Teguh Bagus of Veterinary Medicine site v.2

Excellence with Morality

__Sertifikasi dan Prestasi__

    Standart ISO 9001:2008 Kepada Universitas Airlangga oleh British Certification International

_Berbagi tak pernah Rugi_

    Teguh Bagus of Veterinary Medicine site v.2

    ____Hakikat Manusia____

    .: Barang siapa mengenal dirinya, maka ia akan mengenal TuhanNya. Seperti bahasan kita yaitu Awwal- uddin Ma'rifatullah adalah... :. more

    ∞ Akun Facebook & Twitter Kami ∞

..:: Selamat Buat para Pemenang lomba web & blog Mahasiswa Universitas Airlangga Tahun 2015; 1.Mei Budi Utami [FST'12] | 2.Mita Erna Wati [FK'12] | 3.Teguh Bagus Pribadi [FKH'12] | 4.M. Roihan Hanafi [FISIP'12] | 5.Ari Zulaicha [FISIP'12] | 6. Muziburrahman [FPK'14] | => Terimakasih atas kunjungan Anda, jangan lupa kalau mau copy/paste harap cantumkan sumbernya, by : Teguh Bagus Pribadi, http://teguhbaguspribadi-fkh12.web.unair.ac.id, dan Blog ini DIPERBAHARUI sebulan 4x karena kesibukan Perkuliahan ::..

Penjelasan singkat tentang Antikonvulsi/anti-Epilepsi

diposting oleh teguhbaguspribadi-fkh12 pada 27 December 2013
di Materi Kuliah Semester 3 - 0 komentar

PENDAHULUAN



 Pada kondisi normal sinyal-sinyal elektrik yang berjalan di sepanjang sel-sel syaraf di otak secara normal terkoordinir dengan baik dalam menghasilkan gerakan-gerakan tertentu

 Pada keadaan tertentu sinyal-sinyal elektrik tersebut dapat secara tiba-tiba melonjak dan tak terkontrol lagi sehingga muncul gerakan-gerakan ritmis yang tak terkendali bahkan hingga kejang (konvulsi)

 Penyebab terbesar terjadinya kejang adalah suatu penyakit yang dinamakan EPILEPSI

 Dikatakan EPILEPSI bila kejang terjadi secara berkala dan dalam jangka waktu yang lama

 Sekitar 20 – 40 juta orang menderita epilepsi, umumnya dialami oleh anak-anak sebelum masa pubertas

 Obat-obat antikonvulsi bekerja menstabilkan sinyal-sinyal listrik di otak

EPILEPSI

Epilepsi (Yunani = Serangan tiba-tiba),Hughlings Jackson, adalah penemu pertama yang mendefinisikan konsep modern tentang epilepsi sejak lebih dari 100 tahun yang lalu. Ia mendefinisikan epilepsi sebagai suatu eposode gangguan sistem syaraf dimana terjadi kenaikan yang tiba-tiba pada potensial listrik di sekelompok neuron di otak.Definisi saat ini “Gangguan syaraf yang timbul secara tiba-tiba dan berkala akibat aksi serentak dan mendadak dari sekelompok besar sel-sel syaraf di otak . Aksi ini disertai dengan pelepasan muatan listrik yang berlebihan dari neuron”.Serangan kejang (konvulsi) pada penderita epilepsi dapat dipicu oleh keadaan hipoglikemi, eclamsia, meningitis, encefalitis, trauma otak, atau adanya tumor di otak. Beberapa obat seperti klorpromazin, alkohol, dan MAO inhibitor dilaporkan juga memiliki ESO demikian.

KLASIFIKASI EFILEPSI

Klasifikasi epilepsi menentukan pilihan terapi (obat yang akan digunakan)

Ada 2 kelompok epilepsi : parsial dan general

Parsial jika kejang yang muncul hanya terlokalisasi pada sebagian tubuh

General jika menyeluruh

Kejang Parsial dapat menjadi general jika berlangsung terus menerus, klasifikasi epilepsi dikeluarkan oleh Commission on Classification and Terminology of the International League against Epilepsy.Diagnosa dilihat dari gejala fisik dan gambaran electroencephalogram (EEG).

PATOFISIOLOGI EFILEFSI

Banyak neurotransmitter asam amino yang telah diyakini berimplikasi pada serangan epilepsi, diantaranya GABA dan Glutamat, keduanya menjadi fokus kerja obat-obat anti kejang (anti epilepsi)

GABA

Konsentrasi neurotransmitter GABA ternyata ditemukan menurun pada penderita epilepsi kronis dan anak-anak yang mendapat serangan kejang akibat demam (febrile seizure) . Obat-obat yang menurunkan aktivitas GABA menunjukkan efek epileptik (epileptogenic), sementra obat yang menaikkan aktivitasnya justru secara umum memiliki efek anti kejang (anticonvulsants)

GLUTAMAT

Konsentrasi neurotransmitter Glutamat menurun pada penderita epilepsi

Penelitian terbaru juga menunjukkan bahwa kadar neurotransmitter Ach meningkat pada penderita epilepsi, ini sejalan dengan temuan bahwa obat anticholinesterase (penghambat enzim pemetabolisme Ach) dapat menimbulkan kejang pada sebagian hewan uji dan manusia, sehingga diyakini aktivitas sistem kolinergik otak yang berlebihan dapat memacu terkjadinya serangan epilepsi. Kandidat lain dari neurotransmitter yang diduga menjadi penyebab epilepsi adalah adenosine dan enkephalins, akan tetapi data klinisnya masih sangat terbatas.

KLASIFIKASI ANTI-EFILEPSI

 Golongan Barbiturat (phenobarbital dan primidone)

 Golongan hydantoin (diphenylhydantoin / phenytoin)

 Golongan dibenzazepines (carbamazepine)

 Golongan oxazolidinediones (trimethadione / troxidone)

 Golongan succinimides (ethosuximide)

 Golongan benzodiazepines (diazepam, clobazam and clonazepam)

 Golongan sulphonamides (acetazolamide and sulthiame)

 Golongan asam lemak rantai pendek (sodium valproate)

MEKANISME KERJA OBAT

Aksi obat-obat antikonvulsi pada level selular sangat kompleks, meliputi mekanisme inhibitori, stabilisasi membran, dan menurunkan transmisi eksitatori (aktivasi) . Dari semua kemunkinan mekanisme tersebut yang saai ini dapat diterima dan dipahami dengan baik ialah :

1. Obat antikonvulsi meningkatkan aksi GABAergik

2. Obat antikonvulsi menurunkan aksi neurotransmitter glutamat (untuk stabilisasi membran)

Yang bekerja pada GABAergik

 Benzodiazepines dan phenobarbital meningkatkan aktivasi reseptor GABA-A melalui aksi menempel pada reseptor GABA-A, sehingga kanal ion Cl terbuka, masuknya ion Cl menyebabkan depolarisasi muatan di neuron

 Progabide adalah GABA-mimetikis langsung

 Tiagabin memblokade aksi re-uptake GABA

 Vigabatrin menghambat katabolisme GABA

 Gabapentin meningkatkan sintesis GABA dan membuka kanal ion K

Yang bekerja pada kanal ion Na/Ca dan mempengaruhi Glutamat

 Neuron excitatori (aktivasi) mentransmisikan Glutamate

 Glutamat menempel pada reseptornya sehingga membuka kanal ion excitatori yaitu ligand-gate ion channel (reseptor terikat kanal ion Na+ and Ca2+)

 Aksi obat antikovulsi pada level ini ialah menghambat pelepasan Glutamat, dan memblokade reseptornya

 Lamotrigine,phenytoin, dan phenobarbital menghambat pelepasan Glutamat dari neuron post-sinaptiknya

 Felbamate adalah antagonis Glutamat

Lainnya

 Carbamazepine, valproate, dan phenytoin meningkatkan inaktivasi voltage-gated Na+ and Ca2+ channels (kanal ion-voltase) dan menurunkan penyebaran elektrik aktivasi yang berjalan di sepanjang neuron

 Ethosuximide memblokade kanal ion Ca2+ (hanya efektif padaserangan kejang jenis absence seizure)

EFEK SAMPING OBAT

 Seluruh obat antikonvulsi / antiepileptics memiliki efek samping yang mirip, hanya saja masing-masing memiliki tingkatan efek yang berbeda

 Mengantuk, sukar berkonsentrasi, dan lambatnya gerakan merupakan efek samping yang umum

 Penggunaan Phenobarbital, primidone, dan phenytoin dapat menimbulkan osteomalacia (osteo = tulang, malacia = lemah / rapuh, dapat dicegah dengan pemberian suplemen vitamin D), anemia megaloblastic (dapat dicegah dengan pemberian suplemen folate dan B12). During treatment with

 Phenytoin, dapat menyebabkan gingival hyperplasia (pertumbuhan gusi melebihi gigi)

 Valproic acid memiliki efek sedasi (ngantuk) paling rendah dibandingkan dengan antikonvulsi yang lain. Efek samping yang umum ditemui ialah tremor, gangguan pencernakan, kenaikan berat badan, kerontokan rambut, dan hepatotoxic (racun bagi hepar / liver)

 Carbamazepine memiliki efek samping yang umum ialah gangguan pencernakan dan skin rashe. Memiliki efek anti-diuretika

 Valproate, carbamazepine, dan antikonvulsan lain memiliki potensi efek teratogenik (merusak janin), penggunaan pada ibu hamil harus dilakukan pertimbangan ketat

ZAT-ZAT TERSENDIRI

PHENOBARBITAL

 Mekanisme aksi : Meningkatkan efek GABAergik dan menginaktivasi kanal ion Ca++

 Absorbsi sempurna pada saluran cerna, dimetabolisme kuat oleh hepar

 Memiliki efek induksi enzim hepatik pada sub famili CYP, obat-obat yang diberikan bersamaan dengan phenobarbital dan dimetabolisme oleh enzim CYP menjadi kurang efektif (misalnya pil KB)

 Efek samping utama adalah mengantuk, dapat menimbulkan Hypoprothrombinemia dengan pendarahan (hemorrhage) pada bayi yang dilahirkan oleh ibu yang mendapat phenobarbital ketika hamil (vit. K digunakan untuk pencegahan dan terapi), ESO lain ialah, megaloblastic anemia (dapat dicegah dengan pemberian folate), osteomalacia (dapat dicegah dengan pemberian vit. D dosis tinggi selama terapi)

PHENYTOIN

 Golongan hydantoin

 Phenytoin was first synthesized in 1908 by Biltz

 Mekanisme aksi : menstabilkan membran neuron dari depolarisasi muatan dengan menurunkan masuknya ion Na+ dan Ca++ serta menurunkan penyebaran elektrik aktivasi yang berjalan di sepanjang neuron

 Phenytoin 90% berikatan kuat dengan protein serum (terutama albumin), beberapa obat seperti warfarin (anti pembekuan darah) dapat didesak ikatannya dengan protein sehingga kadar obat bebasnya meningkat akibatnya dapat terjadi pendarahan. Hati-hati pada pasien hypoalbuminemia karena kadar phenytoin bebas meningkat

 Memiliki efek induksi enzim hepatik seperti phenobarbital

 ESO : Gingival hyperplasia, Hyperglycemia dan glycosuria (phenytoin menghambat sekresi insulin), Osteomalacia dengan hypocalcemia dan meningkatnya aktivitas enzim alkaline phosphatase (memetabolisme vit. D menjadi kacau dan absorbsi kalsium di pencernakan menurun, terapinya tidak cukup dengan vit. D saja). Phenytoin juga meningkatkan metabolisme vit. K (resiko pendarahan meningkat)

CARBAMAZEPIN

 Carbamazepine diperkenalkan oleh Blom di awal tahun 1960-an sebagai terapi tambahan pada nyeri trigeminal, dan mulai diperkenalkan sebagai antikonvulsi di USA pada tahun 1974

 Mekanisme aksi obat sama seperti phenytoin

 Memiliki efek induksi enzim hepatik seperti phenobarbital dan phenytoin

 Metabolismenya dihambat oleh obat-obat propoxyphene, erythromycin, cimetidine, fluoxetine, and isoniazid

 ESO utama adalah depresi pernapasan, drowsiness, vertigo, dan kaburnya pengelihatan. Carbamazepin juga memiliki efek retensi air hati-hati pada pasien lensia yang menderita gagal jantung kongesti. Selain itu karena efek hepatotoxic yang dimiliknya maka penggunaan kronis (jangka lama) harus disertai pemeriksaan fungsi hepar

ETHOSUXIMIDE

 Mekanisme aksi : Ethosuximide memblokade kanal ion Ca2+ di neuron thalamus (thalamic neurons)

 Hanya dapat digunakan dalam terapi absence seizure

 ESO utama berkaitan dengan saluran cerna (nausea, vomiting, and anorexia), efek pada SSP (drowsiness, lethargy, euphoria, dizziness, headache), gejala seperti Parkinson, ketidakmampuan konsentrasi, urtikaria dan reaksi alergi kulit yang parah seperti Stevens-Johnson syndrome, juga kelainan hematology

ASAM VALPORAT

 Tidak seperti antikonvulsi yang lain, asam valproat dapat digunakan pada segala jenis serangan epilepsi

 Mekanisme aksinya sama seperti pada phenytoin and ethosuximide

 Meski tidak berefek langsung pada reseptor GABA, pada beberapa penelitian menunjukkan valproat dapat menghambat metabolisme GABA oleh enzim GABA transaminase and succinic semialdehyde dehydrogenase, serta menginduksi kerja enzim pen-sintesis GABA yaitu glutamic acid decarboxylase

 Asam Valproate berikatan kuat dengan albumin sehingga dapat mendesak ikatan beberapa obat dengan albumin seperti phenytoin dan warfarin

 Asam Valproat juga menghambat metabolisme obat-obat yang dimetabolisme oleh enzim hepatik seperti phenytoin, phenobarbital, lorazepam dan lamotrigine sehingga kombinasi obat harus hati-hati jika ingin diberikan

 Valproic acid (asam valproat) dapat menimbulkan efek teratogenik

BENZODEAZEPINE

 Kegunaan utama adalah sebagai sedative dan anti-anxietas, Diazepam dapat digunakan pada status epileptikus (keadaan kejang general (tonic-clonic) yang lama), turunan lainnya seperti Clonazepam digunakan pada absence dan myoclonic seizure

 Mekanisme aksi : pada dosis kecil dapat meningkatkan aksi GABA, pada dosis besar efeknya meliputi efek pada phenytoin, carbamazepine, dan asam valproate

 ESO obat yang utama adalah mengantuk, akan tetapi paling aman bila dibandingkan dengan antikonvulsi lainnya

GABAPENTIN DAN LAMOTRIGINE

 Gabapentin, mekanisme pastinya belum diketahui menyeluruh, tetapi analog dengan GABA

 Tidak berikatan dengan protein serum, diekresikan utuh di urin

 Lamotrigine memiliki mekanisme mirip phenytoin dan carbamazepine, selain itu menurunkan potensial aksi neuron Glutamat (dengan memblokade kanal ion Na+) sehingga pelepasan glutamat di hambat

(SUMBER : Catatan Kuliah Farmakologi)

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :