Teguh Bagus of Veterinary Medicine site v.2

Excellence with Morality

__Sertifikasi dan Prestasi__

    Standart ISO 9001:2008 Kepada Universitas Airlangga oleh British Certification International

_Berbagi tak pernah Rugi_

    Teguh Bagus of Veterinary Medicine site v.2

    ____Hakikat Manusia____

    .: Barang siapa mengenal dirinya, maka ia akan mengenal TuhanNya. Seperti bahasan kita yaitu Awwal- uddin Ma'rifatullah adalah... :. more

    ∞ Akun Facebook & Twitter Kami ∞

..:: Selamat Buat para Pemenang lomba web & blog Mahasiswa Universitas Airlangga Tahun 2015; 1.Mei Budi Utami [FST'12] | 2.Mita Erna Wati [FK'12] | 3.Teguh Bagus Pribadi [FKH'12] | 4.M. Roihan Hanafi [FISIP'12] | 5.Ari Zulaicha [FISIP'12] | 6. Muziburrahman [FPK'14] | => Terimakasih atas kunjungan Anda, jangan lupa kalau mau copy/paste harap cantumkan sumbernya, by : Teguh Bagus Pribadi, http://teguhbaguspribadi-fkh12.web.unair.ac.id, dan Blog ini DIPERBAHARUI sebulan 4x karena kesibukan Perkuliahan ::..

Tasawuf Sunni dan Falsafi serta Tokoh-Tokohnya

diposting oleh teguhbaguspribadi-fkh12 pada 07 June 2013
di Belajar Ilmu Tasawuf - 2 komentar

TASAWUF SUNNI
      A.  Pengertian Tasawuf Sunni
Tasawwuf sunni ialah aliran tasaawuf  yang berusaha memadukan asapek hakekat dan syari'at, 
yang senantiasa memelihara sifat kezuhudan dan mengkonsentrasikan pendekatan diri kepada allah, dengan berusaha sungguh-sugguh berpegang teguh terhadap ajaran al-Qur'an, Sunnah dan Shirah para sahabat.
Dalam kehidupan sehari-hari para pengamal tasawwuf ini berusaha untuk menjauhkan diri dari hal-hal yang bersifat keduniawian, jabatan, dan menjauhi hal-hal yang  dapat mengganggu kekhusua’an ibadahnya.

      B.     Latar Belakang Timbulnya Tasawuf Sunni 
Latar belakang munculnya ajaran ini tidak telepas dari pecekcokan masalah aqidah yang  melanda para ulama' fiqh dan tasawwuf lebih-lebih pada abad  kelima hijriah aliran syi'ah al-islamiyah yang berusaha untuk memngembalikan kepemimpinan kepada keturunan Ali Bin Abi Thalib. Dimana syi’ah lebih banyak mempengaruhi para sufi dengan doktrin bahwa imam yang ghaib akan pindah ketangan sufi yang layak menyandang gelar waliyullah, dipihak lain para sufi banyak yang dipengaruhi oleh filsafat Neo-Platonisme yang memunculkan corak pemikiran taawwuf falsafi yang tentunya sangat bertentangan dengan kehidupan para sahabat dan tabi’in. dengan ketegangan inilah muncullah sang pemadu syari’at dan hakekat yaitu Imam Ghazali yang selalu memagari pemikirannya dengan Al-Qur’an, Hadits dan ditambah dengan doktrin Ahlusunnah Wal jama’ah  .
Pada intinya tasawuf ini sangat menolak pendekatan kepada allah SWT dengan akal rasio, sebagaimana yang dikatakan Harun Nasution yang mengomentari pendapat Dzun An-Nun Misri tentang pengetahuan ( makrifat), Bahwa makrifat   yang paling tertinggi  ialah yang diperoleh oleh para wali Allah  ( sufi).
Pertentangan ini nampak jelas pada perkataan Junaid Al- Baqhdati ” seandainya aku jadi hakim niscaya akan aku penggal kepala orang yang mengatakan tidak ada yang maujud terkecuali Allah”
      C.    Tokoh-tokoh Tasawuf Sunni
Munculnya aliran-aliran tasawuf ini tidak terlepas dari tokoh-tokoh yang berperan di dalamnya. Begitu juga sama halnya dengan Tasawuf sunni. Diantara sufi yang mempunyai ajaran sama dengan Tasawuf sunni ( berpegang teguh kepada Qurdis dan shirah nabawiyah) dan menjadi tokoh tasawuf sunni adalah:

1.   Hasan al-Basri.
Hasan al-Basri adalah seorang sufi angkatan tabi’in, seorang yang sangat taqwa, wara’ dan zahid. Nama lengkapnya adalah Abu Sa’id al-Hasan ibn Abi al-Hasan. Lahir di Madinah pada tahun 21 H tetapi dibesarkan di Wadi al-Qura. Setahun sesudah perang Shiffin dia pindah ke Bashrah dan menetap di sana sampai ia meninggal tahun 110 H. setelah ia menjadi warga Bashrah, ia membuka pengajian disana karena keprihatinannya melihat gaya hidup dan kehidupan masyarakat yang telah terpengaruh oleh duniawi sebagai salah satu ekses dari kemakmuran ekonomi yang dicapai negeri-negeri Islam pada masa itu. Garakan itulah yang menyebabkan Hasan Basri kelak menjadi orang yang sangat berperan dalam pertumbuhan kehidupan sufi di bashrah. Diantara ajarannya yang terpenting adalah zuhud serta khauf dan raja’.
Dasar pendiriannya yang paling utama adalah zuhud terhadap kehidupan duniawi sehingga ia menolak segala kesenangan dan kenikmatan duniawi.
Prinsip kedua Hasan al-Bashri adalah al-khouf dan raja’. Dengan pengertian merasa takut kepada siksa Allah karena berbuat dosa dan sering melalakukan perintahNya. Serta menyadari kekurang sempurnaannya. Oleh karena itu, prinsip ajaran ini adalah mengandung sikap kesiapan untuk melakukan mawas diri atau muhasabah agar selalu memikirkan kehidupan yang akan dating yaitu kehidupan yang hakiki dan abadi.

2.   Rabiah Al-Adawiyah
Nama lengkapnya adalah Rabiah al-adawiyah binti ismail al Adawiyah al Bashoriyah, juga digelari Ummu al-Khair. Ia lahir di Bashrah tahun 95 H, disebut rabi’ah karena ia puteri ke empat dari anak-anak Ismail. Diceritakan, bahwa sejak masa kanak-kanaknya dia telah hafal Al-Quran dan sangat kuat beribadah serta hidup sederhana.
Cinta murni kepada Tuhan adalah puncak ajarannya dalam tasawuf yang pada umumnya dituangkan melalui syair-syair dan kalimat-kalimat puitis. Dari syair-syair berikut ini dapat diungkap apa yang ia maksud dengan al-mahabbah:
Kasihku, hanya Engkau yang kucinta,
Pintu hatiku telah tertutup bagi selain-Mu,
Walau mata jasadku tak mampu melihat Engkau,
Namun mata hatiku memandang-Mu selalu.
Cinta kepada Allah adalah satu-satunya cinta menurutnya sehingga ia tidak bersedia mambagi cintanya untuk yang lainnya. Seperti kata-katanya “Cintaku kepada Allah telah menutup hatiku untuk mencintai selain Dia”. Bahkan sewaktu ia ditanyai tentang cintanya kepad Rasulullah SAW, ia menjawab: “Sebenarnya aku sangat mencintai Rasulullah, namun kecintaanku pada al-Khaliq telah melupakanku untuk mencintai siapa saja selain Dia”. Pernyataan ini dipertegas lagi olehnya lagi mealui syair berikut ini: “Daku tenggelam dalam merenung kekasih jiwa, Sirna segalanya selain Dia, Karena kekasih, sirna rasa benci dan murka”.
Bisa dikatakan, dengan Al-Hubb ia ingin memandang wajah Tuhan yang ia rindu, ingin dibukakan tabir yang memisahkan dirinya dengan Tuhan.

3.   Dzun Al-Nun Al-Misri
Nama lengkapnya adalah Abu al-Faidi Tsauban bin Ibrahim Dzu al-Nun al-Mishri al-Akhimini Qibthy. Ia dilahirkan di Akhmin daerah Mesir. Sedikit sekali yang dapat diketahui tentang silsilah keturunan dan riwayat pendidikannya karena masih banyak orang yang belum mengungkapkan masalah ini. Namun demikian telah disebut-sebut oleh orang banyak sebagai seorang sufi yang tersohor dan tekemuka diantara sufi-sufi lainnya pada abad 3 Hijriah.

4. Abu Hamid Al-Ghazali
Al-Ghazali nama lengkapnya adalah Abu Hamid Muhammad ibn Muhammad ibn Ahmad. Karena kedudukan tingginya dalam Islam, dia diberi gelar Hujjatul Islam.Ayahnya, menurut sebagian penulis biografi, bekerja sebagai pemintal wol. Dari itulah, tokoh sufi yang satu ini terkenal dengan al-Ghazzali (yang pemintal wol), sekalipun dia terkenal pula dengan al-Ghazali, sebagaimana diriwayatkan al-Sam’ani dalam karyanya, al-Ansab, yang dinisbatkan pada suatu kawasan yang disebut Ghazalah. Al-Ghazali lahir di Thus, kawasan Khurasan, tahun 450 H (diriwayatkan pula dia lahir pada 451 H). menurut periwayatan al-Subki, dia serta saudaranya menerima pendidikan mistisnya dirumah seorang sufi sahabat ayahnya, setelah ayahnya meninggal dunia.
Di bidang tasawuf, karya-karya Al-Ghazali cukup banyak, yang paling penting adalah Ihya’ ‘Ulum al-Din. Dalam karyanya tersebut, dia menguraikan secara terinci pendapatnya tentang tasawuf, serta menghubungkannya dengan fiqh maupun moral agama. Juga karya-karya lainnya, al-Munqidz min al-Dhalal, dimana ia menguraikan secara menarik kehidupan rohaniahnya, Minhaj al-‘Abidin, Kimia’ al-Sa’adah, Misykat al-Anwar  dan sebagainya.
KARAKTERISTIK AJARAN POKOK DAN TOKOH

Karakteristik ajaran pokok para tokoh tasawuf sunni  yaitu tasawuf yang benar-benar mengikuti Al-qur’an dan Sunnah, terikat, bersumber, tidak keluar dari batasan-batasan keduanya, mengontrol prilaku, lintasan hati serta pengetahuan dengan neraca keduanya. Sebagaimana ungkapan Abu Qosim Junaidi al-Bagdadi: “Mazhab kami ini (Tasawuf) terikat dengan dasar-dasar Al-qur’an dan Sunnah”, perkataannya lagi: “Barang siapa yang tidak hafal (memahami) Al-qur’an dan tidak menulis (memahami) Hadits maka orang itu tidak bisa dijadikan qudwah dalam perkara (tarbiyah tasawuf) ini, karena ilmu kita ini terikat dengan Al-Qur’an dan Sunnah.”. Tasawuf ini diperankan oleh kaum sufi yang mu’tadil (moderat) dalam pendapat-pendapattnya, mereka mengikat antara tasawuf mereka dan Al-qur’an serta Sunnah dengan bentuk yang jelas. Boleh dinilai bahwa mereka adalah orang-orang yang senantiasa menimbang tasawuf mereka dengan neraca Syari’ah..

Tasawuf ini berawal dari zuhud, kemudian tasawuf dan berakhir pada akhlak. Mereka adalah sebagian sufi abad kedua, atau pertengahan abad kedua, dan setelahnya sampai abad keempat hijriyah. Dan personal seperti Hasan Al-Bashri, Imam Abu Hanifa, al-Junaidi al-Bagdadi, al-Qusyairi, as-Sarri as-Saqeti, al-Harowi, adalah merupakan tokoh-tokoh sufi utama abad ini yang berjalan sesuai dengan tasawuf sunni. Kemudian pada pertengahan abad kelima hijriyah imam Ghozali membentuknya ke dalam format atau konsep yang sempurna, kemudian diikuti oleh pembesar syekh Toriqoh. Akhirnya menjadi salah satu metode tarbiyah ruhiyah Ahli Sunnah wal jamaah. Dan tasawuf tersebut menjadi sebuah ilmu yang menimpali kaidah-kaidah praktis. 
        
Karakteristik dari ajaran tasawuf ini adalah
·         Ajarannya bener-bener menurut al-qur’an dan sunnah,terikat dan tidak keluar dari ajaran-ajaran syariah islamiah.
·         Lebih cenderung pads prilaku atau moral keagamaan dan pada pemikiran.
·         Banyak dikembangkan oleh kaum salaf.
·         Termotivasi untuk membersihkan jiwa yang lebih berorientasi pada aspek dalam yaitu  cara hidup yang lebih mengutamakan rasa,dan lebih mementingkan keagungan tuhan dan bebas dari egoisme.

Adapun  karakteristik ajaran para tokoh-tokoh tasawuf ini antara lain adalah:
•    Al Bashri Hasan
Karakteristik dasar pendiriannya yang paling utama adalah zuhud terhadap kehidupan dunawi sehingga ia menolak segala kesenangan dan kenikmatan duniawi. kedua adalah al-khouf dan raja’. Dengan pengertian merasa takut kepada siksa Allah karena berbuat dosa dan sering melalakukan perintahNya. Serta menyadari kekurang sempurnaannya. Oleh karena itu, prinsip ajaran ini adalah mengandung sikap kesiapan untuk melakukan mawas diri atau muhasabah agar selalu memikirkan kehidupan yang akan dating yaitu kehidupan yang hakiki dan abadi.
•     Rabiah Al Adawiyah
Karakteristik ajarannya adalah Ia merupakan orang pertama yang mengajarkan al hubb dengan isi dan pengertian yang khas tasawuf.Cinta murni kepada Tuhan merupakan puncak ajarannya dalam tasawuf yang pada umumnya dituangkan melalui syair-syair dan kalimat-kalimat puitis. Bisa dikatakan, dengan al-hubb ia ingin memandang wajah Tuhan yang ia rindu, ingin dibukakan tabir yang memisahkan dirinya dengan Tuhan.
•     Dzu Al Nun Al Misri
Karekteristik ajaran yang paling besar dan menonjol dalam dunia tasawuf adalah sebagai peletak dasar tentang jenjang perjalanan sufi menuju Allah,yang disebut Al maqomat. Beliau banyak memberikan petunjuk arah jalan menuju kedekatan dengan Allah sesuai dengan Pandangan sufi.
•    Abu Hamid Al-Ghazali
Inti tasawuf Al Ghazali adalah jalan menuju Allah atau ma’rifatullah. Oleh karena itu,serial Al maqomat dan al ahwal,pada dasarnya adalah rincian dari metoda pencapaian
•    Al-Qusyairi An-Naisabur  
Imam Al-Qusyairy pernah mengkritik para sufi aliran Syathahi yang mengungkapkan ungkapan-ungkapan penuh kesan tentang terjadinya Hulul (penyatuan) antara sifat-sifat kemanusiaan, khususnya sifat-sifat barunya, dengan Tuhan. Al-Qusyairy juga mengkritik kebiasaan para sufi pada masanya yang selalu mengenakan pakaian layaknya orang miskin. Ia menekankan kesehatan batin dengan perpegang pada Al-Qur’an dan Sunnah Rasul. Hal ini lebih disukainya daripada penampilan lahiriah yang memberi kesan zuhud, tapi hatinya tidak demikian. Dari sini dapat dipahami, Al-Qusyairy tidak mengharamkan kesenangan dunia, selama hal itu tidak memalingkan manusia dari mengingat Allah. Beliau tidak sependapat dengan para sufi yang mengharamkan sesuatu yang sebenarnya tidak diharamkan agama.
TASAWUF FALSAFI
     
A.    Pengertian Tasawuf Falsafi
Secara garis besar tasawuf falsafi adalah tasawuf yang ajaran-ajarannya memadukan antara visi mistis dan visi rasional.Tasawuf ini menggunakan terminologi filosofis dalam pengungkapannya, yang berasal dari berbagai macam ajaran filsafat yang telah mempengaruhi para tokohnya.
            Di dalam Tasawuf Falsafi metode pendekatannya sangat berbeda dengan tasawuf sunni atau tasawuf salafi. kalau tasawuf sunni dan salafi lebih menonjol kepada segi praktis (العملي ), sedangkan tasawuf falsafi menonjol kepada segi teoritis (النطري ) sehingga dalam konsep-konsep tasawuf falsafi lebih mengedepankan asas rasio dengan pendektan-pendekatan filosofis yang ini sulit diaplikasikan ke dalam kehidupan sehari-hari khususnya bagi orang awam, bahkan bisa dikatakan mustahil. Kaum sufi falsafi menganggap bahwasanya tiada sesuatupun yang wujud kecuali Allah, sehingga manusia dan alam semesta, semuanya adalahh Allah. Mereka tidak menganggap bahwasanya Allah itu zat yang Esa, yang bersemayam diatas Arsy.
B.     Tokoh Tasawuf Falsafi dan Ajarannya
1.      Ibn ‘Arabi (560-638)
a.      Biografi Singkat Ibn’arabi
Nama lengkap ibn ‘arabi adalah muhammad bin ‘ali bin ahmad bin ‘abdullah ath-tha’i al-haitami. Ia lahir di mercia, andalusia tenggara, spanyol, tahun 560 H, dari keluarga berpangkat, hartawan dan ilmuan. Tahun 620 H, ia tinggal di Hijaz dan meninggal di sana pada tahun 638 H. Namaya biasa di sebut tanpa Al untuk membedakan dengan abu bakar tanpa “al” untuk membedakan dengan abu bakar ibn al-‘arabi seorang qadhi dari sevilla yang wafat tahun 543 H. Di sevilla (spanyol), ia mempelajari al-Qur’an, hadis serta fiqih pada sejumlah murid andalusia terkenal, yakni ibn hazm az-zhahiri.
b.      Ajaran-ajaarn tasawuf ibn’arabi
·         Wahdat al-wujud
Ajaran sentral ibn ‘ibn arabi adalah tentang wahdat al-wujud (keastuan wujud). Meskipun demkian, istilah wahdat al-wujud yang di pakai untuk menyebut ajaran sentralnya itu, tidaklah berasal dari dia, tetapi berasal dari ibnu taimiyah, tokoh yang hwahdat al-wujud untuk menyebut ajaran sentral ibn ‘arabi, mereka berbeda pendapat dalam memformulasikan pengertian wahdar al-wujud.
Menurut ibnu taimiyah wadah al-wujud adalah penyamaan tuhan dengan alam menurut penjelasannya, orang yang mempunya paham wahdat al-wujud mengatakan bahwa wujud itu sesungguhnya hanya satu dan wajib al-wujud yang di miliki oleh khliq juga mukmin al-wujud yabg di miliki oleh makhluk, selain itu, orang-orang yang mempunyai paham wahdat al-wujud itu juga mengatakan bahwa wujud alam sama dengan wujud tuhan, tidak ada perbedaan.
Dari pengertian tersebut, ibn taimiyah telah menilai ajarn sentral ibn ‘arabi dari aspek tasybih-nya (penyerupaan khaliq dengan makhluk) saja, tetapi belum menilainya dari asek tanzihnya (penyusia khaliq). Sebag, kedua aspek tiu terdapat dalam ajaran ibn ‘arabi akan tetapi , perlu pula di dasari bahwa kata-kata ibn ‘arabi. Banyak membawa pada pengertian seperti yang pahami oleh ibn taimiyah meskipun di tempat lain terdapat kata-kata inb ‘arabi yang membedakan antara khaliw dengan makhluk dan antara tuhan dengan alam.  
Demi syu’ur (perasaan) ku, siapakah yang mukallaf? Jika engkau katakan hamba, padahal dia (pada hakikatnya) tuhan juga. Atau engkau katakan tuhan, lalu siapa yang di bebani talif?” Kalau di antara khaliq dan makhluk beratu dalam wujidnya, megapa terlihat dua? Ibn ‘arabi menjawab, sebab adalah manusia tidak memandangnya darisisi yang satu, tetapi memandang keduanya dengan pandangan bahwa keduanya adalah khaliq dari sisi yang satu dan makhluk dari sisi lain. Jika mereka merasa memandang keduanya dari sisi yang satu, mereka pasti akan dapat mengetahui hakikat keduannya, yakni dzatnya satu yang tidak terbiang dan berpisah.
c.       Haqiqah muhamaddiyah
Dari konsep wahdat ibn ‘arabi muncul lagi dua konsep sekaligus merupakan lanjutan atau cabang dari konsep wahdat al-wujud, yaitu konsep al-hakikat al muhamaddiyah dan konsep wahdat al-dyan (kesamaan agama) Menurut ibn ‘arabi, tuhan adalah pencipat alam semsesta adapun proses penciptaannya adalah sebagai berikut:
1)      Tajalli dzat tuhan dalam bentuk a’yan tsabitah
2)      Tanzul kepada dzat tuhan ma’ani ke alam (ta’ayyunat) realitas-realitas rohaniah, yaitu alam arwah yang mujarrad
3)      Tanazul kepada realitas-realitas nafsiah, yaitu alam nafsiah berpikir.
4)      Tanazul tuhan dalam bentk ide materi yang bukan materi yaitu alam mistal atau khayal.
5)      Alam materi, yaitu alam indrawi.
d.      Wahdatul adyann
Adapun yang berkenaan dengan konsepnya wahdat al-ady (kesamaan agama), bin ‘arabi memandang bahwa sumber agama adalah satu, yaitu hakikat muhamaddiyah.k onsekuensinya, semua agama adalah tunggal dan semua itu kepunyaan Allah. Seseorang yang benar-benar arif adalah menyembah Allah dalam setiap bidang kehidupanya, dengan kata lain dapat di katakan bahwa ibadah yang benar hendaknya abid memandang semua apa saja sebagai segbagian dari ruang lingkup realitas dzat tuhan yang tunggal sebagaimana ‘irnya, dikemukakannya dalam sya’irnya “kini Qalbuku bisa menampung semua Ilalang perburan kijang atau biara penderan Kuil pemuja berhala atau ka’bah Lau taurah dan mushalaf al-qur’an Aku hanya memeluk agama cinta ke mana pun Kendaraan-kendaraan menghadap. Karena cinta adalah  Agamaku dan imanku.
Menurut para penulis, pernyataa ibn ‘arabi ini terlalu berlebihan dan tidak punya landasan yang kuat sebab agama berbeda-beda satu sama lain.
2.      Al-Jili (1365-1417m)
a.       Biografi singkat al-jili
Nama lengkapnya adalah ‘abdul karim bin ibrahim al-jilil. Ia lahir pada tahun 1365 H. Di jilan (gilan), sebuah propinsi di sebelah selatan kaspia dn wafat pada tahun 1417 M. Nama al-jili di ambil dari tempat kelahirannya di glan. Ia adalah seorang sufi yang terkenal dari baghad. Riwayat hidupnya tidak banyak diketahui oleh para ahli sejarah, tetapi sebuah sumber mengatakan bahwa ia pernah melakukan perjalanan ke india tahun 1387 M. Kemudian belajar tasawuf di bawah bimbingan Abdul Qadir al-jailani, seorang pendiri dan pemimpin tarekat Qadariyah yang sangat terkenal. Di samping itu, berguru pula pada syekh syafaruddin sima’il bin ibrahim AL-jabarti di zabid (yaman) pada tahun 1393-14-3 M.
b.      Ajaran tasawuf al-jili
Ajaran tasawuf al-jili yang terpenting adalah paham insan kamil (manusia sempurna) menurut al-jili insan kamil adalah nuskhah atau copy tuhan, seperti di sebutkan dalam hadis Artinya: Allah menciptakan adam dalam bentuk yang maharman “ Hadis lain: Artinya “Allah menciptakan adam dalam bentuk dirinya”
c.       Maqamat (al-martabah)
Sebagai seorang sufi, al-jili dengan membawa filsafat inasn kamil merumuskan beberapa maqam yang harus dilalui seorang sufi, yang menganut istilahnya ia disebut al-martabah (jenjang atau tingkat) tingkat itu adalah
1)      Islam
2)      Iman
3)      Shalah
4)      Ihsan
5)      Syahdah
6)      Shiddiqiyah
7)      Qurbah
3.      Ibnu Sabi’in
a.      Biografi singkat ibn sab’in
Nama lengkapnya adalah ibn sabi’in adalah ‘abdul haqq ibn ibrahim muhammad ibn nashr, seorang sufi yang jufa filosof dari andalusia. Dia terkenal di eropa karena jawaban-jawabannya ata pernyataan federik II, penguasa sicilia. Di dipanggil ibn sabi’in dan digelari Quthbuddin. Terkadang, ida dikenal pula dengan abu muhammad dan mempunyai asal-usul arab, dan dilahirkan tahun 614 H (1217/1218M) di kawasan murcia. Dia mempelajari bahasa arab dan sastra pada kelompok gurunya. Ia juga mempelajari ilmu-ilmu agama dari mazhab maliki, ilmu-ilmu logika dan filsafat. Dia mengemukakan bahwa di antara guru-gurunya adalah ibn dihaq, yang di kenal dengan ilmu al-mir’ah (meniggal tahun 611 H) yang keduanya ahli tentang huruf dan nama. Menurut salah seorang murid ibn sabi’in, yang mansyarah kitab risalah al-‘abd hubungan antara ibn sabi’in dan gurunya tersebut lebih banyak terjalin lewat kitab dari pada langsung
b.      Ajaran tasawuf ibn sabi’in
Kesatuan mutlak
Ibn sabiin adalah seorang pengasas sebuah paham dalam kalangan tasawuf filosofis, yang dikenal dengan paham kesatuan mutlak. Gagasan esensial pahamnya sederhanas saja, yaitu wujud adalah suatu alias wujud Allah semata. Wujud-wujud lainnya hanyalah wujud yang satu itu sendiri. Jelasnya, wujud-wujud yang lain itu hakikatnya sama sekali tidak lebih dari wujud yang satu semata. Dengan demikian, wujud dalam kenyataan hanya satu persoalan yang tetap.

HASAN AL-BASHRY
1.Biografi Hasan Basri
Nama lengkapnya Hasan Bin Abil Hasan Al Basri, ia dilahirkan di madinah pada tahun terakhir dari kekhalifaan umar bin khattab  pada tahun 21 H. asal keluarganya berasal dari misan, suatu desa yang terletak antara basrah dan wasith. Kemudian mereka  pindah ke Madinah.
Ayah hasan Al- Basri adalah seorang budak milik  Zaid  bin Tsabit sedangkan ,ibunya juga seorang budak milik ummu salamah, istri Nabi muhmmad. Ummu salamah sering mengutus budaknya untuk suatu keperluannya, sehingga hasan seorang anak budaknya sering disusui oleh ummu salamah. Dikisahkan bahwa ummu salamah sebelum islam adalah seorang yang  paling sempurna akhlaknya dan pendiriannya sangat teguh, ia juga seorang perempuan yang sangat luas keilmuaannya diantara istri-istri Nabi.
Kemungkinan besar hasan basri menjadi ulama yang sangat populer dan sangat dihormati, dikarenakan atasBarakah susuan ummu salamah yang diberikan ketika Hasan Basri masih kecil.
Pada usia 12 tahun ia sudah hafal al-qur’an , saat usianya 14 tahun hasan bersama keluarganya pindah ke kota Basrah, irak. Semenjak  itulah ia dikenal dengan nama Hasan Basri, yaitu Hasan yang bertempat tinggal dikota Basrah. dikala itu basrah merupakan kota keilmuan yang pesat peradabannya, sehingga para Tabi’in yang singgah kesana untuk  memperdalam keilmuannya.
Di basrah ia sangat aktif untuk mengikuti perkuliahannya, ia banyak belajar kepada ibnu abbas, dari ibnu abbas ia memperdalam ilmu tafsir, ilmu hadist dan qira’at. Sedangkan ilmu fiqh, bahasa dan sastra didapatkan dari sahabat yang lain.
2. Ajaran Tasawuf Hasan Basri
Abu Nain Al-Ashbahani menyimpulkan pandangan tasawuf Hasan Al-Bashri sebagai berikut, “ takut (khauf) dan pengharapan(raja’) tidak akan dirundung kemuraman dan keluhan ; tidak pernah tidur senang karena selalu mengingat Allah. “pandangan tasawufnya yang lain adalah anjuran kepada setiap orang untuk senantiasa bersedih hati dan takut kalau tidak mampu melaksanakan perintah Allah dan menjauhi seluruh larangan-Nya. Sya’rani pernah berkata, “demikian takutnya, sehingga seakan-akan ia merasa bahwa neraka itu hanya dijadikan untuk ia (Hasan Al-Bashri).

Lebih jauh lagi, Hamka mengemukakan sebagian ajaran tasawuf Hasan Al-Bashri seperti ini.
  • Perasaan takut yang menyebabkan hatimu tentram lebih baik dari pada rasa tentran yang menimbulkan perasaan takut.
  • Dunia adalah negeri tempat beramal.barang siapa bertemu dunia dengan perasaanbenci dan zuhud, ia akan berbahagia dan memperoleh faedah darinya. Namun,barang siapa yang bertemu dunia dengan perasaan rindu dan hatinya bertambal dengan dunia, ia akan sengsara dan akan berhadapan dengan penderitaan yang tidak akan ditanggungnya.”
  • “tafakur membawa kita pada kebaikan dan selalu berusaha untuk mengerjakannya. Menyesal ataas perbuatan jahat menyebabkan kita bermaksud untuk tidak mengulanginya lagi. Sesuatu yang fana’ betapapun banyakya tidak akan menyamai sesuatu yang baqa betapapun sedikitnya. Waspadalah terhadap negeri yang cepat ating dan pergi serta penuh tipuan.”
  • “dunia ini adalah seorang janda tua yang telah bungkuk dan beberapa kali ditinggalkan mati suaminya.”
  • “orang yang beriman akan senantiasa berduka cita pada pagi dan sore hari karena berada diantara dua perasaan takut ; takut mengenang dosa yang telah lampau dan takut memikirkan ajal yang masih tinggal serta bahaya yang akan mengancam.”
  • “hendaklah setiap orang sadar akan kematian yang senantiasa mengancamnya, dan juga takut akan kiamat yang hendak menagih janjinya.”Banyak duka cita didunia memperteguh semangat amal saleh.
3. Keteladanan Hasan –Basri
Hasan basri adalah seorang ulama Tabi’in  yang sangat mementingkan kehidupan akhirat. Yang patut kita teladani dari kehidupan dari Hasan Basri adalah kezuhudtannya, ia pernah ditanyai tentang masalah pakaian.
Pakaian apa yang paling kamu sukai? Tanya orang-orang   “ yang paling tabal, yang paling kasar, yang paling hina menurut pandangan manusia” jawab hasan basri . Dari perkataan inilah dapat kita pahami bahwa hasan basri sangat enggan dari dunia kemewahan apalagi kenyamanan dan tingkah lakunya sangat menjauhkan dari pujian manusia.
Hasan Basri tidak pernah memerintah, memberikan nasihat dan anjuran sebelum ia sendiri melakukan dengan ketulusan hatinya, karena selayaknya seorang yang yang berdakwah dijalan tuhan harus menjadi panutan sesama. Dan ia juga tidak pernah melakukan larangan sebelum ia sendiri menjauhkan terlebih dahulu. Hal tersebut menujukkan bahwa hasan memang penuh ke strategis dalam berdakwah.
Lebih dari itu hasan basri adalah adalah orang yang penyabar  dan penuh dengan kebijaksanaan. Hasan basri mempunyai seorang tetangga yang beragama nasrani, diatas rumah Hasan basri oleh oleh tetangga tersebut didirikan kamar kecil, karena rumah Hasan Basri dengannya jadi satu atap. Setiap membuang air kecil selalu menetes ke ruang kamar   Hasan Basri, kejadian ini  berlangsung bukan hanya berjalan satu bulan atau satu tahun, melainkan 20 tahun. Akan tetapi hasan basri tidak pernah marah-marah dan mempermalahkannya. hasan basri tidak mau membuat kecewa tetangganya . Karena hasan basri mengamalkan Sabda Nabi  “ barang siapa yang beriman kepada allah dan hari akhir maka muliakannah tetanggnya”. Bahkan Hasan Basri menyuruh kepada istinya untuk meletakkan wadah di kamarnya supaya air kencingnya tertampung dan tidak berceceran.
Ketika hasan basri sakit, salah satu tetangganya mengunjungi beliau ternyata  di dalam rumahnya ada wadah yang digunakan untuk  menampung kencing, setelah diperiksa wadah yang ada di dalam kamar hasan tersebut,  ternyata runtuhan air kencing yang  berasal dari atas  kamar kecil yang berada di atas rumahnya.
 setelah ditanya. Sejak kapan engkau bersabar dengan tetesan air kencing ini? Tannya  sitetangga tadi. Hasan Basrti  diam saja tidak menjawab, mungkin hasan basri tidak mau membuat tetangganya tidak enak.
Hasan katakanlah dengan jujur  sejak kapan engkau bersabar  dengan air kencing ini? Jika kau diam saja dan tidak mau berterus terang aku akan merasa tidak  enak,  Tanya teangga nasrani tadi, akhirnya dengan penuh pemaksaan, hasan basri mau menjawab juga; selama 20 tahun ; jawab hasan basri
mengapa engkau kok diam saja dan tidak mempermasalahkan hal ini? Tanya tetangga tadi . akan tetapi hasan Hasan menjawab “ aku tidak ingin mengecewakan tetangga aku, karena Nabi Muahammad SAW  bersabda “barang siapa yang berimana kepada allah dan hari akhir maka mulikanlah tetangganya”
ketika itu pulalah ia masuk  islam berbondong-bondong bersama keluarganya. Ternyata  hasan basri penuh dengan keteladanan, ia tidak pernah memaksa seseorang untuk masuk islam, akan tetapi yang paling dianjurkan oleh baliau, sikap ramah, lemah lembut, penuh dengan pengertian dan kebijaksanaan  yang bisa mengantarkan ketertarikan kepada  orang yang diluar islam untuk mengikuti agama islam.
4. Karamah Hasan Basri
Dikisahkan pada suatu hari ada seorang ulama  ahli tafsir yang berkenamaan abu Amr sedang memberikan pengajiannya, tiba-tiba  ada seorang pemuda yang  datang untuk mengikuti pengajiann Tersebut, Abu Amr sangat terpesona dengan wajah pemuda tadi. Pada saat itulah apa yang dimilki oleh abu amr  yaitu ilmu Al-Qur’an telah hilang dari ingatannya
Abu amr dengan penuh gelisah dan penyesalan mengadu kepada kepada sang imam hasan  “ setiap kata dan hurufAl-Qur’an telah hilang dari ingtanku”  hasan berkata “ sekarang ini musim haji, pergilah ketanah suci dan tunaikanlah ibadah haji. Setelah itu pergilah ke masjid khaif. Disana akan ada seorang yang sangat tua, janganlah engkau langsung menemuinya, tapi tunggulah sampai keasyikan ibadahnya selesai, setelah itu barulah engkau mohon do’a padanya.
Abu amr menuruti perkataan Hasan Basri, setelah berhaji ditanah suci ia pergi ke khaif. ternyata disana ada seorang lelaki tua beserta beberapa orang yang sedang mengelilinginya. tak berjarak beberapa kian muncullah seseorang yang berbaju putih bersih datang kepada sekumpulan orang tersebut, dan berbincang-bincang. Setalah beberapa kemudian pergilah mereka semua, hanya tinggallah orang tua yang hanya sendirian.
Kemuadian Abu Amr menemuinya dan mengucapkan salam. “ dengan nama allah, tolonglah diriku ini, kata abu amr sambil mengangis, kemudian Abu Amr menerangkan tentang apa yang terjadi pada dirinya. Seketika itu ia menengadahkan dan menundukkan kepalanya untuk mendo’akan Abu Amr.
Abu Amr berkata ; ”semua kata dan huruf Al-Qur’an telah kuingat kembali lalu sujud terima kasih kepadanya”
Siapakah yang menyuruhmu untuk datang kepadaku?” tutur orang tua tadi.  Abu Amr menjawab;  Hasan basri”. 
Kalau  orang-orang  sudah mempunyai imam seperti  hasan mengapa masih mencari imam seperti aku? Turur orang tua tadi. Ternyata Hasan telah membuka selubung tentang diriku, sekarang aku akan membuka siapa Hasan basri sebenarnya.
Seorang laki-laki yang berbaju putih  yang telah datang kemari setelah shalat ashar tadi, dan orang yang pertama meninggalkan tempat ini, ia adalah Hasan Basri. Setiap hari sesudah shalat  ashar ia datang kemari untuk berbincang-bincang denganku, setelah selesai berbincang-bincang denganku ia segera pergi ke Basrah untuk menunaikan shalat maghrib disana. Kalau sudah mempunyai imam seperti hasan basri mengapa masih mencari imam seperti diriku.

RABI’AH AL-ADAWIYAH
Rabi’ah Al-Adawiyah dalam perkembangan mistisme dalam Islam tercatat sebagai peletak dasar tasawuf berdasarkan cinta kepada Allah SWT. Hal ini karena generasi sebelumnya merintis aliran asketisme dalam Islam berdasarkan rasa takut dan pengharapan kepada Allah SWT. Rabi’ah pula yang pertama-tama mengajukan pengertian rasa tulus ikhlas dengan cinta yang berdasarkan permintaan ganti dari Allah SWT. Sikap dan pandangan Rabi’ah Al-Adawiyah tentang cinta dapat dipahami dari kata-katanya, baik yang langsung maupun yang disandarkan kepadanya. Al-Qusyairi meriwayatkan bahwa ketika bermunajat. Rabi’ah menyatakan do’anya, “Tuhanku, akankah Kau bakar kalbu yang mencinntai-Mu oleh api neraka? “ Tiba-tiba terdengar suara, “Kami tidak akan melakukan itu. Janganlah engkau berburuk sangka kepada Kami.” Diantara sya’ir cinta Rabi’ah yang paling masyhur adalah:
“Aku mencintai-Mu dengan dua cinta, cinta karena diriku dan karena diri-Mu. Cinta karena diriku adalah keadaan senantiasa mengingatkan-Mu, Cinta karena diri-Mu adalah keadaanku mengungkapkan tabir sehingga Engkau kulihat. Baik ini maupun itu, pujian bukanlah bagiku. Bagi-Mu pujian untuk kesemuanya.”
Untuk memperjelas pengertian Al-hub yang diajukan Rabi’ah, yaitu hub Al-hawa dan hub anta ahl lahu, perhatikanlah tafsiran beberapa tokoh berikut. Abu Thalib Al-Makiy dalam Qut Al-Qulub sebagaimana dijelaskan Badawi, memberikan penafsiran bahwa makna hubb Al-hawa adalah rasa cinta yang timbul dari nikmat-nikmat dan kebaikan yang diberikan Allah. Adapun yang dimaksud nikmat-nikmat adalah nikmat material, tidak spiritual, karenanya hubb disini bersifat hubb indrawi. Walaupun demikian, hubb Al-hawa yang diajukan Rabi’ah ini tidak berubah-rubah, tidak bertambah dan berkurang karena bertambah dan berkurangnya nikmat. Hal ini karena Rabi’ah tidak memandang nikmat itu sendiri, tetapi sesuatu yang ada dibalik nikmat tersebut. Adapun Al-hubb anta ahl lahu adalah cinta yang tidak didorong kesenangan indrawi, tetapi didorong Dzat yang dicintai. Cinta yang kedua ini tidak mengharapkan balasan apa-apa. Kewajiban-kewajiban yang dijalankan Rabi’ah timbul karena perasaan cinta kepada Dzat yang dicintai.

Rabi’ah termasuk dalam golongan wanita Sufi pilihan yang mengungguli hampir semua tokoh Sufi sezaman dalam menempuh jalan menuju Allah. Jika seseorang hendak mengutip nam-nama sebagian wali Sufi besar dari periode awal Islam hingga sekarang ini, maka tak pelak lagi nama Rabi’ah pasti termasuk di dalamnya. Bahwa keunggulan ketaqwaan (taqwa), makrifat (ma’rifah), dan kezuhudan (zuhd) Rabi’ah telah menjadikannya sebagai simbul kewalian di kalangan kaum Sufi wanita cukup melukiskan kedudukannya yang tak tertandingi. Kesempurnaan dan berbagai keutamaan jiwanya (fadha’il nafsani) berkembang jauh melampaui kebanyakan wali Sufi kurun waktu kemudian, yang menjadikannya terkenal sebagai “Mahkota Kaum Pria” (Taj Al-Rijal).
Pujian ekstatik Farid Al-Din ‘Aththar kepadanya dalam Manthiq Al-Thayr menggemakan perasaan-perasaan ini:
Bukan, ia bukan seorang wanita,
melainkan lebih dari seratus orang pria,
Berjubah inti penderitaan dari kaki hingga wajah,
Tenggelam dalam kebenaran,
Lenyap dalam pancaran Tuhan,
Dan terbebas dari segenap keberlimpahan.
‘Aththar juga memuji Rabi’ah dalam karyanya Tadzkirah Al- Awliyah”: “Sang zahid mulia yang tinggal dibalik biara orang-orang pilihan Tuhan, seorang wanita suci dibawah hijab ketulusan, terbakar api cinta, tenggelam dalam kerinduan, tersulut oleh gairah kedekatan kepada Allah, utusan kesucian Maryam, diakui semua orang adalah Rabi’ah Al- ‘Adawiyah, semoga Allah merahmatinya. “Ia juga menulis, “Baik dalam berbagai keutamaan sosial (mu’amalat) dan makrifat (ma’rifah) nya, Rabi’ah tidak tertandingi pada zamannya dan diakui oleh orang-orang besar pada masanya.
RABI’AH AL – ADAWIYAH
A. BIOGRAFI RABI’AH AL – ADAWIYAH
1. Kelahiran dan Masa Kecil
Suatu teori, pemikiran , ide atau ajaran seorang tokoh dapat dikenali dan dipahami dengan baik, apabila diketahui latar belakang kehidupannya. Oleh karena itu, sebelum memasuki pokok pembahasan lebih jauh, perlu dikemukakan terlebih dahulu riwayat hidup Rabi’ah al-Adawiyah. Dengan demikian, akan dapat diketahui keadaan yang melatar belakangi perjalanan hidup, corak serta sistem pemikiran atau ajaran yang membawanya hingga tingkat cinta terhadap Tuhan Yang Tercinta.
Nama lengkap Rabi’ah adalah Rabi’ah bin Ismail Al-Adawiyah Al-Bashriyah Al-Qaisiyah. Ia diperkirakan lahir pada tahun 95 H / 713 M atau 99 H / 717 M di suatu perkampungan dekat kota Bashrah (Irak) dan wafat di kota itu pada tahun 185 H / 801 M. Tidak ada bukti otentik yang dapat menjelaskan waktu kelahirannya secara pasti. Harun Nasution, M. Mastury dan Abudin Nata menyebutkan bahwa Rabi’ah lahir pada tahun 714 M. Rabiah dilahirkan dalam keluarga yang miskin. Ayahnya bernama Ismail. Konon keluarga Ismail hidup dengan penuh taqwa dan iman kepada Allah SWT, tak henti-hentinya melakukan dzikir dan beribadah melaksanakan ajaran-ajaran Islam.
Kondisi hidup dalam kemiskinan menyebabkan Ismail dan istrinya selalu berdo’a mohon dikarunia anak laki-laki, yang diharapkan dapat membantu mengurangi penderitaan yang dialami. Namun derita kemiskinannya semakin terasa, karena sampai lahir tiga anak semuanya perempuan. Oleh karena itu, Ismail benar-benar meningkatkan ibadahnya dan memohon agar janin yang dikandung istrinya, yang keempat adalah laki-laki.
Allah SWT menghendaki lain. Manusia boleh berusaha, tetapi Allah lah yang menentukan segalanya. Anak keempat pun lahir perempuan. Itulah sebabnya , orang tuanya menamakannya Rabi’ah. Maka pupuslah harapan Ismail. Kemiskinan benar-benar menyelimutinya. Menyambut kelahiran Rabi’ah dengan derita, istri Ismail berkata kepada suaminya: “Kakanda tercinta, pergilah ke rumah sebelah. Mungkin mereka memiliki setetes minyak. Mungkin memiliki kain bekas yang pantas dihadiahkan kepada kita, tolong mintalah. Biar anak kita yang baru lahir bisa kita selimuti dengan sepotong kain”.
Keinginan istrinya itu dipenuhinya, namun tak seorang tetangga pun yang mau membukakan pintu untuk memberikan atau meminjamkan sepotong kain, maka Ismail menghibur istrinya: “Istriku, tetangga kita sedang tidur nyenyak. Bersyukurlah kepada Allah SWT, karena selama hayat kita belum pernah meminta-minta. Lebih baik selimuti saja anak kita dengan sepotong kain yang masih basah itu. Percayalah dan tawakallah kepada Allah SWT. Tentu Dia akan memberikan jalan keluar yang terbaik buat kita, dan hanya Dialah yang memelihara serta memberikan kecukupan kepada kita. Percayalah wahai istriku tercinta”.
Kalimat-kalimat diatas, digunakan oleh Abdul Mun’im Qandil untuk menggambarkan bagaimana miskinnya keluarga Ismail saat Rabi’ah dilahirkan. Ismail menamakan Rabi’ah, karena ia adalah anak yang keempat. Sedangkan Adawiyah dilakobkan karena ia berasal dari bani Adawiyah. Istri dan ketiga anaknya tidak setuju dengan nama tersebut, yang dianggap aneh dan jelek, maka Ismail pun sangat sedih. Akan tetapi saat tidur, malam hari, Ismail bermimpi bertemu Rasulullah SAW. Rasulullah SAW berkata: “Janganlah engkau bersedih, karena putrimu itu akan menjadi seorang perempuan mulia, sehingga banyak orang akan mengharapkan syafa’atnya”.
Kemudian Rasulullah SAW menyuruh ayah Rabi’ah untuk pergi menemui Isa Zadan, Amir Basrah dengan menyiapkan sepucuk surat berisi pesan Rasulullah SAW, seperti yang disampaikan dalam mimpinya. “Hai Amir, engkau biasanya shalat 100 raka’at setiap malam. Dan setiap malam jum’at 400 raka’at, tetapi pada hari jum’at yang terakhir, engkau lupa melaksanakannya. Oleh karena itu, hendaklah engkau membayar 400 dinar kepada yang membawa surat ini sebagai kifarat atas kelalaian itu”. Pada pagi hari, ayah Rabi’ah menulis sepucuk surat seperti yang dipesankan oleh Rasulullah SAW dan pergi ke istana Amir.
Dikarenakan tidak dapat langsung menemui Amir, surat itu diserahkan kepada pengawal istana, yang langsung pergi menghadap. Ketika Amir membaca surat dari ayah Rabi’ah, ia segera memerintahkan untuk segera menyerahkan 400 dinar. Namun ia segera membatalkan perintahnya seraya berkata: “Biarlah saya sendiri yang mengantarkan uang ini, sebagai penghormatan terhadap orang yang mengirim pesan ini, dan saya akan mengawasi anaknya yang mulia ini”. Dengan peristiwa tersebut, maka berubahlah persepsi Ismail dan istrinya terhadap anak perempuannya yang keempat. Kemudian mereka menyambut kehadiran Rabi’ah dengan bahagia.
Rabi’ah tumbuh dan berkembang dalam lingkungan keluarga yang terbiasa dengan kehidupan orang saleh dan zuhud. Sejak kecil sudah tampak kecerdasan Rabi’ah, sesuatu yang biasanya tak terlihat pada gadis kecil seusianya. Oleh karena itu pula sejak kecil ia sudah menyadari kepapaan dan penderitaan yang dihadapi orang tuanya. Kendati demikian hal itu tidak mengurangi ketakwaan dan pengabdian keluarga Rabi’ah terhadap Allah SWT. Dalam kehidupan sehari-harihari, ia selalu memperhatikan bagaimana ayahnya melakukan ibadah kepada Allah SWT sesuai dengan yang telah dilihat dan didengarnya dari ayahnya.
Pernah Rabi’ah mendengar ayahnya berdo’a memohon kepada Allah SWT dan semenjak itu , lafal-lafal do’a itu tidak pernah hilang dari ingatannya, selalu diulang-ulang dalam doa’nya Dengan akhlaq yang mulia, tidak jarang Rabi’ah membangkitkan rasa kagum ayahnya. Ia tidak pernah mencaci orang atau menyakiti perasaan manusia. Pernah pada suatu hari, ketika seluruh anggota keluarga telah duduk disekitar meja makan, kecuali Rabi’ah. Diceritakan oleh Muhammad Atiyah Khamis sebagai berikut: Ia masih berdiri memandang ayahnya, seolah minta penjelasan dari ayahnya mengenai makanan yang terhidang.
Dikarenakan ayahnya masih berdiam diri, Rabi’ah berkata: “Ayah, aku tidak ingin ayah menyediakan makanan yang tidak halal. Dengan keheranan ayahnya menatap muka puterinya yang masih kecil itu yang telah memperhatikan iman yang kuat. Ayahnya menjawab: “Rabi’ah, bagaimana pendapatmu jika tiada lagi yang bisa kita peroleh kecuali barang yang haram ? … “Rabi’ah menjawab: “Biar saja kita menahan lapar di dunia, ini lebih baik daripada kita menahannya kelak di akhirat dalam api neraka”.
Saat masih kecil, Rabi’ah adalah gadis yang salihah. Apalagi setelah kedua orang tuanya meninggal. Ia menjadi anak yatim piatu, yang tidak mewarisi harta benda dari orang tuanya. Kakaknya belum dewasa. Dalam usia yang masih muda belia, Rabi’ah dan kakak-kakaknya harus mencari pekerjaan untuk hidup. Satu-satunya peninggalan orang tuanya, yang agak berarti adalah sebuah perahu kecil, yang dipakai ayahnya untuk mencari nafkah. Rabi’ah melanjutkan pekerjaan ayahnya, menyeberangkan orang di sungai Dajlah. Menurut cerita, Rabi’ah yang paling siap mental maupun fisiknya untuk hidup sendiri, dibandingkan ketiga kakaknya.
Ia sering menangis karena teringat kedua orang tuanya. Namun ia juga tak jarang menangis tanpa sebab yang ia ketahui. Pernah suatu sore, sepulang dari sungai, Rabi’ah menangis tersedu-sedu lalu kakaknya ‘Abdah menegurnya: ”Apa yang sedang engkau sedihkan Rabi’ah ?” “Tak tahulah aku, namun aku merasa sedih sekali”. Jawabnya dan Rabi’ah terus saja menangis. Disela-sela isaknya ia berkata: “Aku merasakan suatu kesedian yang aneh sekali. Tak tahulah aku sebabnya. Seoalah-olah ada suatu jeritan di lubuk hatiku, yang menyebabkan aku menangis. Bagaikan suatu munajat didalam pendengaranku tak dapat aku hadapi, kecuali dengan mengucurkan air mataku”.
Setelah peristiwa tersebut, Rabi’ah selalu mimpi pada malam hari, berulang-ulang dengan mimpi yang sama. Dalam mimpi itu, Rabi’ah melihat cahaya yang amat terang, yang akhirnya menyatu dalam tubuh dan jiwanya. Setelah beberapa malam mimpi itu hadir dalam tidurnya, maka pada suatu siang hari, saat Rabi’ah berada sendirian diatas perahunya, nyatalah mimpi itu. Rabi’ah menatap cakrawala, tiba-tiba ia mendengar suara yang sangat merdu:
“Lebih indah dari senandung serunai yang merdu di kegelapan malam terdengar baca’an Al-Qur’an. Alangkah bahagianya karena Tuhan mendengarnya. Suara yang merdu membangkitkan keharuan, dan air mata pun bercucuran. Pipinya sujud menyentuh tanah bergelimang debu sedang hatinya penuh cinta Ilahi, Ia berkata, Tuhanku, Tuhanku, Ibadah kepada-Mu meringankan deritaku.
Rabi’ah segera beranjak pulang dan ingin segera tidur, karena sudah mengantuk. Akan tetapi ada kejadian yang mengejutkannya lagi. Tempat tidurnya diselimuti cahaya, yang menyenandungkan kalimat yang pernah didengarnya dan memanggil Rabi’ah: “Hai Rabi’ah, belum datangkah saatnya engkau kembali kepada Tuhanmu? ... Ia telah memilihmu, menghadaplah kepadanya”. Peristiwa-peristiwa tersebut mengantarkan Rabi’ah kepada kehidupan yang penuh dengan ibadah kepada Allah SWT. Diceritakan, bahwa sejak masa kanak-kanaknya ia telah hafal al-Qur’an dan sangat kuat beribadah serta hidup sederhana.
2. Menjadi Budak
Konon pada saat terjadinya bencana perang di Bashrah, ia dilarikan penjahat dan dijual kepada keluarga Atik dari suku Qais Banu Adwah. Derita Rabi’ah, gadis yatim piatu itu semakin bertambah ketika kota Bashrah dilanda musibah kekeringan dan kelaparan. Banyak penduduk miskin meninggal kelaparan, termasuk ketiga kakak Rabi’ah yang lemah, yang membuat ia menjadi gadis sebatang kara. Musibah itu mengakibatkan merajalelanya berbagai bentuk kejahatan dan perbudakan. Keberadaan Rabi’ah diketahui oleh orang jahat. Ia dijadikan budak dan dijual seharga enam dirham. Orang yang membeli Rabi’ah menyuruhnya mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang berat.
Pada suatu hari ketika ia berjalan-jalan seseorang yang tak dikenal datang menghampirinya. Rabi’ah mencoba mencoba melarikan diri, tiba-tiba ia jatuh tergelincir, sehingga tangannya terkilir. Rabi’ah menangis sambil menundukkan mukanya ke tanah, “Ya Allah, aku adalah seorang asing di negeri ini tidak mempunyai ayah bunda, seorang tawanan yang tak b

2 Komentar

devi

pada : 28 November 2015


"good information"


Iswani

pada : 22 December 2015


"saya minta di cantumkan tentang biografi tokoh Junaid Al-Baghdadi serta pemikirannya. karena setau saya Junaid al-baghdadi termasuk dalam tokoh tasawuf sunni"


Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :