bakr asy-Syibly) Jam Dan Farq Engkau wujudkan Nyata-Mu dalam rahasiaku Lisanku munajat kepada-Mu Lalu kita berkumpul bagi makna-makna Berpisah bagi makna-makna pula Jika Gaib-Mu adalah Keagungan dari lintas mataku Toh Engkau buat serasi dari dalam yang mendekat padaku. (Junaid al-Baghdady) Fana' Dan Baqa' Ada kaum yang tersesat di padang gersang Ada pula yang tersesat di padang cintanya Mereka sirna, kemudian sirna dalam kesirnaan, lalu sirna total Lalu mereka kekal, dalam kekalnya kekal dari kekaraban dengan Tuhannya. (Syair yang sering dikutip para sufi). Sadar Dan Mabuk Kesadaranmu dari KataKu adalah sinambung Dan mabukmu dari bagianKu menyilakan teguk minuman Tak bosan-bosan peminumnya Tak bosan-bosan peneguknya Menyerah pada sudut piala yang memabukkan jiwanya. Orang-orang mabuk kepayang memutari gelas piala Sedang mabukku dari yang Maha Pemutar Piala Ada dua kemabukan bagiku dan hanya dua penyesal hanya satu Yang diperuntuukan bagi mereka hanya untukku. Dua mabuk kepayang Mabuk cinta Mabuk abadi Ketika siuman Segalanya bugar kembali. Dalam syair lain tentang Mabuk Ilahi ini para Sufi sering mengutip syair, sbb: Pabila pagi cerah dengan kejora citanya itulah keserasian Antara kemabukan dan kesukacitaan. bawah ini masih seputar Rasa Mabuk Ilahi: Dzauq Dan Syurb Gelas minuman adalah susuan kita Kalau tak kita rasa Tak hidup kita Aku heran orang bicara, “Aku telah ingat Allah” Apakah aku alpa? Lalu kuingat yang kulupa? Kuminum Cinta, gelas piala demi gelas Tuntas habis, tak puas pula dahaga. Kata Mutiara Islam dari Imam Hasan Al Bashri Imam Hasan Al Bashri adalah salah seorang ulama terkemuka dari kalangan tabi’in yang banyak berguru kepada para sahabat Rasulullah saw. Beliau lahir di Madinah, tahun 642 Masehi dari ayah bernama Yasar, bekas budak Zaid bin Tsabit dan ibu yang pernah menjadi budak Ummu Salamah, salah satu istri Nabi Muhammad saw. Jadi beliau lahir dalam kalangan keluarga Nabi saw. Bahkan tak jarang Ummu Salamah menyusui bayi Hasan ketika ditinggal oleh ibunya. Ummu Salamah juga sering membawa Hasan yang masih kanak-kanak ke majelis para Sahabat dan Umar bin Khattab r.a. pernah mendoakannya: “Ya Allah, jadikan ia faham agama dan jadikan orang-orang mencintainya!” Kata mutiara 1 “Wahai anak Adam! Kalian tidak lain hanyalah kumpulan hari, setiap satu hari berlalu maka sebagian dari diri kalian pun ikut pergi.” Kata mutiara 2 “Diantara tanda berpalingnya Allah Subhanahu Wata’ala dari seorang hamba adalah Allah menjadikan kesibukannya pada hal-hal yang tidak bermanfaat baginya.” Kata mutiara 3 “Semoga Allah merahmati seorang hamba yang merenung sejenak sebelum melakukan suatu amalan. Jika niatnya adalah karena Allah, maka ia melakukannya. Tapi jika niatnya bukan karena Allah maka ia mengurungkannya.” Kata mutiara 4 “Tidaklah datang suatu hari dari hari-hari di dunia ini melainkan ia berkata, “Wahai manusia! Sesungguhnya aku adalah hari yang baru, dan sesungguhnya aku akan menjadi saksi (di hadapan Allah) atas apa-apa yang kalian lakukan padaku. Apabila matahari telah terbenam, maka aku akan pergi meninggalkan kalian dan takkan pernah kembali lagi hingga hari kiamat.” Kata mutiara 5 “Janganlah Anda tertipu dengan banyaknya amal ibadah yang telah Anda lakukan, karena sesungguhnya Anda tidak mengetahui apakah Allah menerima amalan Anda atau tidak.” Kata mutiara 6 “Jangan pula Anda merasa aman dari bahaya dosa-dosa yang Anda lakukan, karena sesungguhnya Anda tidak mengetahui apakah Allah mengampuni dosa-dosa Anda tersebut atau tidak.” Kata mutiara 7 “Saya belum menemukan dalam ibadah, sesuatu yang lebih sulit dari pada shalat di tengah malam.” Kata mutiara 8 “Seorang mukmin hidup di dunia bagaikan seorang tawanan yang sedang berusaha membebaskan dirinya dari penawanan dan ia tidak akan merasa aman kecuali apabila ia telah berjumpa dengan Allah Subhanahu wata’ala.“ Kata mutiara 9 “Sesungguhnya Allah telah menetapkan kematian, sakit dan sehat (bagi setiap hamba-Nya). Barang siapa mendustakan takdir maka sesungguhnya ia telah mendustakan al-Qur’an. Dan barang siapa mendustakan al-Qur’an, maka sesungguhnya ia telah mendustakan Allah.” Kata mutiara 10 “Wahai anak Adam, juallah duniamu untuk akhiratmu, niscaya kamu untung di keduanya, dan janganlah kamu jual akhiratmu untuk duniamu, karena kamu akan rugi di keduanya. Singgah di dunia ini sebentar, sedangkan tinggal di akhirat sana sangatlah panjang.” Seorang pemuda mendatangi al-Hasan al-Bashri dan mengadukan masalah yang sedang ia hadapi kepadanya. Pemuda tersebut berkata, “Saya telah berusaha untuk bisa menjaga shalat malam, akan tetapi sampai saat ini saya masih belum mampu untuk melaksanakannya.” Al-Hasan al-Bashri menjawab, “Dosa-dosamu telah menghalangimu untuk melakukannya.” Demikianlah, beberapa kalimat penuh hikmah, mutiara islam, dari salah seorang ulama salaf yang patut kita teladani. Semoga bermanfaat.

Read more at: http://alifbraja.blogspot.com/2012/07/syair-dan-sastra-sufi.html
Copyright © ALIFBRAJA|alifbraja.blogspot.com Under Common Share Alike Atribution
Syair dan Sastra SUFI أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله Syair dan Sastra Al-Qusyairy Al-Qusyairy, seperti yang disebutkan oleh as Subky, adalah ahli bahasa dan sastra, seorang pengarang dan penyair. Pada masa kecilnya al-Qusyairy telah mempelajari bahasa Arab dan sastra, sehingga dikenal pula sebagai penyair yang hebat dan cemerlang. Ali al-Bakhrazy menyebutkan dalam Dimyatul Qashr, mengutip sebagian syairnya, dan menyebut nyebut kebesarannya. Sebenarnya, dunia tasawuf lebih dominan dibanding kepenyairannya. Anda tidak melihat dalam syair syairnya kecuali mengenai syair tharikat dengan untaian bahasa yang lembut nan indah. Kami sebutkan di antara syairnya yang kami kutip dari Thabaqat asy Syafi'iyah adalah: Wahai Dzat Yang membuat syukurku menjadi pendek dari kekokohan-Nya, Setiap bibir kelu bila menjunjung keluhuran-Nya Sedang kemurahan-Nya, Tunggal tiada serupa Melampaui waktu, yang berlalu maupun yang akan tiba Tiada abad yang meninggalkan-Nya Tiada paksa yang menyentuh Nya Tiada singkap yang menampakkan Nya Tiada tirai yang menyembunyikan-Nya Tiada jumlah yang mengumpulkan-Nya Tiada kontra yang menghalangi Nya Tiada batas yang memotong Nya Tiada tetes yang melimpahi Nya Tiada jagad yang membatasi Nya Tiada mata yang memandang Nya Dan tiada dalam angan yang dilihat untuk menyamai Nya Keagungan Nya Azali Tiada sirna Nya Kerajaan Nya abadi Tak satu pun dibutuhkan Nya. Beliau juga bersyair: Jauhkan padaku hitam legam wahai sahabatku Bacakan surat surat doa padaku Benar telah kami jawab bagi perintang akal penuh kepatuhan Dan kami tinggalkan ucapan Salma dan Maya Dan kami membuka lebar bagi pematuh syariat Kami anjurkan pematuh hawa nafsu agar melipat dirinya. Syairnya lagi: Jangan tinggalkan bakti pada orang tua, ketahuilah Pada keluarga kecil ada yang terkecil Raihlah orang yang di sebelah kanannya bakal kau pegang tangan kanan Engkau lihat yang kiri di sebelahnya Engkau raih tangan kirinya. Syairnya yang lain: Bila musim memberimu dengan kesedihan Katakanlah, dengan penghinaan yang menakutinya Sejenak akan tampak maunya Dan selesai setiap urusannya Allah meminumkan pada waktu ketika aku menyepi dari wajahmu Sedang sirnanya cinta di taman sukaria tertawa Kami menghuni masa Sedang mata terasa sejuk Suatu hari jadilah ciumanmu pelupuknya. Pada bait lain: Bila engkau sesaat bersama kami tidaklah engkau bersama kami Engkau saksikan ketika pamit berpisah Engkau yakin di antara tetesan air mata penuh ungkapan kata kata Engkau pun tahu di antara kata kata pun penuh air mata. Syairnya pula: Bila keadaan keadaan jiwa menolongmu Intailah akan sirnanya Itu pun tak lebih dari missal pengalaman yang diberikan Bila ucapan ucapan busuk menuju padamu Maka, busungkan luasnya dada yang tercambuk Dan, bersabarlah. SYAIR-SYAIR IMAM SYAFI'I TIPUAN PALSU Aku melihat tipu muslihat dunia, tatkala ia bertenggerdi atas kepala-kepala manusia, dan membincangkan manusia-manusia yang terkena tipunya. Bagi mereka, Orang sepertiku tampak amat tak berharga. Aku disamakan olehnya, dengan anak kecil yang sedang bermain di jalanan. MENCINTAI AKHIRAT Duhai orang yang senang memeluk dunia fana, Yang tak kenal pagi dan sore dalam mencari dunia, Hendaklah engkau tinggalkan pelukan mesramu, kepada duniamu itu. Karena kelak engkau akan berpelukan, Dengan bidadari di surga. Apabila engkau harap menjadi penghuni surga abadi, maka hindarilah jalan menuju api neraka. RENDAH HATI Bagaimana mungkin kita dapat sampai ke Sa’ad, Sementara di sekitarnya terdapat gunung-gunung dan tebing-tebing.Padahal aku tak beralas kaki, dan tak berkendaraan. Tanganku pun kosong dan, jalan ke sana amat mengerikan. TENTANG CINTA Engkau durhaka kepada Allah, dan sekaligus menaruh cinta kepada-Nya. Ini adalah suatu kemustahilan. Apabila benar engkau mencintai-Nya, pastilah engkau taati semua perintah-Nya. Sesungguhnya orang menaruh cinta, Tentulah bersedia mentaati perintah orang yang dicintainya. Dia telah kirimkan nikmat-Nya kepadamu, setiap saat dan tak ada rasa syukur, yang engkau panjatkan kepada-Nya. KEPUASAN (QANA'AH) Aku melihat bahwa kepuasan itu pangkal kekayaan, lalu kupegang erat-erat ujungnya. Aku ingin menjadi orang kaya tanpa harta, dan memerintah bak seorang raja. ANUGRAH ALLAH Aku melihat-Mu pada saat penciptaanku, yang penuh dengan anugerah. Engkaulah sumber satu-satunya, pada saat penciptaanku. Hidarkan aku dari anugerah yang buruk. Karena sepotong kehidupan telah cukup bagiku, hingga saat Engkau mematikanku. WACANA SUFI MELALUI SASTRA Para sufi seringkali menggunakan metafora pengalaman batin mereka dengan sejumlah syair yang teramat inah, mengingat, syathahat atau kata-kata jadzabiyahnya sulit diuraikan dengan bahasa formal. Di bawah ini sejumalh contol yang digunakan oleh Abul Qasim al-Qusyairi dalam menjelaskan sejumlah terminologi tasawuf melalui beberapa syair: Waktu Setiap hari ia lewat merengkuh tanganku memberikan sesal dalam hatiku kemudian, berlalu. Seperti penghuni neraka Jika kulit-kulitnya terpanggang kembali pula kulit-kulit itu untuk sbuah derita panjang Bukanlah orang mati itu istirahat seperti mayat Kematian adalah mati kehidupannya. (Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq) Haal Kalau tidak menempati, pasti bukan Haal Setiap yang menempati Pasti hilang Lihatlah bayangan sampai ujungnya Berkurang ketika ia memanjang. (Ungkapan salah seorang sufi) Haibah Dan Uns Aku datangi Aku tak mengerti Dari mana Siapa Aku Melainkan yang dikatakan orang-orang pada diriku, pada jenisku Aku datangi jin dan manusia Lalu tak kutemui siapa pun Lantas kuatangi diriku. Tiba-tiba bisikan halus dalam kalbuku: Amboi, siapakah yang tahu sebab-sebab yang lebih luhur wujudnya toh ia bersukaria dengan kehinaan yang sesat dan dengan manusia Kalau engkau dari kalangan sirna yang hakiki Pastikan engkau ghaib dari semesta, arasy dan kursy Padahal dirimu jauh dari Haal bersama Allah Jauh dari berdzikir Lebih pada Jin dan Manusia. (Abu Said al-Kharraz) Wujd (Ekstase) Gelas yang dibasahi air karena cemerlang beningnya Lalu mutiara yang tumbuh dari bumi emas Sementara kaum Sufi menycikan karena kagum pada cahaya air dalam api dari anggur yang ranum yang diwarisi ‘Aad dari negeri Iram sebagai simpanan Kisra Sejak nenek moyangnya. (Abu Bakr asy-Syibly) Jam Dan Farq Engkau wujudkan Nyata-Mu dalam rahasiaku Lisanku munajat kepada-Mu Lalu kita berkumpul bagi makna-makna Berpisah bagi makna-makna pula Jika Gaib-Mu adalah Keagungan dari lintas mataku Toh Engkau buat serasi dari dalam yang mendekat padaku. (Junaid al-Baghdady) Fana' Dan Baqa' Ada kaum yang tersesat di padang gersang Ada pula yang tersesat di padang cintanya Mereka sirna, kemudian sirna dalam kesirnaan, lalu sirna total Lalu mereka kekal, dalam kekalnya kekal dari kekaraban dengan Tuhannya. (Syair yang sering dikutip para sufi). Sadar Dan Mabuk Kesadaranmu dari KataKu adalah sinambung Dan mabukmu dari bagianKu menyilakan teguk minuman Tak bosan-bosan peminumnya Tak bosan-bosan peneguknya Menyerah pada sudut piala yang memabukkan jiwanya. Orang-orang mabuk kepayang memutari gelas piala Sedang mabukku dari yang Maha Pemutar Piala Ada dua kemabukan bagiku dan hanya dua penyesal hanya satu Yang diperuntuukan bagi mereka hanya untukku. Dua mabuk kepayang Mabuk cinta Mabuk abadi Ketika siuman Segalanya bugar kembali. Dalam syair lain tentang Mabuk Ilahi ini para Sufi sering mengutip syair, sbb: Pabila pagi cerah dengan kejora citanya itulah keserasian Antara kemabukan dan kesukacitaan. bawah ini masih seputar Rasa Mabuk Ilahi: Dzauq Dan Syurb Gelas minuman adalah susuan kita Kalau tak kita rasa Tak hidup kita Aku heran orang bicara, “Aku telah ingat Allah” Apakah aku alpa? Lalu kuingat yang kulupa? Kuminum Cinta, gelas piala demi gelas Tuntas habis, tak puas pula dahaga. Kata Mutiara Islam dari Imam Hasan Al Bashri Imam Hasan Al Bashri adalah salah seorang ulama terkemuka dari kalangan tabi’in yang banyak berguru kepada para sahabat Rasulullah saw. Beliau lahir di Madinah, tahun 642 Masehi dari ayah bernama Yasar, bekas budak Zaid bin Tsabit dan ibu yang pernah menjadi budak Ummu Salamah, salah satu istri Nabi Muhammad saw. Jadi beliau lahir dalam kalangan keluarga Nabi saw. Bahkan tak jarang Ummu Salamah menyusui bayi Hasan ketika ditinggal oleh ibunya. Ummu Salamah juga sering membawa Hasan yang masih kanak-kanak ke majelis para Sahabat dan Umar bin Khattab r.a. pernah mendoakannya: “Ya Allah, jadikan ia faham agama dan jadikan orang-orang mencintainya!” Kata mutiara 1 “Wahai anak Adam! Kalian tidak lain hanyalah kumpulan hari, setiap satu hari berlalu maka sebagian dari diri kalian pun ikut pergi.” Kata mutiara 2 “Diantara tanda berpalingnya Allah Subhanahu Wata’ala dari seorang hamba adalah Allah menjadikan kesibukannya pada hal-hal yang tidak bermanfaat baginya.” Kata mutiara 3 “Semoga Allah merahmati seorang hamba yang merenung sejenak sebelum melakukan suatu amalan. Jika niatnya adalah karena Allah, maka ia melakukannya. Tapi jika niatnya bukan karena Allah maka ia mengurungkannya.” Kata mutiara 4 “Tidaklah datang suatu hari dari hari-hari di dunia ini melainkan ia berkata, “Wahai manusia! Sesungguhnya aku adalah hari yang baru, dan sesungguhnya aku akan menjadi saksi (di hadapan Allah) atas apa-apa yang kalian lakukan padaku. Apabila matahari telah terbenam, maka aku akan pergi meninggalkan kalian dan takkan pernah kembali lagi hingga hari kiamat.” Kata mutiara 5 “Janganlah Anda tertipu dengan banyaknya amal ibadah yang telah Anda lakukan, karena sesungguhnya Anda tidak mengetahui apakah Allah menerima amalan Anda atau tidak.” Kata mutiara 6 “Jangan pula Anda merasa aman dari bahaya dosa-dosa yang Anda lakukan, karena sesungguhnya Anda tidak mengetahui apakah Allah mengampuni dosa-dosa Anda tersebut atau tidak.” Kata mutiara 7 “Saya belum menemukan dalam ibadah, sesuatu yang lebih sulit dari pada shalat di tengah malam.” Kata mutiara 8 “Seorang mukmin hidup di dunia bagaikan seorang tawanan yang sedang berusaha membebaskan dirinya dari penawanan dan ia tidak akan merasa aman kecuali apabila ia telah berjumpa dengan Allah Subhanahu wata’ala.“ Kata mutiara 9 “Sesungguhnya Allah telah menetapkan kematian, sakit dan sehat (bagi setiap hamba-Nya). Barang siapa mendustakan takdir maka sesungguhnya ia telah mendustakan al-Qur’an. Dan barang siapa mendustakan al-Qur’an, maka sesungguhnya ia telah mendustakan Allah.” Kata mutiara 10 “Wahai anak Adam, juallah duniamu untuk akhiratmu, niscaya kamu untung di keduanya, dan janganlah kamu jual akhiratmu untuk duniamu, karena kamu akan rugi di keduanya. Singgah di dunia ini sebentar, sedangkan tinggal di akhirat sana sangatlah panjang.” Seorang pemuda mendatangi al-Hasan al-Bashri dan mengadukan masalah yang sedang ia hadapi kepadanya. Pemuda tersebut berkata, “Saya telah berusaha untuk bisa menjaga shalat malam, akan tetapi sampai saat ini saya masih belum mampu untuk melaksanakannya.” Al-Hasan al-Bashri menjawab, “Dosa-dosamu telah menghalangimu untuk melakukannya.” Demikianlah, beberapa kalimat penuh hikmah, mutiara islam, dari salah seorang ulama salaf yang patut kita teladani. Semoga bermanfaat.

Read more at: http://alifbraja.blogspot.com/2012/07/syair-dan-sastra-sufi.html
Copyright © ALIFBRAJA|alifbraja.blogspot.com Under Common Share Alike Atribution
Syair dan Sastra SUFI أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله Syair dan Sastra Al-Qusyairy Al-Qusyairy, seperti yang disebutkan oleh as Subky, adalah ahli bahasa dan sastra, seorang pengarang dan penyair. Pada masa kecilnya al-Qusyairy telah mempelajari bahasa Arab dan sastra, sehingga dikenal pula sebagai penyair yang hebat dan cemerlang. Ali al-Bakhrazy menyebutkan dalam Dimyatul Qashr, mengutip sebagian syairnya, dan menyebut nyebut kebesarannya. Sebenarnya, dunia tasawuf lebih dominan dibanding kepenyairannya. Anda tidak melihat dalam syair syairnya kecuali mengenai syair tharikat dengan untaian bahasa yang lembut nan indah. Kami sebutkan di antara syairnya yang kami kutip dari Thabaqat asy Syafi'iyah adalah: Wahai Dzat Yang membuat syukurku menjadi pendek dari kekokohan-Nya, Setiap bibir kelu bila menjunjung keluhuran-Nya Sedang kemurahan-Nya, Tunggal tiada serupa Melampaui waktu, yang berlalu maupun yang akan tiba Tiada abad yang meninggalkan-Nya Tiada paksa yang menyentuh Nya Tiada singkap yang menampakkan Nya Tiada tirai yang menyembunyikan-Nya Tiada jumlah yang mengumpulkan-Nya Tiada kontra yang menghalangi Nya Tiada batas yang memotong Nya Tiada tetes yang melimpahi Nya Tiada jagad yang membatasi Nya Tiada mata yang memandang Nya Dan tiada dalam angan yang dilihat untuk menyamai Nya Keagungan Nya Azali Tiada sirna Nya Kerajaan Nya abadi Tak satu pun dibutuhkan Nya. Beliau juga bersyair: Jauhkan padaku hitam legam wahai sahabatku Bacakan surat surat doa padaku Benar telah kami jawab bagi perintang akal penuh kepatuhan Dan kami tinggalkan ucapan Salma dan Maya Dan kami membuka lebar bagi pematuh syariat Kami anjurkan pematuh hawa nafsu agar melipat dirinya. Syairnya lagi: Jangan tinggalkan bakti pada orang tua, ketahuilah Pada keluarga kecil ada yang terkecil Raihlah orang yang di sebelah kanannya bakal kau pegang tangan kanan Engkau lihat yang kiri di sebelahnya Engkau raih tangan kirinya. Syairnya yang lain: Bila musim memberimu dengan kesedihan Katakanlah, dengan penghinaan yang menakutinya Sejenak akan tampak maunya Dan selesai setiap urusannya Allah meminumkan pada waktu ketika aku menyepi dari wajahmu Sedang sirnanya cinta di taman sukaria tertawa Kami menghuni masa Sedang mata terasa sejuk Suatu hari jadilah ciumanmu pelupuknya. Pada bait lain: Bila engkau sesaat bersama kami tidaklah engkau bersama kami Engkau saksikan ketika pamit berpisah Engkau yakin di antara tetesan air mata penuh ungkapan kata kata Engkau pun tahu di antara kata kata pun penuh air mata. Syairnya pula: Bila keadaan keadaan jiwa menolongmu Intailah akan sirnanya Itu pun tak lebih dari missal pengalaman yang diberikan Bila ucapan ucapan busuk menuju padamu Maka, busungkan luasnya dada yang tercambuk Dan, bersabarlah. SYAIR-SYAIR IMAM SYAFI'I TIPUAN PALSU Aku melihat tipu muslihat dunia, tatkala ia bertenggerdi atas kepala-kepala manusia, dan membincangkan manusia-manusia yang terkena tipunya. Bagi mereka, Orang sepertiku tampak amat tak berharga. Aku disamakan olehnya, dengan anak kecil yang sedang bermain di jalanan. MENCINTAI AKHIRAT Duhai orang yang senang memeluk dunia fana, Yang tak kenal pagi dan sore dalam mencari dunia, Hendaklah engkau tinggalkan pelukan mesramu, kepada duniamu itu. Karena kelak engkau akan berpelukan, Dengan bidadari di surga. Apabila engkau harap menjadi penghuni surga abadi, maka hindarilah jalan menuju api neraka. RENDAH HATI Bagaimana mungkin kita dapat sampai ke Sa’ad, Sementara di sekitarnya terdapat gunung-gunung dan tebing-tebing.Padahal aku tak beralas kaki, dan tak berkendaraan. Tanganku pun kosong dan, jalan ke sana amat mengerikan. TENTANG CINTA Engkau durhaka kepada Allah, dan sekaligus menaruh cinta kepada-Nya. Ini adalah suatu kemustahilan. Apabila benar engkau mencintai-Nya, pastilah engkau taati semua perintah-Nya. Sesungguhnya orang menaruh cinta, Tentulah bersedia mentaati perintah orang yang dicintainya. Dia telah kirimkan nikmat-Nya kepadamu, setiap saat dan tak ada rasa syukur, yang engkau panjatkan kepada-Nya. KEPUASAN (QANA'AH) Aku melihat bahwa kepuasan itu pangkal kekayaan, lalu kupegang erat-erat ujungnya. Aku ingin menjadi orang kaya tanpa harta, dan memerintah bak seorang raja. ANUGRAH ALLAH Aku melihat-Mu pada saat penciptaanku, yang penuh dengan anugerah. Engkaulah sumber satu-satunya, pada saat penciptaanku. Hidarkan aku dari anugerah yang buruk. Karena sepotong kehidupan telah cukup bagiku, hingga saat Engkau mematikanku. WACANA SUFI MELALUI SASTRA Para sufi seringkali menggunakan metafora pengalaman batin mereka dengan sejumlah syair yang teramat inah, mengingat, syathahat atau kata-kata jadzabiyahnya sulit diuraikan dengan bahasa formal. Di bawah ini sejumalh contol yang digunakan oleh Abul Qasim al-Qusyairi dalam menjelaskan sejumlah terminologi tasawuf melalui beberapa syair: Waktu Setiap hari ia lewat merengkuh tanganku memberikan sesal dalam hatiku kemudian, berlalu. Seperti penghuni neraka Jika kulit-kulitnya terpanggang kembali pula kulit-kulit itu untuk sbuah derita panjang Bukanlah orang mati itu istirahat seperti mayat Kematian adalah mati kehidupannya. (Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq) Haal Kalau tidak menempati, pasti bukan Haal Setiap yang menempati Pasti hilang Lihatlah bayangan sampai ujungnya Berkurang ketika ia memanjang. (Ungkapan salah seorang sufi) Haibah Dan Uns Aku datangi Aku tak mengerti Dari mana Siapa Aku Melainkan yang dikatakan orang-orang pada diriku, pada jenisku Aku datangi jin dan manusia Lalu tak kutemui siapa pun Lantas kuatangi diriku. Tiba-tiba bisikan halus dalam kalbuku: Amboi, siapakah yang tahu sebab-sebab yang lebih luhur wujudnya toh ia bersukaria dengan kehinaan yang sesat dan dengan manusia Kalau engkau dari kalangan sirna yang hakiki Pastikan engkau ghaib dari semesta, arasy dan kursy Padahal dirimu jauh dari Haal bersama Allah Jauh dari berdzikir Lebih pada Jin dan Manusia. (Abu Said al-Kharraz) Wujd (Ekstase) Gelas yang dibasahi air karena cemerlang beningnya Lalu mutiara yang tumbuh dari bumi emas Sementara kaum Sufi menycikan karena kagum pada cahaya air dalam api dari anggur yang ranum yang diwarisi ‘Aad dari negeri Iram sebagai simpanan Kisra Sejak nenek moyangnya. (Abu Bakr asy-Syibly) Jam Dan Farq Engkau wujudkan Nyata-Mu dalam rahasiaku Lisanku munajat kepada-Mu Lalu kita berkumpul bagi makna-makna Berpisah bagi makna-makna pula Jika Gaib-Mu adalah Keagungan dari lintas mataku Toh Engkau buat serasi dari dalam yang mendekat padaku. (Junaid al-Baghdady) Fana' Dan Baqa' Ada kaum yang tersesat di padang gersang Ada pula yang tersesat di padang cintanya Mereka sirna, kemudian sirna dalam kesirnaan, lalu sirna total Lalu mereka kekal, dalam kekalnya kekal dari kekaraban dengan Tuhannya. (Syair yang sering dikutip para sufi). Sadar Dan Mabuk Kesadaranmu dari KataKu adalah sinambung Dan mabukmu dari bagianKu menyilakan teguk minuman Tak bosan-bosan peminumnya Tak bosan-bosan peneguknya Menyerah pada sudut piala yang memabukkan jiwanya. Orang-orang mabuk kepayang memutari gelas piala Sedang mabukku dari yang Maha Pemutar Piala Ada dua kemabukan bagiku dan hanya dua penyesal hanya satu Yang diperuntuukan bagi mereka hanya untukku. Dua mabuk kepayang Mabuk cinta Mabuk abadi Ketika siuman Segalanya bugar kembali. Dalam syair lain tentang Mabuk Ilahi ini para Sufi sering mengutip syair, sbb: Pabila pagi cerah dengan kejora citanya itulah keserasian Antara kemabukan dan kesukacitaan. bawah ini masih seputar Rasa Mabuk Ilahi: Dzauq Dan Syurb Gelas minuman adalah susuan kita Kalau tak kita rasa Tak hidup kita Aku heran orang bicara, “Aku telah ingat Allah” Apakah aku alpa? Lalu kuingat yang kulupa? Kuminum Cinta, gelas piala demi gelas Tuntas habis, tak puas pula dahaga. Kata Mutiara Islam dari Imam Hasan Al Bashri Imam Hasan Al Bashri adalah salah seorang ulama terkemuka dari kalangan tabi’in yang banyak berguru kepada para sahabat Rasulullah saw. Beliau lahir di Madinah, tahun 642 Masehi dari ayah bernama Yasar, bekas budak Zaid bin Tsabit dan ibu yang pernah menjadi budak Ummu Salamah, salah satu istri Nabi Muhammad saw. Jadi beliau lahir dalam kalangan keluarga Nabi saw. Bahkan tak jarang Ummu Salamah menyusui bayi Hasan ketika ditinggal oleh ibunya. Ummu Salamah juga sering membawa Hasan yang masih kanak-kanak ke majelis para Sahabat dan Umar bin Khattab r.a. pernah mendoakannya: “Ya Allah, jadikan ia faham agama dan jadikan orang-orang mencintainya!” Kata mutiara 1 “Wahai anak Adam! Kalian tidak lain hanyalah kumpulan hari, setiap satu hari berlalu maka sebagian dari diri kalian pun ikut pergi.” Kata mutiara 2 “Diantara tanda berpalingnya Allah Subhanahu Wata’ala dari seorang hamba adalah Allah menjadikan kesibukannya pada hal-hal yang tidak bermanfaat baginya.” Kata mutiara 3 “Semoga Allah merahmati seorang hamba yang merenung sejenak sebelum melakukan suatu amalan. Jika niatnya adalah karena Allah, maka ia melakukannya. Tapi jika niatnya bukan karena Allah maka ia mengurungkannya.” Kata mutiara 4 “Tidaklah datang suatu hari dari hari-hari di dunia ini melainkan ia berkata, “Wahai manusia! Sesungguhnya aku adalah hari yang baru, dan sesungguhnya aku akan menjadi saksi (di hadapan Allah) atas apa-apa yang kalian lakukan padaku. Apabila matahari telah terbenam, maka aku akan pergi meninggalkan kalian dan takkan pernah kembali lagi hingga hari kiamat.” Kata mutiara 5 “Janganlah Anda tertipu dengan banyaknya amal ibadah yang telah Anda lakukan, karena sesungguhnya Anda tidak mengetahui apakah Allah menerima amalan Anda atau tidak.” Kata mutiara 6 “Jangan pula Anda merasa aman dari bahaya dosa-dosa yang Anda lakukan, karena sesungguhnya Anda tidak mengetahui apakah Allah mengampuni dosa-dosa Anda tersebut atau tidak.” Kata mutiara 7 “Saya belum menemukan dalam ibadah, sesuatu yang lebih sulit dari pada shalat di tengah malam.” Kata mutiara 8 “Seorang mukmin hidup di dunia bagaikan seorang tawanan yang sedang berusaha membebaskan dirinya dari penawanan dan ia tidak akan merasa aman kecuali apabila ia telah berjumpa dengan Allah Subhanahu wata’ala.“ Kata mutiara 9 “Sesungguhnya Allah telah menetapkan kematian, sakit dan sehat (bagi setiap hamba-Nya). Barang siapa mendustakan takdir maka sesungguhnya ia telah mendustakan al-Qur’an. Dan barang siapa mendustakan al-Qur’an, maka sesungguhnya ia telah mendustakan Allah.” Kata mutiara 10 “Wahai anak Adam, juallah duniamu untuk akhiratmu, niscaya kamu untung di keduanya, dan janganlah kamu jual akhiratmu untuk duniamu, karena kamu akan rugi di keduanya. Singgah di dunia ini sebentar, sedangkan tinggal di akhirat sana sangatlah panjang.” Seorang pemuda mendatangi al-Hasan al-Bashri dan mengadukan masalah yang sedang ia hadapi kepadanya. Pemuda tersebut berkata, “Saya telah berusaha untuk bisa menjaga shalat malam, akan tetapi sampai saat ini saya masih belum mampu untuk melaksanakannya.” Al-Hasan al-Bashri menjawab, “Dosa-dosamu telah menghalangimu untuk melakukannya.” Demikianlah, beberapa kalimat penuh hikmah, mutiara islam, dari salah seorang ulama salaf yang patut kita teladani. Semoga bermanfaat.

Read more at: http://alifbraja.blogspot.com/2012/07/syair-dan-sastra-sufi.html
Copyright © ALIFBRAJA|alifbraja.blogspot.com Under Common Share Alike Atribution

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :