Teguh Bagus of Veterinary Medicine site v.2

Excellence with Morality

__Sertifikasi dan Prestasi__

    Standart ISO 9001:2008 Kepada Universitas Airlangga oleh British Certification International

_Berbagi tak pernah Rugi_

    Teguh Bagus of Veterinary Medicine site v.2

    ____Hakikat Manusia____

    .: Barang siapa mengenal dirinya, maka ia akan mengenal TuhanNya. Seperti bahasan kita yaitu Awwal- uddin Ma'rifatullah adalah... :. more

    ∞ Akun Facebook & Twitter Kami ∞

..:: Selamat Buat para Pemenang lomba web & blog Mahasiswa Universitas Airlangga Tahun 2015; 1.Mei Budi Utami [FST'12] | 2.Mita Erna Wati [FK'12] | 3.Teguh Bagus Pribadi [FKH'12] | 4.M. Roihan Hanafi [FISIP'12] | 5.Ari Zulaicha [FISIP'12] | 6. Muziburrahman [FPK'14] | => Terimakasih atas kunjungan Anda, jangan lupa kalau mau copy/paste harap cantumkan sumbernya, by : Teguh Bagus Pribadi, http://teguhbaguspribadi-fkh12.web.unair.ac.id, dan Blog ini DIPERBAHARUI sebulan 4x karena kesibukan Perkuliahan ::..

PENETASAN TELUR dengan Pemanas lampu (Mesin Penetas)

diposting oleh teguhbaguspribadi-fkh12 pada 09 December 2013
di Materi Kuliah Semester 3 - 0 komentar

PENETASAN TELUR

 

 

Tujuan  : Untuk mempelajari bagaimana cara menetaskan telur dengan mesin tetas serta persiapan-

               persiapan yang diperlukan untuk operasionalnya.

 

Pengertian/definisi:

  1. Telur tetas  : Telur yang diperoleh dari induk yang dikawinkan dan diharapkan selama 21 hari penetasan akan menghasilkan anak ayam.
  2. Telur fertil  : Telur yang telah ditunasi dimana perkembangan sel telur pada saat ovipsition telah mencapai stadium blastoderm.
  3. Telur Infertil  : Telur yang tidak ditunasi dan digunakan sebagai telur konsumsi.
  4. Fertilitas  : Jumlah telur yang fertil dari sekelompok telur yang ditetaskan (%) atau :

             jumlah telur yang masuk – telur infertil   x 100%

                     jumlah telur yang dimasukkan

      5.   Daya tetas  : jumlah anak ayam yang menetas dari sekelompok telur yang ditetaskan (%) atau :

                                              Jumlah anak ayam          x 100%

                                        Jumlah telur yang ditetaskan

  1. Mortalitas selama penetasan  : Adalah jumlah embrio yang mati selama penentasan (%) atau:

                      Jumlah (telur fertil – telur menetas)   x 100%

                                      Jumlah telur yang fertil

  1. Candling  : Peneropongan telur pada hari ke 6-7, hari ke 13-14 dan hari ke 17 untuk melihat embrio anak ayam.
  2. Incubator  : Mesin tetas.
  3. Setter  : Mesintetas yang digunakan khusus untuk pengeraman telur selama 17 hari
  4. Hatcher  : Mesin tetas yang digunakan khusus untuk penetasan telur yaitu hari ke 17 – 21.
  5. Index telur  : Perbandingan sumbu lebar telur dengan sumbu panjang telur dikalikan 100%.
  6. Regulator  : Alat pengatur suhu pada incubator yang kerjannya secara otomatis.
  7. Kwalitas tetas  : Adalah perbandingan jumlah telur yang dapat menetas dengan jumlah telur yang dimasukkan kali 100 persen atau :

                                       Telur yang menetas  x 100 %

                              Jumlah (telur fertil – infertil)

Operasional

 

Proses penetasan telur ayam (3 minggu) merupakan perkembangan germ secara microscopis berubah menjadi anak ayam yang mampu berjalan, makan dan menunjukkan ekspresi dengan suara dan geraknya.  Oleh sebab itu pelaksanaan penetasan harus dilakukan secara baik dan teratur sesuai dengan kebutuhan perkembangan tersebut.

Langkah-langkah yang perlu diperhatikan dalam operasional penetasan adalah:

 

Seleksi telur tetas

Untuk ini dibutuhkan telur yang telah ditunasi (fertil) dan mampu menetas menjadi anak ayam yang hidup dan bertumbuh sesuai dengan tujuan pemeliharaannya.  Telur tetas tersebut harus:

  1. Berasal dari ayam betina (induk) yang dipelihara dengan ayam jantan (breeder farm).
  2. Induk telah bertelur selama 2-3 bulan dimana telur yang dihasilkan sudah seragam.
  3. Besar, bentuk dan warna telur harus seragam sesuai dengan sifat induk (genetis).
  4. Kerabang harus kuat.
  5. Berat telur kurang lebih 56,5 gram (Leghorn), 60 gram (RIR) atau 40 gram (Kampung).
  6. Bebas dari cacat telur.
  7. Index telur yang baik adalah 74%.

 

Perawatan telur tetas

 

  1. Pengumpulan telur dilakukan 3 kali sehari dalam kandang untuk mencegah telur jangan kotor dan terpengaruh oleh suhu udara yang ekstrim (panas dan dingin).
  2. Kebersihan telur : Telur yang bersih dari kandang sangat baik menetasnya. Apabila telur kotor bakteri atau organisme yang lain dapat masuk melalui pori-pori dan merusak isi telur.  Telur dapat dibersihkan dengan :

-          air panas yang mengandung sanitizer dengan suhu 120-130 derajat F (kurang lebih 60 derajat celcius)

-          Alkohol 70%

-          Dll.

  1. Penyimpangan telur tetas : telur tetas harus disimpan dengan baik agar tidak mengalami kerusakan selama penyimpanan.
  1. Penyimpanan telur  yang terlalu lama pada suhu dibawah 40 derajat F harus dicegah.
  2. Penyimpanan telur tetas pada suhu diatas 60 derajat F tidak baik bila terlalu lama.
  3. temperatur yang paling baik untuk penyimpanan telur tetas adalah antara 50 – 60 derajat F. Dalam jangka waktu yang relatif lama.
  4. Batas penyimpanan telur tetas adalah 10 hari dan maksimum 2 minggu. Tetapi 7 hari atau kurang dari 7 hari adalah yang paling baik.  Pada saat telur dikeluarkan (oviposition) embryo telah mencapai stadium istirahat (blastoderm).
  5. Kelembaban yang tinggi lebih baik dari yang rendah dan kelembaban relatif yang baik untuk penyimpanan adalah 60%, dan tidak boleh lebih dari 80%.
  6. Bila penyimpanan lebih dari 1 minggu telur harus diputar dan ujung yang tumpul selalu pada bagian atas.
  7. Tempat penyimpanan telur sebaiknya harus terlindung dari pengaruh panas dan angin langsung

 

Pengujian Thermometer

 

Thermometer yang digunakan dalam incubator harus diuji dulu dengan baik, agar suhu yang ditunjukkan tepat dan sesuai dengan kebutuhan.

 

Mempersiapkan Incubator

 

Sesudah incubator dibersihkan perlu dilakukan sanitasi dengan menggunakan 2-3 % larutan creosol (desinfectan) yang dicampur dengan air panas.  Semua alatalat pemanas harus dibersihkan agar panas yang diberikan maksimum.  Apabila sudah dibersihkan dilakukan pemanasan pendahuluan sampai suhu konstan 102-103 derajat F. Dan regulator diatur sesuai dengan temperatur tersebut.  Perlakuan ini dilakukan kurang lebih 24 jam.

 

Memasukan telur tetas

 

Telur tetas disusun dalam egg tray (kotak telur) dengan ujung tumpul sebelah atas, sesudah diberi tanda (+) dan (-) dengan pensil untuk mempermudah pemutaran. Letak telur dalam egg tray sebaiknya membentuk sudut 60 derajat.

 

Mempertahankan suhu yang dibutuhkan

 

Agar suhu pada kondisi yang diinginkan selama temperatur maka regulator harus diatur tepat dengan temperatur yang dibutuhkan.  Apabila regulator tidak bekerja dengan baik maka perlu diperhatikan penyebabnya. Misalnya: adanya kebocoran atau regulator yang rusak.  Temperatur yang dibutuhkan adalah antara 100 – 103 derajat F.

 

Mempertahankan kelembaban relatif yang dibutuhkan

 

Kelembaban relatif adalah jumlah uap air dalam udara kering (%).  Kelembaban yang dibutuhkan selama penetasan adalah antara 55% - 80%. Sampai hari ke 18, dan pada saat 3 hari terakhir kelembaban perlu diuraikan kurang lebih 5%.  Bila yang digunakan bukan hygrometer (alat pengukur kelembaban) maka perlu diperhatikan perbedaan sukering dan basah dalam incubator.  Pembacaan thermometer kering 102 derajat F maka thermometer basah  harus berada diantara 88-94 derajat F  untuk mendapatkan kelembaban relatif tersebut. Bila suhu pada thermometer basah kurang dari 88 derajat F berarti kelembaban kecil dan air yang ada dalam pengatur kelembaban perlu ditambahkan.

Catatan:  1)  pemeriksaan temperatur dan kelembaban dilakukan paling sedikit 3 kali sehari selama penetasan (3 minggu)., 2) Incubator tidak boleh dibuka (bila tidak perlu) pada hari ke 3 pertama dan 3 hari terakhir.

 

Pemutaran telur

 

Pemutaran telur mulai dilakukan pada hari ke 3 atau ke 4.  Pemutaran telur dilakukan paling sedikit 3 kali sehari.  Makin sering diputar makin baik hasil penetasannya.  Sesudah hari ke 18 telur tidak boleh diputar lagi.  Pemutaran telur dilakukan secara horizontal yang berarti ujung tumpul selalu pada bagian atas.  Tujuannya adalah untuk menyeragamkan suhu pada permukaan telur dan mencegah terjadinya pelekatan embryo pada membran shell/shell.

 

Pengaturan ventilasi

 

Ventilasi pada mesin tetas sangat penting diperhatikan agar dalam mesin tetas pergantian udara segar terus berlangsung.  Selama penentasan embryo membutuhkan ¼ cubic foot O2 dan menghasilkan ¼ cubic foot CO2.  Jumlah ini lebih sedikit dibutuhkan pada hari-hari pertama dan secara berangsur-angsur kebutuhan bertambah.  Anak ayam sangat peka terhadap CO2 yang berlebihan.  Kebutuhan CO2 dalam penetasan tidak boleh kurang dari 21%.  Ventilasi mulai dibuka pada hari ke 3  ---à ¼ bagian, hari ke 4 -à ½ bagian, hari ke 5 -à ¾  bagian, dan pada hari ke 6 semua ventilasi sudah terbuka.

 

 

 

 

Candling Egg (Peneropongan telur)

 

Embrio yang mati akan menghasilkan gas yang merugikan dalam mesin tetas, terutama pada hari-hari saat akan menetas.

Penoropongan I:  dilakukan pada hari 6 dan 7 untuk melihat embrio yang berkembang dan yang tidak berkembang (kosong) harus dikeluarkan.

 

Telur fertil

 

Penoropongan II : dilakukan pada hari ke 13 dan 14 untuk melihat embryo yang berkembang dan embryo yang mati atau kosong dikeluarkan.

 
   

 

 

Telur kosong

 

 

Penoropongan III : dilakukan pada hari ke 17 dan 18 untuk melihat embryo yang mati dan harus segera dikeluarkan.

 
   

 

 

Embryo mati

 

 

 

Mengeluarkan anak ayam yang baru menetas

 

Anak ayam akan menetas pada hari ke 21 dan dapat dikeluarkan dari mesin tetas apabila anak ayam sudah kering  (bulu-bulu tidak  melekat) .  Anak ayam tersebut langsung ditempatkan pada tempat yang hangat (suhu kamar 65 – 70 derajat F.

 

Membersihkan mesin tetas

 

Sesudah semua kotoran dikeluarkan mesin tetas harus segera dibersihkan agar dalam mesin tetas tidak tumbuh micro organisme yang dapat mencemari penetasan berikutnya.

Cara membersihakan :

  1. keluarkan semua kotoran sisa penetasan dan bersihkan dengan menggunakan air hangat (60 derajat celcius).
  2. Fumigasi/desinfektasi :  Fumigasi dan desinfectasi dilakukan sesudah incubator bersih dengan menggunakan Kalium Permanganat Krystal yang ditambah dengan formalin.  Pintu harus tertutup selama 30 menit.

 

Penggunaan Chemicalian adalah sbb:

Volume ruangan

Jumlah Formalin

Jumlah KmnO4

1 m3

1 sendok teh

0,5 sendok teh

2 m3

2 sendok teh

1 sendok teh

5 m3

5 sendok teh

1,5 sendok teh

10 m3

10 sendok teh

3 sendok teh

 

 

Sexing anak ayam

 

Anak ayam yang baru menetas tidak perlu diberi makan dan minum sampai umur 3 hari, karena persediaan makanan dari Yolk masih ada.  Sexing anak ayam harus dilakukan pada umur se awal mungkin agar pengenalannya lebih mudah.  Cara sexing yang dapat dilakukan adalah:

  1. Vent Sexing :  dengan melihat tonjolan papila (alat kelamin yang rudimenter) pada anak ayam jantan.
  2. Auto Sexing : bila induk ayam memiliki sifat gen yang sexlinked misalnya kecepatan pertumbuhan bulu, warna bulu dll.  Maka anak ayam jantan dan betina dapat langsung dibedakan.
  3. Chick testing: dengan melihat chick tester untuk melihat alat reproduksi ayam jantan dan betina.

 

Diskusi

 

1.  Dari hasil pekerjaan saudara berapa % diperoleh :

    a. fertilitas

    b. Daya tetas

    c. Mortalitas

        dan jelaskan apa sebabnya !

2.  Apa pengaruh temperatur dan kelembaban dan ventilasi terhadap daya tetas.

3. Apa yang dimaksud dengan periode kritis dan apa penyebabnya?

4.  Mengapa sexing dilakukan pada umur se awal mungkin pada ayam type telur?

5.  Uraikan hasil penetasan saudara serta pembahasan hasil penetasan tersebut !

 

Sumber : Penanggung Jawab Departement Mata Kuliah Ilmu Ternak Unggas Non_Ruminansia (ITUNR) Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga - Surabaya.

 

 

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :